Sosok Dibalik Kegembiraan Ramadan

Ramadan adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam di dunia. Meskipun harus menahan lapar dan dahaga dikala fajar mulai terbit hingga matahari terbenam, selama satu bulan, semua orang menyambutnya dengan antusias. Begitu pula dengan keluargaku, kami sangat gembira dengan datangnya bulan suci ini. Di balik antusias dan kegembiraan yang dirasakan, ada satu sosok yang bagiku sangat berperan penting selama kami melaksanakan bulan yang penuh berkah ini. Mungkin sosok ini juga sangat berperan di setiap keluarga.

Sosok yang menurtku sangat penting ini adalah wanita yang memiliki kasih dan cinta tulus. Biasanya orang mengatakan wanita ini memiliki kasih sepanjang masa, ia rela berkorban demi pasangan dan anak-anaknya. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan “Ibu”. Ibuku memiliki peran penting dalam setiap detik di hari yang kami lalui, terlebih ketika ramadan.

Ramadan tahun ini kami lewati tanpa kedua kakakku karena mereka harus bekerja di luar kota. Saat langit masih terlihat pekat dan pengeras suara masjid belum terdengar, ketika aku dan ayah masih asik menikmati mimpi sisa malam hari, ibuku sudah mulai membuka matanya dan sibuk di dapur seorang diri.

Sungguh tulus pengorbanan ibu, disaat raganya sesungguhnya lelah ia masih sempat memikirkan anaknya. Ibu tidak pernah membangunkanku untuk membantunya mempersiapkan sahur. Ibuku melakukan hal tersebut karena merasa iba melihat aku sering tidur larut malam untuk mengerjakan tugas. Di tengah rasa kantuk karena tidak memiliki tidur yang berkualitas, ibu mempersiapkan makanan sahur untuk kami.

Ibuku adalah alarm pembangun tidur keluargaku. Semua makanan sudah tersaji dengan rapih di atas meja makan setiap kubangun. Aku dan kedua kakakku memiliki jarak umur yang tidak terlalu jauh. Aku ingat ketika aku dan kedua kakakku masih kecil, kami sangat sulit untuk dibangunkan saat sahur. Akan ada berbagai drama yang terjadi, biasanya kami akan menangis saat ibu membangunkan. Saat itu menurutku ibu benar-benar sabar dalam menghadapi anak-anaknya.

Saat azan subuh berkumandang dari masjid-masjid dekat rumah, ibu mulai mempersiapkan diri untuk melaksanakan kegiatannya selama satu hari. Setelah salat subuh, saat langit masih berwarna biru pekat, ibu pergi ke toko sayur dekat rumah untuk membeli kebutuhan berbuka puasa keluarga kami.

Selain berjuang mengurus keluarga, ibuku adalah seorang wanita karier. Saat jadwal masuk kerja pagi hari, biasanya ibu berangkat menuju kantor setelah urusan rumah selesai dan baru kembali ke rumah pukul tiga sore. Ibuku memiliki sedikit waktu istirahat setelah pulang dari kamtor untuk selanjutnya melaksanakan kegiatan di rumah.

Berbuka puasa adalah saat yang ditunggu-tunggu semua umat muslim yang menjalankan puasa. Waktu tersebut adalah saat kami bisa melepas dahaga dan menikmati berbagai sajian setelah lelah berpuasa. Biasanya jauh sebelum waktu berbuka puasa tiba, ibu kembali sibuk di dapur. Ia akan memasak berbagai macam makanan kesukaan kami.
Ibu lebih suka melakukan semua kegiatan rumah seorang diri. Ketika aku datang untuk menawarkan bantuan, ibu selalu menolaknya. Sambil bergurau ibu mengatakan kalau aku bukan akan membantunya tetapi akan mengganggunya. Aku memang tidak bisa membantu banyak dalam hal memasak, sehingga aku memutuskan untuk membantu ibu di bidang lain, misalnya terkadang aku membantu ibu mencuci baju, mengantar dan menemani ke mana pun ibu ingin bepergian karena ibu tidak bisa mengendarai sepeda motor.

Bulan ramadan adalah bulan penuh berkah. Pada bulan tersebutlah umat Islam berlomba-lomba mendapatkan pahala yang banyak. Kegiatan ibu tidak hanya bekerja dan mengurus keluarga. Ibu juga melakukan banyak kegiatan untuk mencari keberkahan bulan suci ini. Selama ramadan ibu selalu memiliki rencana untuk khatam alquran. Di sela-sela kesibukannya, ibuku masih menyempatkan waktu untuk membaca berlembar-lembar kitab suci umat islam tersebut. Ibu juga masih menyempatkan waktu untuk mengikuti salat tarawih berjamaah di masjid. Biasanya ibu berangkat menuju masjid bersamaku.

Sepulang tarawih dan setelah selesai membaca alquran adalah waktu untuk ibuku beristirahat. Biasanya ibu menyempatkan diri untuk menonton televisi dan bercengkerama dengan aku dan ayah. Jika sudah selesai bercengkerama biasanya ibu akan pergi ke kamar untuk melepas lelah sebelum kembali melakukan aktivitas di pagi hari.

Betapa besar pengorbanan seorang ibu, mulai dari membuka mata hingga menutupnya kembali banyak waktu yang dia gunakan untuk keluarga. Aku merasa ibuku tidak memiliki rasa lelah. Perjuangan ibu untuk keluarga sangatlah besar, ia sangat berperan dalam kelancaran berjalannya ramadan di keluargaku. Ia bisa membagi waktu untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah maupun kantor. Ibu juga masih menyempatkan waktu untuk mencari keberkahan ramadan. Ibuku adalah contoh yang baik untuk masa depanku dalam menggurus keluarga. Aku berharap bisa memiliki kepedulian dan sikap perjuangan seperti ibu suatu saat nanti.

Ditulis oleh Hanna Kalyca Khoeroh, Mahasiswi PNJ

Komentar

Berita lainnya