oleh

Syarifudin Yunus, Dosen Unindra Kelola Taman Bacaan Berkonsep Edutainment

-Inspirasi-1.177 views

Tidak mudah, upaya membangun tradisi baca di kalangan anak-anak. Maka diperlukan cara beda untuk mengelola taman bacaan. Karena seperti kata banyak orang, membaca seringkali dianggap membosankan.

Berangkat dari asumsi itulah, Syarifudin Yunus, dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) mengembangkan tata kelola taman bacaan masyarakat (TBM) berkonsep Edutainment, sebauh cara beda mengelola taman bacaan yang memadukan prinsip edukasi dan entertainment. Sebut saja “TBM Edutainment”.

Sejak didirikannya tahun 2017 lalu, TBM Lentera Pustaka yang terletak di Kp. Warung Loa Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Kab. Bogor, tepatnya di Kaki Gn. Salak Bogor kini selalu ramai dikunjungi tidak kurang dari 60-an anak-anak usia sekolah sebagai pembaca aktif pada tiap Rabu, Jumat, dan Minggu.

TBM Edutainment, menurut Syarifudin Yunus, dilakukan untuk mempertahankan eksistensi Taman Baca Masyarakat. Maka perlu ada cara yang kreatif dan inovatif dalam mengelola taman bacaan. Agar anak-anak tidak cepat bosan saat membaca. Karen ataman bacaan, di banyak tempat, seringkali dianggap “mati suri” alias “ada tapi tiada”. Karena animo anak-anak untuk membaca relatif rendah atau kurang mendapat respon positif dari masyarakat sekitar.

.

Cara mengelola TBM Lentera Pustaka diilhami dari Taman Siswa Ki Hadjar Dewantara. Taman bacaan harus mampu menjadi tempat yang nyaman untuk siswa, di samping menjadi sarana menanamkan akhlak yang baik untuk anak.

“TBM Lentera Pustaka, saya kembangkan taman bacaan sebagai ruang dialog antara murid dan guru. Maka, dibutuhkan kecakapan guru untuk membuat suasana nyaman dan menarik saat membaca. Guru tak perlu pintar, yang penting bisa membuat suasana nyaman,” kata Syarifudin Yunus, alumni Pendidikan Bahasa Indonesia FBS UNJ sekaligus Wasekjen IKA UNJ.

BACA JUGA:  Profil Pengusaha Muda Sukses dari Nol yang Menginspirasi Generasi Milenial

Apa itu taman bacaan berkonsep edutainment?

Intinya, taman bacaan bukan hanya menjadi tempat membaca anak-anak atau masyarakat. Tetapi, taman bacaan harus bisa menjadi “motor penggerak” aktivitas sosial dan kemasyarakatan di mana taman bacaan beroperasi. Oleh karena itu, “TBM-edutainment”, memadukan edukasi dan entertainment.

Konsep “TBM-edutainment” yang diterapkan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka pada dasarnya untuk menjadikan taman bacaan sebagai tempat yang menyenangkan dan menarik, di samping tetap membangun tradisi baca anak-anak. TBM-Edutainment bertumpu pada 8 cara beda dalam mengelola taman bacaan, yaitu:

1. Selalu “senam — salam – doa literasi” sebelum jam baca. Sebagai simbol semangat untuk membaca, anak-anak di TBM Lentera Pustaka selalu melakukan “senam literasi”, “salam literasi” dan “doa literasi” sebelum membaca.

2. Selalu ada event bulanan. Dengan menghadirkan “tamu dari luar” untuk ber-interaksi dan memotivasi anak-anak agar rajin membaca. Pengisi acara event bulanan ini bisa pemain band, guru pramuka, pesulap, pendongeng, motivator, dai cilik, pelukis, dan sebagainya. Hebatnya, “tamu dari luar” pengisi acara event bulanan ini tidak dibayar sama sekali, sebagai bentuk kepedulian sosial mereka terhadap peningkatan tradisi baca dan budaya literasi anak-anak.

3. Pesta “jajajan kampung” gratis. Setiap bulan menggelar pesta “jajanan kampung” gratis. Semua anak yang membaca bisa menikmati jajanan kampung dari pedagang keliling yang lewat sepeti cilok, bakso, cakwe untuk memotivasi agar anak-anak untuk rajin membaca.

4. Laboratorium Baca tiap hari Minggu. Sebuah aktivitas membaca di alam (sungai, kebun, jalan, dsb) sambil diajarkan “cara memahami isi bacaan” melalui teknik metaforma yang langsung dipimpin oleh pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka, Syarifudin Yunus.

BACA JUGA:  Profil Pengusaha Muda Sukses dari Nol yang Menginspirasi Generasi Milenial

5. Tersedia WiFi gratis. Setiap hari Sabtu dan Minggu, TBM Lentera Pustaka menyediakan WiFi gratis bagi anak-anak yang rajin membaca. Di samping memberi akses internet, WiFi gratis disiapkan sebagai bagian dari program untuk memberikan pengajaran “internet sehat”, di samping sebagai media belajar berbasis internet seperti nonton youtube, googling konten, dan kisah motivasi anak-anak.

6. Anugerah pembaca terbaik setiap bulan. Setiap bulan ada anugerah “pembaca terbaik bulanan” kepada anak yang rajin datang saat “jam baca” seminggu 3 kali dan mampu memahami isi bacaan dengan baik. Pembaca terbaik selalu mendapatkan “piala khusus” dari TBM Lentera Pustaka.
7. Zona baca hijau “1.000 tanaman polybag”. Untuk menciptakan tempat membaca yang lebih luas, TBM Lentera Pustaka pun melakukan inisiasi “zona baca hijau — 1.000 tanaman polybag” yang diletakkan di sepanjang jalan menuju TBM.

8. Mengusung motto #BacaBukanMaen. Sebagai wujud keseimbangan antara perilaku membaca dan bermain. Hal ini dilakukan sebagai bagian untuk membentuk budaya “cinta buku cinta bacaan” kepada anak-anak yang selama ini “jauh dari akses buku”.

“Konsep TBM-Edutainment saya gagas untuk TBM Lentera Pustaka agar mampu menjadikan TBM sebagai center dari edukasi dan entertainment untuk anak-anak. Hal ini sebagai penyesuaian terhadap era digital dan milenial. Harus ada cara yang beda dalam mengelola taman bacaan, di samping untuk menghidupkan tradisi baca dan budaya literasi anak-anak usia sekolah” kata Syarifudin, Kepala Program TBM Lentera Pustaka yang berprofesi sebagai Dosen Unindra dan tengah menempuh S3 Manajemen Pendidikan di Unpak Bogor.

BACA JUGA:  Profil Pengusaha Muda Sukses dari Nol yang Menginspirasi Generasi Milenial

Melalui konsep TBM Edutainment dalam menegakkan tradisi baca dan budaya literasi anak-anak, Syarifudin Yunus pun memperoleh penghargaan UNJ Award 2017 sebagai peraih “Pengabdian Alumni Kepada Masyarakat”, bersama 4 alumni UNJ lainnya. UNJ Award ini merupakan bukti konkret kiprah alumni UNJ dalam memberdayakan masyarakat khususnya melalui taman bacaan.

Saat ini TBM Lentera Pustaka memiliki koleksi lebih dari 3.0000 buku bacaan. Bahkan aktivitas operasional dan program edukasi-nya disponsori oleh Chubb Life, AJ Tugu Mandiri, dan Perkumpulan DPLK sebagai CSR Korporasi dalam mengembangkan budaya baca di kalangan anak-anak usia sekolah.

Maka penting hari ini, orang-orang dewasa untuk ikut berkiprah dalam menegakkan tradisi baca anak-anak. Sebagai antisipasi terhadap gempuran era digital yang kian masif, di samping mempertahankan tradisi baca. Seharusnya taman bacaan, bisa jadi momentum semua pihak untuk ikut berbuat menyiapkan masa depan anak-anak yang lebih baik dari orang tuanya. Tentu melalui buku bacaan.

Untuk itu, Syarifudin Yunus, mengajak semua pihak untuk turun tangan dan mau menjadi relawan di taman bacaan. Ubah niat baik jadi aksi nyata, untuk menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia. Saat ini pun, Syarifudin Yunus tengah mengembangkan GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA), gerakan pemberantasan buta huruf bagi ibu-ibu yang masih buta huruf di sekitar taman bacaannya.

“Karena taman bacaan, bukan hanya membangun tradisi baca anak-anak. Tapi kita sebagai orang dewasa harus berpikir untuk meninggalkan legacy atau warisan kepada sesama” ujar Syarifudin Yunus yang juga Wakil Ketua IKA FBS UNJ dan Ketua IKA BINDO UNJ.

Komentar

Berita lainnya