Matur Nuwun, Unindra

Oleh: Syarif Yunus

Matur nuwun Unindra, mungkin judul ini agak klise. Atau bisa jadi terlalu hiperbola.

Tapi satu hal yang pasti, ada banyak cara untuk mengekspresikan ucapan terima kasih. Tidak terkecuali saya. Untuk menyatakan rasa terima kasih kepada Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) sebagai kampus home base tempat saya mengabdi lebih dari 24 tahun di perguruan tinggi.

Karena hanya ini yang bisa dilakukan. Tulisan tentang ucapan terima kasih.

Karena saya hanya bisa menulis. Dan tidak bisa yang lainnya. Tidak bisa berpolitik, tidak pula mampu berkongko ria. Termasuk tidak mampu ngomongin orang lain. Saya bisa menulis saja. Itu sudah cukup. Dan untuk ber-ekspresi, siapapun dan tentang apapun. Tentu tiap orang berbeda. Bahkan semuanya boleh. Asal kita paham, ada manfaatnya atau tidak.

Saya memilih untuk menulis tentang “Matur Nuwun, Unindra”. Bukan memilih capres atau caleg yang lagi ramai dibicarakan orang banyak. Matur nuwun Unindra. Hanya ucapan sederhana tapi tulus. Kepada Universitas Indraprasta PGRI, kampus tempat saya mengabdi sebagai dosen selama lebih dari 24 tahun. Bahkan tepatnya Agustus 2019 nanti, pengabdian saya genap 25 tahun. Seperempat abad lamanya, sebuah perjalanan spesial sebagai simbol loyalitas dan dedikasi yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Matur nuwun, Unindra. Boleh diartikan, terima kasih Unindra. Begitu kira-kira maknanya.

Hatur nuhun bila dalam bahasa Sunda, matur sukseme dalam bahasa Bali. Atau muliate dalam bahasa Batak. Danke Unindra, Arigato Unindra, Xie Xie Unindra, Shukriya Unindra atau Thank you Unindra. Semua bahasa itu berbeda. Tapi maknanya sama, ekspresi ungkapan “terima kasih”. Tidak lebih, tidak kurang. Hanya “terima kasih”. Sekali lagi, terima kasih.

Kenapa harus berterima kasih?

Agak sulit saya menjawabnya. Bahkan ini bisa jadi momentum kali pertama, saya menuliskan ucapan terima kasih secara khusus untuk Unindra. Kampus yang memiliki “sejarah khusus”, kebetulan secara “di luar lingkaran” saya sangat mengikuti proses “metamorfosis-nya” sejak tahun 1994 ketika masih bernama STKIP PGRI Jakarta, saat pertama kali saya mengabdi.

Matur nuwun Unindra. Ini hanya cara berucap terima kasih.

BACA JUGA:  Be Smart, Be Beauty, Be You!

Karena pasalnya, Unindra melalui tracking perjalanan Allah SWT telah memberi kesempatan kepada saya untuk melanjutkan studi S3 Program Doktor di Prodi Manajemen Pendidikan Pascasarjana Universitas Pakuan (Unpak) Bogor. Istimewanya, semula yangber-inisiatif sendiri untuk mengambil kuliah S3. Namun rezeki tidak kemana. Karena Unindra baru melakukan kerjasama untuk studi dosen-dosennya di S3 Manajemen Unpak. Sekalipun prosesnya menyusul, alhamdulillah akhirnya saya bisa masuk dalam “rombongan belajar” dosen Unindra yang melanjutkan studi ke S3. Istimewanya lagi, karena Unindra memberikan beasiswa kepada saya. Bantuan biaya belajar dan melanjutkan studi sebesar 44%, sedangkan sisanya 46% pun tetap dibayarkan Unindra namun dipotong gaji dengan cara yang sangat ringan. Alhamdulillah wa syukrulillah. Asal tahu saja, terlalu banyak kendala dosen untuk kuliah lagi ke S3. Selain persoalan waktu, komitmen belajar, pun ada persoalan biaya. Setidaknya, beasiswa S3 yang diberikan Unindra kepada dosen-dosennya menjadi bagian yang patut di apresiasi. Sungguh patut diparesiasi.

Buat saya, matur nuwun Unindra sangat pantas dituliskan.

Karena Unidnra sebagai kampus dan lembaga pendfidikan tinggi telah menerapkan nilai-nilai yang selama ini menjadi cirinya, yaitu “peduli, mandiri, kreatif, adaptif”. Beasiswa S3 Unindra adalah bentuk kepedulian dalam meningkatkan kualtas dan mutu dosen sebagai ujung tombak keberhasilan proses belajar-mengajar di kampus.

Berbekal visi “sebagai lembaga pendidikan tinggi yang berperan aktif dalam pembangunan pendidikan nasional melalui pengembangan sumber daya manusia professional”, Unindra menegaskan kiprah dan kepeduliannya untuk mewujudkan misi dalam 1) membina dan mengembangkan: ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, tenaga akademik yang profesional dan kegiatan yang integral dalam bentuk pengabdian masyarakat, 2) menyelenggarakan berbagai program pendidikan untuk menghasilkan tenaga yang profesional dalam berbagai bidang kependidikan dan non kependidikan, dan 3) mengembangkan budaya kewirausahaan dalam menghadapi persaingan global. Untuk itu semua, beasiswa S3 untuk para dosen adalah salah satu cara untuk menggapai visi dan misi Unindra yang mulia tersebut.

Ucapan terima kasih. Bisa gampang bisa sulit.

Gampang karena memang ada momentum-nya. Sulit karena bingung waktu dan tempat yang tepat. Atau bisa juga karena gengsi sehingga semakin mustahil kata “terima kasih” terucap.

BACA JUGA:  Tanggung Jawab Pemerintah Benahi Fasilitas Umum

Padahal, sekalipun ucapan “terima kasih”, kata itu memiliki kekuatan yang sangat besar untuk mengubah keadaan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Karena terima kasih, matur nuwun adalah ungkapan syukur atas kebaikan dan kepedulian orang lain. Sebagai bentuk penghargaan kepada mereka atau orang-orang yang telah membantu kita. Ungkapan syukur, ucapan terima kasih sekalipun sederhana, sungguh menjadi “diksi” yang menular asal dinyatakan dengan ikhlas dan tulus.

Sebagai salah satu “saksi sejarah” sejak tahun 1994 hingga sekarang, mungkin kepedulian yang dimiliki Unindra bisa jadi modal dasar kemajuan yang diraih Unindra selama ini. Karena saat ini, Unindra adalah universitas PGRI dengan mahasiswa terbanyak di Indonesia, sekitar 34.800 mahasiswa aktif menempuh studi S1 maupun S2. Selain biaya yang terjangkau, Unindra pun berkomitmen besar dalam memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh mahasiswa dan terus mengoptimalkan sarana dan prasarana belajar di semua kampus yang ada, baik di Kampus Gedong Pasar Rebo atau Kampus Ranco Tanjung Barat.

Matur nuwun Unindra.

Adalah ungkapan terima kasih. Atas objektivitas dan kepedulian yang selama ini diusung Unindra sebagai perguruan tinggi. Sebuah penghargaaan atas pengabdian tanpa batas yang telah saya torehkan selama ini. Maklum, selama ini saya mengabdi tanpa neko-neko, selalu menerima apa adanya bukan ada apanya dan berkomitmen menjalankan tugas mengajar secara berkualitas dan menyenangkan. Karena belajar di manapun, memang harus menyenangkan. Dan semua itu, bisa dibuktikan melalui sejarah.

Sejarah, memang cuma masa lampau. Tapi tidak ada hari ini bila tidak ada masa lampau. Karena tiap sejarah, apapun bentuknya, pasti terikat oleh sejarah. Terikat oleh ruang dan waktu. Ruang itu bicara “tempat” terjadinya sejarah. Sedangkan waktu bicara “kapan” terjadinya sejarah itu. Unindra pun demikian adanya, telah terbukti melalui “perjalanan sejarah panjang” yang mengesankan.

Apapun yang ada hari ini pasti sudah ada “tempatnya”, ada “waktunya”. Tentu semua atas kehendak-Nya. Segala sesuatu sudah ada dalam genggamanan-Nya.

BACA JUGA:  Unindra Berikan Beasiswa Program Doktor S3 ke 90 Dosen

Sejarah memang hanya cukup untuk dikenang. Agar kita tidak “hidup” dalam sejarah. Tapi dengan sejarah, kita bisa belajar tentang adanya “perubahan” dalam hidup manusia dan adanya “kesinambungan” dalam diri manusia dan organisasinya. Tidak ada yang terjadi dan dialami hari ini, tanpa ada dukungan dari sejarah.

Maka matur nuwun Unindra. Kian menegaskan saya untuk berpegang pada sejarah masa lalu. Untuk memperbaiki diri di masa depan. Maka motivasi kuliah S3 pun demikian, tentu bukan untuk “mengalahkan orang lain” tapi untuk “memberbaiki diri sendiri”. Agar bisa maslahat bagi banyak orang, bagi umat yang membutuhkan.

Menyadari bahwa sejarah itu bersifat dinamis, bukan statis. Karena sejarah adalah kodrati. Persis seperti bumi tempat berpijak manusia pun akan mengulang sejarahnya hingga kiamat tiba nantinya. Manusia di masa tuanya pun akan mengulang sejarah masa kecilnya. Kata Heraclitus “panta rei”; yang artinya, tidak ada yang tidak berubah, semua mengalir. Semuanya akan bergerak dan berubah. Tinggal kita, mampu atau tidak, menyikapi perubahan dan tetap realistis dalam menerima keadaan.

Matur nuwun Unindra.

Semoga atas syukur dan terima kasih kepada Unindra. Saya bisa menyelesaikan studi S3 pada tahun 2021 nanti. Sambil terus berkarya untuk menulis buku yang kini sudah mencapai 25 buku, dan mengajar dengan cara yang lebih menyenangkan. Tentu berkat ikhtiar dan doa tiada henti. Termasuk saya mendoakan Unindra semakin maju, semakin memberi maslahat kepada banyak umat. Senantiasa peduli, mandiri, kreatif, dan adaptif hingga kapanpun.

Matur nuwun Unindra.

Sebagai kampus tempat bernaung, Unindra pantas untuk dikenang pantas untuk disenang. Sehingga menggapai berkah yang lebih melimpah. Asal tetap istiqomah dalam mencerdaskan anak bangsa. Karena “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS. 36:40).

Matur nuwun Unindra.

Jangan pernah jengah berkiprah, karena Unindra punya sejarah yang indah …. Tabikk #TGS #Unindra #KuliahS3 #TerimaKasihUnindra #UnindraKeren

Komentar

Berita lainnya