oleh

Lailatul Qadar: Pengertian, Keutamaan, Waktu Terjadi, dan Tanda-Tandanya

-Ramadhan-859 views

Pengertian Lailatul Qadar

Mengenai pengertian lailatul qadar, Quraish Shihab berpendapat bahwa kata qadar dapat memilki 3 arti, yakni:

Penetapan dan Pengaturan

Lailatul Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Penggunaan qadar sebagai ketetapan dapat dijumpai pada Qs. Ad-Dukhan: 3-5 .
“Sesungguhnya Kami meurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (Yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami, Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul.” (Qs. Ad-Dukhan: 3-5)

Kemuliaan
Malam tersebut adalah malam yang sangat mulia. Merupakan malam yang terpilih sebagai malam diturunkannya al-Qur’an. Penggunaan qadar yang merujuk pada kemuliaan dapat dijumpai dalam Qs. Al-An’am: 91.
“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: ‘Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia’. Katakanlah: ‘Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya)?’ Katakanlah:’Allah-lah (yang menurunkannya)’, kemudian (sesudah kamu meyampaikan al-Qur’an kepada mereka) , biarkanlah mereka bermain-main di dalam kesesatannya.” (Qs. Al-An’am: 91)

Sempit
Malam tersebut adalah malam yang sempit karena banyaknya jumlah malaikat yang turun ke bumi sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Qadr. Penggunaan qadar yang melambangkan kesempitan dapat dijumpai dalam QS. Ar-Ra’d: 26.
“Allah meluaskan rizki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibandingkan dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan yang (sedikit).” (QS. Ar-Ra’d: 26)

Keutamaan Lailatul Qadar

Malam yang Penuh Berkah

Lailatul qadar adalah malam yang penuh berkah. Keberkahan lailatul qadar berlipat ganda karena terletak di bulan Ramadhan (Muhammad Afiq Zahara, 2019). Allah SWT berfirman dalam QS. AL-Qadr: 1-5.
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukan kamu apa malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. AL-Qadr: 1-5)

Abu Hurairah berkata bahwa malaikat akan turun pada malam lailatul qadar dengan jumlah tak terhingga. Malaikat akan turun membawa kebaikan dan keberkahan sampai terbitnya waktu fajar (Muhammad Abduh Tuasikal, 2016).

Malam lailatul qadar itu sangat luar biasa. Malam yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai penjelasan dan pembeda anata yang hak dan yang batil. Menurut Syekh Abdul Halim mahmud, makna nuzul al-Qur’an ialah nuzulur risalatir rahmatil ‘ammah (turunnya risalah yang penuh kasih sayang secara menyeluruh/tidak pandang bulu). Yang dimaksud al-rahmah al-‘ammah adalah (kasih sayang menyeluruh) adalah al-rahmal bi kullil ‘awwalim (kasih sayang/rahmat untuk setiap alam) (Syekh Abdul Halim Mahmud dalam Muhammad Afiq Zahara, 2019).

Malam yang Lebih Baik dari 1000 Bulan

Mujahid, Qatadah, dan ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari 1000 bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar ( Ibnul Jauzi dalam Muhammad Abduh Tuasikal, 2016).

Menurut perhitungan Syeikh Abdul Halim Mahmud, seribu bulan setara dengan 83 tahun 4 bulan yang merupakan umur standar manusia. Itu artinya lailatul qadar lebih mulia dan utama dari seluruh umur manusia, baik umur manusia di zaman dulu, zaman sekarang, maupun di zaman mendatang. Syekh Abdul Halim Mahmud bahkan mengatakan lailatul qadar lebih baik dari usia zaman. Penjelasannya ini dikarenakan tidak adanya batasan pasti mengenai kenaikan dan kemuliaan lailatul qadar. Petunjuk dari Allah hanya kebaikan yang melebihi kebaikan 100 bulan (Muhammad Afiq Zahara, 2019).

Menghidupkan Lailatul Qadar dengan Shalat akan Mendapat Pengampunan Dosa

Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda yang artiya:
“Barang siapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari)

Waktu Terjadinya Lailatul Qadar

Ibnu Hajar Al Asqolani telah menyebutkan 40-an pendapat ulama dlam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pedapat yang ada adalah lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjl dari 10 malam terakhir bulan Ramadhan dan waktuya berpindah-pindah dari tahun ke tahun (Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Muhammad Abduh Tuasikal, 2016).

Nabi SAW bersabda yang artinya :
“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan” (HR. Bukhari Dan Muslim)
Nabi SAW juga bersabda yag artinya:
“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Para ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tanggal pasti terjadinya lailatul qadar adalah agar orang bersemangat untuk mencarinya. Hal ini berbeda jika lailatul qadar sudah ditentukan tanggal pastinya, justru nanti malah orang-orang akan bermalas-malasan (Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Muhammad Abduh Tuasikal, 2016).

Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar

Ibnu Hajar Al Asqolani berkata , “Ada beberapa dalil yang membicarakan tanda-tanda lailatul qadar, namun itu semua tidaklah nampak kecuali setelah malam tersebut berlalu.” (Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Muhammad Abduh Tuasikal, 2016).

Menurut Muhammad Abduh Tuasikal, diantara yang menjadi dalil perkataan beliau adalah hadits dari Ubay bin Ka’ab yang artinya:
“Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadhan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.” (HR. Muslim)
Serta hadits dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath-Thoyalisi dan Baihaqi)

Jika demikian, maka tidak perlu mencari tanda-tanda lailatul qadar karena kebanyakan tanda yang ada muncul setelah malam itu terjadi. Yang mesti dilakukan adalah memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan, niscaya akan mendapati malam penuh kemuliaan tersebut (Abu Malik Kamal dalam Muhammad Abduh Tuasikal, 2016). Allahu a’lam.

Jajang, STEI SEBI, Depok

Referensi
Tuasikal, Muhammad Abduh. 2016. Panduan Ramadhan Bekal Meraih Ramadhan Penuh Berkah. Yogyakarta: Pustaka Muslim.
Zahara, Muhammad Afiq. 2019. Ramadhan adalah Bulan Dzikir di http://www.nu.or.id/post/read/106460/keutamaan-keutamaan-lailatul-qadar (akses 28 Mei 2019)

Komentar

Berita lainnya