oleh

Politik Memanas, Generasi Milenial Anti Baper Tangkal Hoax

-Opini-1.433 views

Oleh: Utari Noor Pratiwi, Mahasiswi Pendidikan Sosiologi, FKIP. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

April merupakan puncaknya bulan demokrasi. Hajatan pesta demokrasi pun sudah di depan mata. Isu-isu hoax pun semakin menjadi-jadi. Hoax merupakan berita bohong yang beredar di masyarakat. Satu hal yang mengherankan adalah, masih banyak masyarakat yang mudah termakan hoax dan isu murahan terkait pasangan Capres dan Cawapres baik nomor urut 01 ataupun 02. Sasaran hoax adalah masyarakat Indonesia terlebih lagi generasi milenial yang di perkirakan jumlahnya lebih mendominasi pada suara demokrasi nanti.

Menurut data sumber statistik BPS yang di keluarkan pada tahun 2013 jumlah milenial Indonesia diperkirakan mencapai 33% dari total penduduk Indonesia. Artinya populasi milenial pada tahun 2015 saja mencapai 83juta jiwa. Dapat di bayangkan pada tahun 2020, proporsi milenial dapat mencapai 34% yang berusia kisaran 20 hingga 40 tahun. Pada 2019 suara milenial pun mulai terlihat di tahun 2019 dengan berbagai opini dan gagasan yang diciptakannya. (iffah alwaidah, Tabayyun di era generasi milenial:321)

Isu-isu murahan bagi generasi milenial merupakan anggapan isu isu yang pada akhirnya hanya menyulut rasa baper (bawa perasaan). Rasa baper inilah yang pada akhirnya hanya akan memantik api permusuhan semata. Perlu kita perhatikan generasi milenial saat ini terlihat bijak dalam menanggapi isu-isu panas politik demokrasi. Hal ini bisa mematahkan asumsi sebelumnya yang mengatakan bahwa generasi milenial terkesan acuh dan apatis terhadap perkembangan politik di Indonesia. Hal ini bisa kita lihat melalui opini mereka yang berhasil di jadikan sebuah karya berbentuk opini publik, artikel, jurnal dan hal-hal sederhana seperti postingan blogger dan media sosial lainnya yang tak asing mereka gunakan.

BACA JUGA:  Dua Sisi Industri 4.0, Antara Peluang dan Ancaman

Banyak orang-orang dewasa yang begitu bapernya terhadap isu-isu politik dan menerimanya secara mentah-mentah tanpa mencoba mengolahnya terlebih dahulu, apakah isu-isu itu nyata atau bahkan hanya fiktif belaka. Generasi muda kini bijak menerima informasi yang mereka dapatkan. Dengan menggunakan teknologi, mereka mampu membawa dinamika politik yang sehat dan dinamis. Hal ini terllihat dari hastag postingan generasi muda, putra-putri terbaik Bangsa yang gencar menyuarakan anti golput, dan cenderung bijak menyampaikan aspirasi pada postingan media sosialnya. Contohnya saja postingan milik Runner Up Stand-up Commedy Indonesia musim ke-2 @gilbhas yang diunggah pada laman twitter miliknya bahwa “Mau pilih 1, pilih 2, golput, bebas aja. Tapi kalo lo berisik mulu maksa orang buat pilihannya sama dengan pilihan Lo, Lo katro”.

Dari hal tersebut kita tau bahwa setiap Individu memiliki hak pilihnya masing-masing. Namun tanpa di sadari, terkadang banyak juga masyarakat dewasa yang memaksa dan mengolok-olok pilihan orang lain, bahkan yang lebih parahnya hingga memaki-maki dan mengatakan kaum milenialis hanyalah anak kemarin sore yang tidak tau apa-apa tentang politik. Seharusnya mereka yang memaki memiliki rasa malu terhadap milenial yang sudah memiliki pemikiran terbuka mengenai politik demokrasi yang sedang memanas ini. Banyak kaum dewasa yang gemar mengumpat dan mengolok-olok milenial meskipun melalui debat dalam kolom komentar bahkan kolom teks whatsapp sederhana.

BACA JUGA:  Dua Sisi Industri 4.0, Antara Peluang dan Ancaman

Tanpa di sadari kegiatan tersebut adalah kegiatan yang sia-sia. Bahkan tanpa di sadari pula, kegiatan tersebut sudah di atur dalam undang-undang. Yakni UU ITE (Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik). Undang-undang tersebut mengatur mengenai ujaran kebencian. Tertulis dalam pasal 28 ayat (2) UU ITE yang berbunyi “setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang di tujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Seharusnya dewasa yang gencar menggembar-gemborkan ujaran kebencian memahami pasal yang tertera agar tidak bertindak sesuai keinginannya sendiri.

Jika milenial yang cerdas saja berhati-hati terhadap kegiatan mereka di sosial media dan mulai bijak menyampaikan aspirasinya, maka seharusnya masyarakat disemua kalangan, baik muda dewasa maupu tua saling bahu membahu dan mengingatkan serta memahami bahwa hoax dan ujaran kebencian harus di hindari, bukan malah menjadi asumsi perdebatan yang tiada arti. Perlu diingatkan pula bahwa konsekuensi dari ujaran kebencian adalah tindakan pidana selama 6 hingga 4 tahun penjara disertai denda maksimal Rp. 1 miliar jika hal ini berhasil dibuktikan dengan bukti-bukti nyata ujaran kebencian yang tiada arti tersebut.

Maka sebagai generasi milenial yang cerdas dan anti baper terhadap hoax dan ujaran kebencian sebaiknya mulai membentengi diri dengan Iman (Bersikap khunsudzon dan tabayyun), Ilmu agama dan politik yang baik agar tidak termakan tipu daya hoax dan isu-isu palsu yang merusak jiwa, memperkaya literasi-literasi agar membuka wawasan yang seluas-luasnya, bijak berbahasa agar tidak terjerat Pasal UU ITE dan Pasal ujaran kebencian, mempelajari baik-baik informasi yang diterima dan tidak begitu saja mempercayainya, mengkonfirmasi ilmu yang diterima apakah nyata ataukah kebohongan semata, bijaksana dalam menyikapi informasi dan isu-isu politik, tidak mudah tersulut emosi atas berita yang tidak benar, dan melihat permasalahan melalui berbagai sudut pandang.

BACA JUGA:  Dua Sisi Industri 4.0, Antara Peluang dan Ancaman

Melalui isu hoax dan ujaran kebencian, banyak Generasi Milenial yang merasa prihatin atas maraknya kasus ini, contohnya Generasi Milenial dari Tim Mahasiswa ITB (Institut Teknologi Bandung) yang berhasil membuat aplikasi berbasis situs untuk menangkal hoax yang bernama Hoax Analyzer yang menganalisis kebenaran dan pernyataan berdasarkan sumberfakta di internet, dan berhasil memenangkan Imagine Cup 2017 yang diadakan oleh Microsoft (dilansir melalui web itb.ac.id). hal ini juga mampu mematahkan asumsi masyarakat dewasa bahwa generasi milenial sudah berefolusi dari generasi yang acuh dan apatis menjadi generasi tanggap politik yang menghadirkan suasana baru bagi politik yang sehat.

Dengan mencermati kegiatan anti sipasi hoax dan hasil karya milenial yang membanggakan diharapkan tidak hanya generasi milenial saja yang membentengi diri terhadap hoax dan isu-isu ujaran kebencian, akan tetapi semua elemen masyarakat menyadari dan memiliki pemikiran terbuka mengenai isu-isu politik yang ada. Serta tanpa disadari nantinya hal ini menjadi kebiasaan dan membudaya. Sehingga politik yang sehat akan tercipta tanpa rasa baper dan emosional berlebihan yang pada akhirnya hanya akan menimbulkan perpecahan dan konflik yang tidak masuk akal.

Komentar

Berita lainnya