oleh

Pentingnya Memahami Hoax Sebagai Salah Satu Akar Perpecahan

-Opini-1.310 views

Di era milineal sekarang ini perkembangan teknologi dan komunikasi sudah semakin pesat. Salah satunya yaitu penggunaan media sosial sebagai sarana untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Kemudahan dan kecepatan penyebaran informasi pada media sosial lebih cepat dibandingkan dengan media cetak. Namun seiring dengan perkembangan media sosial serangan hoax juga semakin pesat.

. Hoax merupakan informasi palsu, berita bohong atau fakta yang diplintir atau direkayasa untuk tujuan lelucon hingga serius. Menurut kamus besar bahasa indonesia, hoax diterjemahkan menjadi hoaks yang diartikan sebagai berita bohong, artinya hoax merupakan pemberitaan yang tidak berdasarkan dengan kenyataan atau kebenaran.

Penyebaran hoax di media sosial sangat pesat karena kemudahan dalam mengaksesnya. Informasi yang belum jelas apakah merupakan sebuah fakta atau bukan sangat mudah menyebar dan dapat diketahui oleh banyak orang dalam waktu yang sangat singkat. Hal ersebut tentu dapat merugikan pihak yang terkait hoax tersebut apabila masyarakat membaca berita tersebut, mempercayainya, dan memberikan asumsi yang kurang baik terhadap pihak yang terkait dengan berita hoax tersebut.

BACA JUGA:  Hijrah, Ayolah Kapan Lagi!

Menurut dewan pers, hoax memiliki beberapa ciri-ciri seperti mengakibatkan kecemasan, kebencian dan permusuhan. Sumber berita tersebut tidak jelas dan biasanya tidak terverifikasi, tidak berimbang, dan cenderung menyudutkan pihak terrtentu. Berita bermuatan fanatisme atas nama ideologi, judul dan pengantarnya profokatif, memberikan penghukuman serta menyembunyikan fakta dan data.

Dalam data Siaran Pers No. 69/HM/KOMINFO/04/2019, Sebanyak 453 hoaks, kabar bohong, berita palsu berhasil diidentifikasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika selama Maret 2019. Total jumlah hoaks yang ditemukenali oleh Kemkominfo menjadi 1.224 hoaks pada periode Agustus 2018 sampai dengan Maret 2019. Peningkatan jumlah konten hoaks sangat signifikan terjadi pada bulan Januari dan Februari 2019. Sebanyak 175 konten hoaks yang berhasil diverifikasi oleh Tim AIS Kementerian Kominfo. Angka itu naik dua kali lipat di Februari 2019 menjadi 353 konten hoaks. Angka tersebut menjadi 453 konten hoaks selama Maret 2019. Dari jumlah 453 hoaks yang diidentifikasi selama Maret 2019 tersebut, selain terkait isu politik, juga menyasar isu kesehatan, pemerintahan, hoaks berisikan fitnah terhadap individu tertentu, terkait kejahatan, isu agama, internasional, mengarah ke penipuan dan perdagangan serta isu pendidikan.

BACA JUGA:  Pembunuh dalam Sunyi itu Bernama Depresi

Dalam medium theory atau teori media menjelaskan bagaimana media berpengaruh dalam penyebaran informasi baik secara fisik maupun psikologis. Teori ini bermanfaat dalam memahami tentang berbagai media dan bagaimana masing-masing media dapat bermanfaat dalam mendistribusikan informasi. Penyebaran hoax yang semakin pesat juga didukung dengan adanya teori Used and Grafitications Model dimana teori ini mempelajari asal mula kebutuhan secara psikologis maupun sosial, yang menimbulkan harapan tertentu dari media atau sumber lain yang membawa pada terpaan media yang berlainan, dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan serta akibat-akibat lain termasuk yang tidak diinginkan. Seperti salah satu pihak yang dengan sengaja membuat berita hoax tersebut untuk kepentingan pribadi seperti meningkatkan popularitas, mengadu domba pihak lain, menjatuhkan bahkan membuat kebencian terhadap pihak lain.

BACA JUGA:  Hijrah, Ayolah Kapan Lagi!

Sebagai pengguna media sosial dalam menyikapi penyebaran hoax, pemberian bekal budaya literasi media bagi diri sendiri sangat penting agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang beredar di media sosial. Menjadi pengguna media sosial yang baik artinya jika menemukan suatu berita yang terindikasi hoax maka sudah seharusnya kita melaporkan berita tersebut. Saat menerima sebuah informasi, kita harus lebih cermat mengamati berita tersebut kemudian menyebarkannya kembali. Untuk masyarakat perlu diingatkan agar memanfaatkan media sosial secara positif dan jangan mudah termakan isu tidak benar. Peran pemerintah dalam menyikapi hoax juga sangat perlu dimana pemerintah dapat memblokir situs-situs maupun akun-akun yang teridentifikassi sebagai penyebar berita hoax.

Ditulis oleh Sulmih Yusari, Mahasiswi Universitas Negeri Makassar

Komentar

Berita lainnya