oleh

9 dari 10 Orang Indonesia Takut di Masa Pensiun

-Inspirasi-462 views
(Dok. Istimewa)

Banyak orang kerja ingin kaya di masa pensiun. Mungkin itu cuma “cita-cita”. Jauh panggang dari api, karena tidak banyak orang Indonesia yang mau merencanakan masa pensiun sedini mungkin. Bahkan jika mau jujur, hampir sebagian besar pekerja pun sering kaget karena ternyata sebentar lagi akan pensiun. Tanpa persiapan, tanpa topangan dana yang cukup. Mereka baru tersadar justru di saat sudah mendekati masa pensiun tiba.

Faktanya hari ini, 9 dari 10 orang Indonesia merasa khawatir akan masa pensiunnya. Begitu hasil survei HSBC Indonesia bertajuk “Future of Retirement, Bridging the Gap” (2019). Sadisnya, mereka adalah orang-orang yang sedang bekerja dan memiliki penghasilan tetap per bulan. Itu berarti, 90% orang Indonesia takut akan masa pensiunnya sendiri.

Maka “pekerjaan rumah” terbesar orang Indonesia hari ini adalah menyadari akan pentingnya mempersiapkan masa pensiun. Agar tetap dapat memenuhi kebutuhan hidup di saat tidak bekerja lagi, di samping mampu mempertahankan gaya hidup. Di sisi lain, edukasi dan sosialisasi akan pentingnya program pensiun pun harus terus dilakukan lebih gencar. Karena faktanya, dari sekitar 50 juta pekerja formal di Indonesia, tidak lebih dari 5% saja yang sudah mempunyai program pensiun. Apalagi 7o juta pekerja informal, sangat tidak tersentuh program pensiun.

BACA JUGA:  Berbincang dengan Amid: Dulu Pemakai Narkoba, Kini Petani Berdaya

Lalu, bagaimana cara menghilangkan kekhawatiran di masa pensiun?

Jawabnya tidak lain adalah memastikan ketersediaan dana pensiun yang cukup. Karena di Indonesia, seorang pensiunan dianggap dapat hidup layak di masa pensiun bila memiliki dana 70%-80% dari gaji terakhir. Itulah yang disebut tingkat penghasilan pensiun (TPP). Artinya, pekerja ber-gaji terakhir 10 juta maka membutuhkan 7-8 juta per bulan di masa pensiun. Agar tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup, di samping mempertahankan gaya hidupnya.

Maka hari ini, tiap pekerja sangat penting untuk memiliki program pensiun, khususnya program DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Karena melalui DPLK, dapat dipersiapkan masa pensiun yang tetap nyaman dan sejahtera. Tersedianya jaminan finansial di masa pensiun dan adanya kesinambungan penghasilan saat di hari tua.

BACA JUGA:  Berbincang dengan Amid: Dulu Pemakai Narkoba, Kini Petani Berdaya

“Sudah saatnya orang Indonesia menyadari akan pentingnya mempersiapkan masa pension. Karena ke depan, kondisi demografi pasti bergeser. Usia pensiunan akan meningkat pesat dalam 10-20 tahun mendatang. Maka, program pension harus disiapkan sejak dini” ujar Syarifudin Yunus, Kepala Humas Perkumpulan DPLK dan sekaligus edukator dana pensiun.

Melalui program DPLK, tiap pekerja harus dapat menyisihkan sebagian dana setiap bulannya untuk disetor ke DPLK sebagai tabungan pensiun. Melalui setroran iuran pensiun ditambah hasil investasi selama menjadi peserta DPLK, maka diharapkan akumulasi dana DPLK yang terkumpul dapat dinikmati pada saat pensiun. Oleh karena itu, DPLK dapat menjadi solusi keuangan bagi pekerja dalam menghadapi masa pensiun. Agar tidak khawatir dan tidak takut akan masa pensiun. Karena harus diingat, cepat atau lambat, masa pensiun pasti menghampiri setiap pekerja.

BACA JUGA:  Berbincang dengan Amid: Dulu Pemakai Narkoba, Kini Petani Berdaya

Bila ada pekerja yang takut akan masa pensiun, pasti karena mereka tidak punya program pensiun. Bila ada pensiunan yang tidak bahagia di masa pensium, pasti karena mereka tidak punya uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan bila ada pekerja menyesal di masa pensiun, pasti karena mereka tidak mau menyisihkan sebagian gajinya untuk masa pensiun.

Adalah fakta, banyak pekerja terlihat mentereng hanya di masa masih bekerja. Tapi sayang, mereka tidak mampu mempertahankan gaya hidupnya di masa pensiun karena lupa mempersiapkan masa pensiun sejak dini.

Maka, bersegeralah untuk memiliki program pensiun DPLK sejak dini. Untuk masa pensiun yang lebih pasti, yang lebih memadai. Pensiun bukan gimana nanti. Tapi nanti gimana …. (Syarif Yunus)

Komentar

Berita lainnya