oleh

Budaya Konsumtif Teknologi Pelajar dan Mahasiswa

-Opini-1.696 views

Oleh: Utari Noor Pratiwi, Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Dunia saat ini sedang menikmati Era Digital yakni perkembangan teknologi canggih yang amat pesat. Era teknologi digital saat ini sikenal dengan Revolusi Industri 4.0. Negara Indonesia sebagai negara berkembang juga mulai menerima hadirnya Revolusi Industri 4.0. Revolusi Industri 4.0 atau dengan kata lain revolusi industri generasi ke empat merupakan suatu perubahan di bidang industri, dimana kemunculannya ditandai dengan adanya super computer, terciptanya robot pintar, kendaraan yang berjalan otomatis tanpa pengemudi, bahkan yang lebih canggih yakni hadirnya payung bernama Davek Alert Umbrella yang dilengkapi bluetooth juga batrai tahan lama yang terdapat pada genggamannya guna tersambung dengan smartphone sehingga penggunanya tidak perlu repot lagi menggenggam gagang payung seperti yang biasa digunakan, dan perkembangan neuro teknologi lainnya yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak.

Revolusi Industri 4.0 juga telah mengalih fungsikan kemampuan yang di miliki oleh manusia dan menggantinya dengan mesin. Seperti pemikiran dari seorang tokoh Sosiologi Klasik yakni Anthony Giddens mengenai modernitas yang ia gambarkan pada abad ke-17. Bahwa, modernitas bersifat sangat dinamis dan merupakan dunia yang terus berputar. ia menganggap dunia modern sebagai “juggernaut” yakni mesin yang terus berjalan dengan kekuatan dahsyat yang akan menggilas manusia dengan kekuatannya hingga sulit untuk mengendalikannya. Dari pemikiran Giddens, modernitas dan dampaknya mulai sangat terasa di Era Revolusi Industri 4.0 saat ini. Adanya Revolusi Industri 4.0 memiliki dampak yang besar bagi masyarakat di segala bidang.

Dampak yang di hasilkan pun tidak hanya dampak baik saja, akan tetapi menghasilkan dampak buruk yang tanpa kita sadari akan menjadi sesuatu yang semu jika kita tidak menyikapi Revolusi Industri 4.0 secara bijak. Di kalangan Pelajar atau Mahasiswa revolusi industri 4.0 bukan lah suatu hal yang asing. Hal ini terlihat dari bagaimana cara mereka menikmati kecanggihan dari teknologi itu sendiri. Bagaimana mereka dengan mudah mencari dan mendapatkan apa yang mereka inginkan melalui kecanggihan telepon pintar yang mereka miliki. Namun amat disayangkan, hadirnya Revolusi Industri 4.0 ini justru hanya membuat manusia terlena, terlebih lagi bagi kalangan Pelajar-Mahasiswa.

BACA JUGA:  Surat Cinta kepada Pelajar Indonesia

Dampak buruk dari revolusi ini hanya membuat manusia menjadi malas dan bergantung pada alat. Seperti kebanyakan Pelajar dan Mahasiswa yang terlihat sangat ketergantungan terhadap kecanggihan teknologi, mereka menggunakannya sebagai alat coppy paste dan Plagiat atas tugas sekolah atau kampus agar pekerjaan mereka lebih cepat dan mudah terselesaikan. Pada kenyataanya hal itu hanya membuat fungsi otak menjadi melemah, semakin malas membaca, dan semakin enggan untuk berfikir kritis. Hal tersebut hanya akan melemahkan potensi Pelajar dan Mahasiswa yang seharusnya di kembangkan. Jika budaya konsumtif ini terus dilakukan dan tidak adanya upaya untuk menggunakan teknologi secara positif, maka mereka akan terancam dan tidak mampu berkompetisi secara jujur. Tanpa di sadari hanya akan mengikis sportivitas dan daya saing yang mereka miliki.

Fakta sosial selanjutnya adalah timbulnya kesenjangan sosial akibat komunikasi yang kurang di bangun antar sesama Pelajar dan Mahasiswa. Mereka lebih menikmati interaksi di dunia maya dari pada dunia nyata. Revolusi Industri 4.0 menimbulkan perubahan karakter masyarakat khususnya Pelajar dan Mahasiswa. Jika tidak ditanggapi secara bijak hal ini justru akan berdampak pada moralitas Pelajar dan Mahasiswa itu sendiri. Seperti beredarnya Video Viral Pelajar yang bersikap tidak sopan terhadap guru, Malasnya Mahasiswa-Mahasiswi dalam menyelesaikan papper yang harus mereka kerjakan dan banyaknya dampak dampak buruk yang timbul dari Revolusi Industri 4.0 yang kurang bijak di tanggapi oleh individu tersebut.

BACA JUGA:  Surat Cinta kepada Pelajar Indonesia

Selain itu, populasi Mahasiswa dan Pelajar sebagai generasi milenial merupakan populasi yang cukup besar. Di era Pemilu saat ini generasi milenial di kalangan Mahasiswa dan Pelajar memiliki potensi suara yang cukup di perhitungkan dalam menentukan hasil pemilu 2019 nanti. Hal ini semakin mengkhawatirkan. Sebab, Mahasiswa dan Pelajar dapat dengan mudah terpengaruhi oleh hoax dan isu isu negatif mengenai pemilu yang beredar di sosial media. Ke khawatiran ini akan terjadi apabila kurangnya pengetahuan dari generasi muda mengenai pemilu, serta kurang bijaknya mengolah informasi yang mereka dapatkan jika pemikiran mereka tidak terbuka dan terlalu konsumtif terhadap informasi yang mereka dapatkan melalui kecanggihan teknologi.

Mahasiswa dan Pelajar sebagai agen perubahan tentu memiliki peran penting bagi kemajuan Bangsa dan Negara. Oleh sebab itu, maka perlulah peran orang-orang terdekat dan lembaga pendidikan terkait guna membenahi pora perilaku konsumtif Mahasiswa dan Pelajar yang sudah terlalu melekat terhadap penggunaan teknologi sehingga menimbulkan dampak negative dan penurunan moral di kalangan Pelajar dan Mahasiswa. Bagaimana cara kita memberikan pemahaman yang baik kepada rekan-rekan Mahasiswa dan Pelajar agar bijak dan tidak baper (bawa perasaan) terhadap isu-isu politik yang mereka konsumsi. Bagaimana cara dan solusi yang tepat dalam penggunaan kecanggihan teknologi agar bernilai manfaat.

Sebaiknya perlu lah sosialisasi ataupun diskusi kecil di kalangan Mahasiswa dan Pelajar yang bernilai positif guna membangun kembali nilai-nilai moral di kalangan muda agar dapat saling memahami dan tidak membuatnya menggebu-gebu terhadap cara penyampaian asumsi mereka terkait informasi-informasi yang mereka dapatkan tanpa dilakukannya pengolahan informasi terlebih dahulu. Selain itu, budaya membaca di kalangan Mahasiswa juga perlu agar menambah wawasan dan pengetahuan mereka. Membaca yang baik dan efektif sebaiknya dengan melakukan bedah buku yang tercetak dari pada e-book. Sebab jika menggunakan e-book biasanya Pelajar dan Mahasiswa hanya membukanya ketika ada tugas saja. Bahkan, yang menjadi penyakit Mahasiswa dan Pelajar adalah lupa akan tujuan mereka dalam membuka materi yang telah di unduhnya melalui e-book pada smartphone mereka. Tujuan mereka menggunakan e-book memang benar untuk belajar. Akan tetapi, seketika itu juga mereka bisa lupa dengan materi e-book yang mereka unduh dan beralih membuka aplikasi media sosial lainnya seperti Instagram, Whatsapp, Line dan media sosial lainya. Hal tersebut dilakukan secara sadar maupun tidak sadar karena perilaku konsumtif dan kebiasan yang sudah melekat pada diri Mahasiswa dan Pelajar itu sendiri.

BACA JUGA:  Surat Cinta kepada Pelajar Indonesia

Tanggapan bijak yang perlu di lakukan guna menghadapi perilaku konsumtif terhadap teknologi yang dilakukan Mahasiswa dan Pelajar terlebih lagi pada masa-masa pemilu saat ini adalah perlunya melakukan Revolusi Mental. Revolusi Mental perlu di bangun pada semua aspek. Terutama aspek pendidikan di kalangan Pelajar dan Mahasiswa. Dengan adanya revolusi mental maka di harapkan nantinya akan menimbulkan kesadaran kolektif sehingga Mahasiswa dan Pelajar diharapkan dapat dengan bijak menggunakan teknologi canggih yang berkembang pesat. Sehingga, diharapkan Pembaca dari semua kalangan kembali mengingatkan pada masyarakat khususnya Mahasiswa dan Pelajar bahwa sejatinya Revolusi Industri 4.0 atau kemunculan teknologi canggih saat ini di ciptakan guna mengoptimalkan fungsi otak manusia bukan untuk memperdayakan manusia dan meningkatkan perilaku konsumtif mereka.

Komentar

Berita lainnya