Indonesia Sumbang Lulusan Terbanyak eFounders Fellowship Alibaba Business School

DEPOKPOS – 16 pendiri startup dari Indonesia, menuntaskan program eFounders Fellowship angkatan ke-6 yang digelar Alibaba Business School dan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) di kantor pusat Alibaba Group di Hangzhou, Tiongkok, tanggal 2-12 Juni 2019.

Indonesia menjadi negara dengan jumlah perwakilan tertinggi di angkatan ke-6 dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Perwakilan Indonesia mayoritas berasal dari industri e-commerce: Aditya Minarto (Ralali.com), Casper Sermsuksan (Kulina.id), Chrisanti Indiana (Sociolla.com), Frans Yuwono (Asiacommerce.id), Rico Satria Chandra (Plazakamera.com), Jeff Budiman (20Fit/The Fit Company), Johannes Ardianto (Lemonilo). Ada tiga founders dari industri fintech: Ananto Wibisono (Alterra), Suwandi Soh (Mekari), Vikra Ijas (Kitabisa.com); satu dari logistik: Andree Susanto (Waresix); empat dari industri big data: Archie Carlson (Stickearn), Benz Budiman (Pomona), Irzan Raditya (Kata.ai), Winzendy Tedja (Yuna & Co); dan satu peserta dari industri pariwisata: Ali Sadikin (Marlin Booking).

Mereka dan para peserta dari negara lainnya mengikuti pelatihan 12 hari menggunakan ekosistem Alibaba sebagai model studi untuk mendapatkan wawasan tentang faktor-faktor kesuksesan dan tantangan utama dari kisah pertumbuhan Alibaba Group. Adanya sesi kuliah dan kunjungan lapangan memberi mereka pemahaman yang lebih dalam tentang ekosistem ekonomi digital di Tiongkok dan bagaimana mereka dapat menerapkan ide-ide ini ke dalam bisnis mereka sendiri, sehingga memungkinkan dampak yang lebih besar di negara asal mereka. Dengan mensinergikan rencana bisnis mereka terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG), para pengusaha juga bisa mengembangkan rasa tanggung jawab sosial.

Menurut Brian Wong, setelah lulus, program ini dilanjutkan dengan komitmen selama dua tahun bagi para eFounders fellows untuk menerapkan pembelajaran ini dengan menciptakan dampak positif bagi komunitas mereka. Pada saat yang sama, mereka juga menjadi bagian dari komunitas global yang saling mendukung, menguatkan dan menjajaki berbagai kolaborasi regional dan global.

“Program ini adalah bagian dari upaya kami agar proses digitalisasi bisa mendukung pembangunan negara. Setelah menyelesaikan program ini, para peserta akan menciptakan lingkungan e-commerce yang inklusif. Di tingkat nasional, mereka bisa berperan sebagai inisiator yang memasukkan poin-poin SDG dalam rencana bisnis mereka, dan menyebarkan ilmu-ilmu yang mereka pelajari sebagai eFounders Fellows,” kata Arlette Verploegh, Koordinator Program eFounders Fellowship di UNCTAD.

Chrisanti Indiana, salah satu pendiri dan Chief Marketing Officer Sociolla, sangat terinspirasi dengan kesempatan belajar dan melihat langsung betapa hasil digitalisasi dalam skala besar dapat mengubah kehidupan jutaan orang. “Alibaba dan ekosistemnya adalah bukti bahwa teknologi digital dapat dan harus mempromosikan inklusivitas. Satu pembelajaran penting yang saya peroleh dari program ini adalah para pengusaha memiliki tanggung jawab sosial untuk membangun dan mengembangkan komunitas, tidak hanya bisnisnya. Hal ini bisa dilakukan dengan membangun ekosistem yang bermanfaat bagi seluruh jaringan dan para pemangku kepentingan ekosistem tersebut,” katanya.

Hal senada diungkapkan Vikra Ijas, salah satu pendiri situs crowdfunding sosial Kitabisa.com, memberikan apresiasi atas kesempatannya bergabung dalam program ini. “Saya belajar bahwa pelaku bisnis seperti Alibaba tidak hanya bertanggung jawab untuk menghasilkan inovasi, tetapi juga memiliki peran besar dalam mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif kepada masyarakat luas. Transformasi digital yang didorong oleh perusahaan-perusahaan inovatif seperti Alibaba harus memberi manfaat bagi publik dari berbagai latar belakang, mulai dari UKM, kelompok berpenghasilan rendah, hingga orang-orang yang termarjinalisasi,” katanya. (PR)

Komentar

Berita lainnya