oleh

Gerakan Kurangi Sampah Plastik, Mahasiswa UI Gelar Aksi Simpatik di CFD

-Dunia Kampus-1.168 views

Car Free Day Sudirman Jaarta, 5 Mei 2019 – “Bumi darurat sampah!” Demikian hasil laporan World Bank Group di tahun 2016 menjerit. Setiap tahun, dunia diperkirakan menghasilkan sampah padat sebanyak 2,01 milyar ton. Jumlah tersebut sama dengan 0,11—4,54 kg sampah per orang per harinya. Sampah plastik menjadi penyumbang proporsi sampah terbanyak keempat, yakni sebanyak 12%. Angka tersebut sama dengan 252 juta ton!

Dari seluruh negara penyumbang sampah, Indonesia menempati posisi kedua sebagai kontributor terbesar sampah plastik yang hanyut di laut lepas, setelah negara Tiongkok. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melaporkan, sekitar 100.000—400.000 ton sampah plastik memasuki lautan Indonesia tiap tahunnya. Apabila masalah sampah ini tidak segera ditindaklanjuti, pada tahun 2050 diperkirakan bobot sampah plastik bisa menyaingi bobot ikan yang tinggal di lautan.

Sampah plastik menimbulkan berbagai dampak yang dapat merugikan manusia dan ekosistem, baik secara langsung maupun tidak langsung. Organisme laut seringkali keliru menyangka plastik sebagai makanan mereka lantaran adanya plastiphere, lapisan tipis mikroba yang mengeluarkan bau dan rasa seperti makanan. Fenomena ini jelas mempengaruhi kualitas biota juga organisme laut yang kita konsumsi sehari-harinya. Selain itu, plastik yang hanyut di laut juga lebih mudah terurai menjadi partikel-partikel berukuran mikro bahkan nanoplastik. Mikroplastik merupakan partikel plastik dengan ukuran kurang dari 5 mm dan tidak larut air. Meski berukuran kecil, mikroplastik ini justru menimbulkan permasalahan baru yang lebih kompleks. Ketika mikroplastik tertelan oleh organisme laut dan sampai pada santapan manusia melalui rantai makanan, mikroplastik dapat menimbulkan masalah keseimbangan dan kekebalan tubuh, peradangan jaringan, bahkan kematian sel.

BACA JUGA:  Kampus Umar Usman Telurkan Pebisnis Millennial Melalui Business Pitching

Dalam mengatasi permasalahan sampah plastik, pemerintah tidak tinggal diam. Indonesia telah menyatakan komitmennya untuk mengelola sampah pada Konferensi Laut (Ocean Conference) di tahun 2017. Pemerintah menargetkan penurunan sampah plastik dari laut Indonesia hingga 70% pada tahun 2025. Beberapa peraturan perundangan ditetapkan untuk melandasi upaya-upaya formal pengurangan sampah. Namun tentunya pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Perlu adanya partisipasi masyarakat demi menyukseskan tujuan dan program-program yang telah pemerintah canangkan untuk mengendalikan dan menanggulangi sampah plastik. Seperti cerita bangkai seekor paus sperma di Perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara yang ditemukan dengan kondisi perut penuh sampah plastik berbobot total 5,9 kg. Kematian paus ini pun menginisiasi berbagai gerakan antiplastik di kalangan masyarakat Indonesia dan dunia.

BACA JUGA:  Kampus Umar Usman Telurkan Pebisnis Millennial Melalui Business Pitching
(Foto: Fajria A)

Maka dari itu, dalam rangka menanggulangi dan mengendalikan sampah plastik, kami mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menerapkan pola hidup 5R yakni Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, dan Rot (menolak, mengurangi, menggunakan kembali, mendaur ulang, membusukkan) melalui kegiatan aksi damai. Kegiatan aksi promosi kesehatan ini diselenggarakan di car free day Sudirman, DKI Jakarta pada tanggal 5 Mei 2019. Aksi ini diisi dengan long march promosi zero plastic, penandatanganan petisi oleh masyarakat sebagai pernyataan sikap komitmen dukungan aksi, dan gerakan penyebaran informasi secara massive kepada pengunjung CFD Sudirman oleh Mahasiswa FKMUI. (Nabila Rachelyca F)

Komentar

Berita lainnya