oleh

Mitigasi Kita Belum Tertinggal Jauh dari Jepang

Koordinator Advokasi dan Akuntabilitas serta Pengembangan Kapasitas, Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), Iskandar Leman.

“Memangnya kita sangat ketinggalan dengan Jepang? Tidak juga sebenarnya, karena negara kita itu jadi tempat di mana orang mencontoh”

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Koordinator Advokasi dan Akuntabilitas serta Pengembangan Kapasitas, Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), Iskandar Leman pada acara Ngobrol Pendidikan Indonesia (NGOPI) bertema “Kajian Pendidikan di Wilayah Bencana”. NGOPI diselenggarakan oleh Center for Education Study and Advocacy Dompet Dhuafa Pendidikan (CESA DD Pendidikan) pada Jumat malam (22/2).

Mengambil lokasi di Upnormal Coffee Roaster, Cikini Jakarta Pusat, acara berformat talkshow dan diskusi ini dihadiri oleh 75 orang. Selain Iskandar, hadir pula sebagai pembicara Peneliti Geofisika Laut Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Nugroho Dwi Hananto dan Arif Haryono selaku General Manager Pendidikan Dompet Dhuafa.

Dalam kapasitasnya sebagai praktisi penanggulangan bencana, ada alasan mengapa Iskandar menilai Indonesia belum jauh dari Jepang terkait mitigasi. “Memangnya kita sangat ketinggalan dengan Jepang? Tidak juga sebenarnya, karena negara kita itu jadi tempat di mana orang mencontoh,” demikian ungkapan lengkap Iskandar. Sifat mencontoh itulah yang membuat Indonesia cepat bergerak mengikuti, sehingga tidak tertinggal jauh.

Selanjutnya, Iskandar juga menjelaskan tentang perbedaan antara mitigasi dengan pencegahan bencana. “Mitigasi adalah bagaimana kita mengurangi dampaknya, sedangkan pencegahan, bagaimana kita mengelola bencananya sedemikian rupa sehingga tingkat kekuatannya berkurang,” papar pria yang banyak berpengalaman merancang beragam pelatihan kebencanaan ini.

Untuk melakukan mitigasi bencana, perlu kerja sama berbagai pihak. Karenanya menurut Iskandar ada tujuan bersama yang harus diwujudkan. “Tujuan bersamanya adalah mengurangi jumlah korban dan jumlah aset yang menjadi rusak karena itu,” terang Iskandar.

Pada konteks pendidikan, menurut Iskandar, mitigasi yang harus dilakukan mencakup tiga hal utama. “Pertama, fasilitas. Kedua, bagaimana manajemen rencananya. Dan ketiga adalah pendidikan pengurangan risiko bencana,” sebut Iskandar.

Paparan Iskandar di atas melengkapi keterangan dari dua pembicara lainnya sebagai pengantar untuk mencapai tujuan dari diselenggarakannya acara ini, yaitu merancang model pendidikan di wilayah bencana, mulai dari respon tanggap darurat, recovery dan mitigasi bencana sejak dini. Diskusi ini juga bertujuan untuk mengadvokasi konsep pendidikan di wilayah bencana agar dapat masuk dalam kurikulum pendidikan nasional.

Komentar

Berita lainnya