oleh

Filosofi Lompatan Dalam Hidup

-Opini-2.395 views

Oleh: Syarifudin Yunus

Lompatan itu artinya hasil melompat. Boleh juga dibilang perbuatan melompat atau sesuatu yang dilompati. Lompatan, pasti gak sama artinya dengan “melompat” atau “melompat-lompat” yang sebatas gerakan.

Lain lagi sama “berlompatan” yang hanya fokus pada keramaian gerakan depan. Seperti orang-orang yang saling menghina dan menjelek-jelekkan kandidat presiden yang bukan pilihannya. Mereka boleh dibilang saling berlompatan (beramai-ramai) menjelekkan orang lain. Tapi, apakah dia sendiri tidak jelek? Wallahu a’lam.

Lompatan itu soal cara mengambil keputusan lalu mampu meraih hasilnya. Karena lompatan bukan hanya simbol adanya tindakan atau gerakan. Tapi juga ikhtiar meraih hasilnya. Tanpa lompatan, ide atau gagasan sehebat apapun tidak ada nilainya sama sekali.

Presiden atau negara sekalipun percuma kalo cuma diomongin. Atau saling “berlompatan” untuk mencari kekurangan dan kesalahannya doang. Percuma dan gak ada gunanya. Lebih baik bikin “lompatan”, apa yang bisa dibikin atau dikerjakan untuk memperbaiki yang dikeluhkan, diomongin. Sederhana kan.

BACA JUGA:  Dua Sisi Industri 4.0, Antara Peluang dan Ancaman

Lompatan itu kata benda. Hasil dari perbuatan melompat. Memang, melelahkan karena kita butuh energi yang lebih banyak ketimbang berjalan atau berdiam diri. Karena lompatan memang harus menggetarkan, harus menghentak.

Siapapun selagi masih manusia. Harus berani bikin lompatan. Karena melompat yang bisa meraih hasil, bermanfaat buat orang lain itulah inti kehidupan. Karena lompatan itu harus dibuat bila mau ada perubahan pada diri sendiri sekalipun. Hukum alam yang bilang, kadang masalag itu gak bisa diselesaikan dengan langkah kecil atau melompat doang. Tapi butuh lompatan agar bisa dirasakan hasilnya.

Buat apa mengeluhkan negara, membenci presiden sementara kita tidak berbuat apapun. Buat apa kantor bahkan teman udah gak enak tapi dikeluhkan melulu. Lebih baik ambil keputusan dan bikin lompatan. Maka nantikanlah hasilnya. Lompatan bukan ocehan.

BACA JUGA:  Dua Sisi Industri 4.0, Antara Peluang dan Ancaman

Manusia itu sering takut memulai lompatan dengan berbagai alasan. Sering ragu untuk melompat ke depan. Ketakutan dan merasa tidak tahu apa yang ada di depan. Manusia memang begitu. Omong doang gede. Tapi sering dikalahkan oleh rasa takut bahkan hampir pasti tidak mau terjatuh saat melompat.

Hanya manusia. Seringkali tidak bisa membedakan yang namanya “merencanakan”, “memikirkan” dan “melakukan”. Bingung antara pengen melompat, belum melompat, atau sudah melompat. Hidupnya cuma dalam angan dan mimpi. Lantas terkaget, ternyata masih begini-begini aja. Pengen begini, pengen begitu. Tapi gak ada yang dilakonin.

Anehnya, manusia sering punta kata-kata motivasi atau tagline di profil medsos yang bunyinya “ribuan langkah (lompatan) dimulai dari lompatan yang pertama. Bila tidak berani memulai yang pertama, bagaimana mungkin ada yang kedua, ketiga…”. Manusia memang hobby-nya omdo.

BACA JUGA:  Dua Sisi Industri 4.0, Antara Peluang dan Ancaman

Mana mungkin bisa bikin lompatan bila hanya direncanakan, dipikirkan. Lompat aja dulu. Baru setelah itu, bisa dapat cara atau petuntuk untuk lompatan berikutnya. Kadang kita lupa, kita itu lahir dari ribuan sperma yang berlomba . Tapi hanya satu sperma yang melakukan “lompatan” hingga bisa membuahi satu sel telur. Dan si sperma pemenang itulah yang menjelma menjadi diri kita.

Maka jangan hanya melompat. Apalagi mengoceh. Bikinlah lompatan. Karena kadang dalam hidup, tidak ada jurang yang bisa dilewati dengan lompatan kecil. Bila tidak suka sama presiden, jadilah presiden. Bila tetap mau jadi rakyat, cukup coblos saja yang kita suka, yang kita pilih. Gak usah menebar yang jelek-jelek.Atau seperti bertanya tapi maksudnya menghina atau membenci.

Lompatan itu jembatan antara dunia di dalam diri dan dunia di luar diri. Namanya, lompatan yang ciamikk

Komentar

Berita lainnya