oleh

Pengembangan Destinasi Wisata Halal di Indonesia

-Opini-1.113 views

Pariwisata merupakan salah satu sektor penghasil devisa terbesar Indonesia, yang mencapai lebih dari 20 miliar atau setara dengan 17,36 % dalam artian memiliki potensi yang cukup signifikan bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia (Kemenpar, 2018). Kementerian Pariwisata mencatat, jumlah wisatawan Indonesia pada Januari-November 2018 lebih dari 288,17 juta jiwa yang melakukan perjalanan wisata. Sedangkan menurut BPS, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia Agustus 2018 naik 8,44 % dibanding jumlah kunjungan pada Agustus 2017, yaitu dari 1,39 juta kunjungan menjadi 1,51 juta kunjungan. Beberapa tahun terakhir yang menjadi sorotan pemerintah pada sektor pariwisata adalah perkembangan pariwisata halal di dunia, yang semakin pesat seiring dengan kebutuhan akan destinasi halal pada masyarakat muslim dunia. Hal ini dapat dilihat dari 6,8 milyar lebih penduduk dunia, tercatat tidak kurang dari 1,57 milyar atau sekitar 23 % adalah muslim. Bahkan di Indonesia sendiri, penganut Islam diperkirakan mencapai angka 203 juta jiwa atau sekitar 88,2 % dari jumlah penduduk Indonesia. Maka dari itu Kementrian Pariwisata telah menargetkan Indonesia menjadi destinasi pariwisata halal nomor satu di dunia, yang saat ini diduduki oleh negara Malaysia.

Menurut Global Muslim Tourism Index (GMTI), total omzet sektor pariwisata halal akan mencapai $ 300 miliar per tahun pada 2026 mendatang. Dan ini merupakan segmen pasar untuk mengembangkan pariwisata halal di Indonesia, yang mana dapat mendukung pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Pemerintah sendiri melalui Kementrian Pariwisata sudah mempersiapkan paket-paket wisata halal di destinasi pariwisata Indonesia. Dengan menetapkan 12 destinasi wisata halal di Indonesia antara lain Nusa Tenggara Barat, Aceh, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur serta Sulawesi Selatan sebagai proyek percontohan dan tidak menutup kemungkinan diperluas ke destinasi wisata halal lainnya. Dengan target pasar wisatawan dari Timur Tengah, Afrika Selatan, China, India, dan Eropa. Tingkat kebutuhan akan wisata halal yang semakin meningkat menyebabkan potensi pariwisata halal disetiap daerah terus dikembangkan untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Mengingat wisatawan muslim di dunia, dalam perjalanan wisatanya mampu menghabiskan $ 180 miliar per tahun (DMTR, 2018).

Berbicara tentang pariwisata halal bukan hanya sekedar wisata ke tempat-tempat religi saja, melainkan lebih kepada sarana dan prasarananya yang mengedepankan pelayanan berbasis standar halal umat muslim. Dalam hal ini seperti, penyediaan makanan halal, informasi masjid terdekat dan tidak adanya minuman beralkohol dihotel tempat wisatawan menginap. Indonesia sendiri pada dasarnya memiliki potensi besar sebagai negara dengan destinasi wisata halal terbaik dunia. Salah satunya dapat di buktikan dengan dicanangkannya Lombok sebagai The Best Destination for Halal Tourism Resort di dunia dari CNBC Indonesia tahun 2017 dan Mastercard-Crescent Rating Global Muslim Travel Index (GMTI) pada tahun 2018. Tidak hanya itu, Lombok juga berhasil mendapatkan penghargaan The World Halal Tourism dua tahun berturut-turut pada tahun 2015 dan 2016 di Dubai, sekaligus sebagai The World Best Halal Honeymoon Destination.

BACA JUGA:  Seberapa Jauh Upaya Pemerintah dalam Menangani Kebakaran Hutan di Indonesia?

Dengan segala potensi yang ada, nyata nya Indonesia masih belum mampu menyediakan destinasi wisata halal yang ramah wisatawan muslim (muslim friendly touris). Baik dari destinasi nya, standarisasi, regulasi, kesiapan daerah tempat wisata halal, fasilitas, serta marketing dan awareness yang terbaik bagi traveler muslim yang berwisata di Indonesia. Maka dari itu diperlukan adanya akselerasi pengembangan wisata halal di Indonesia, dengan bekerja sama dari berbagai negara, pemerintah pusat serta melibatkan para pemangku kepentingan di setiap daerah destinasi untuk mendorong pengembangan wisata halal. Karena pada dasarnya wisata halal tidak dapat berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan dari industri halal yang mencakup finansial dan pembiayaan.

BACA JUGA:  Akhwat atau Cewek ?

Akselerasi disini dapat dilakukan dengan cara memperbaiki setiap kekurangan pada destinasi wisata halal tersebut. Seperti standarisasi layanan berskala internasional, mempunyai arti bahwa pariwisata halal tidak hanya sebatas lebel halal saja, melainkan semua aspek pendukungnya yang harus benar-benar halal sampai bisa dikatakan halal yang memenuhi standar Islam. Fakta lapangan yang ada dari berbagai destinasi wisata halal hanya beberapa yang benar-benar sesuai standarisasi islam sedangkan lainnya cukup memiliki masjid di tempat wisata tersebut sudah bisa dikatakan wisata halal. Tidak hanya itu produk halal yang dihasilkan pun belum semuanya memiliki sertifikasi halal seperti restauran ataupun camilan khas daerah destinasi halal tersebut. Sebab para pelaku usaha beranggapan bahwa semua produk nya, tidak perlu lagi melakukan standarisasi sebab mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam tentu saja produk yang dihasilkan pun pasti halal. Sedangkan pasar meminta untuk adanya standarisasi pada setiap produk wisata halal, untuk menjamin keamanan dan kenyamanan para wisatawan muslim. Berbanding terbalik dengan negara Malaysia yang sudah menerapkan standarisasi di setiap produk halalnya.

BACA JUGA:  Seberapa Jauh Upaya Pemerintah dalam Menangani Kebakaran Hutan di Indonesia?

Dan ini menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi pemerintah pusat maupun daerah untuk membuat regulasi, dengan diwajibkannya para pelaku bisnis dibidang pariwisata halal harus memiliki standarisasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Akselerasi ini akan menjadi penjamin keberlanjutan pengembangan wisata halal di Indonesia. Khasanah budaya Islam di Nusantara dengan segala aspek pendukungnya menjadi modal besar bagi pengembangan wisata halal. Kemudian langkah selanjutnya terletak pada penguatan kualitas SDM dan layanannya. Konsep ini menjadi pembuka jalan Indonesia menuju pusat wisata halal tingkat dunia. (Siti Rohmah)

Komentar

Berita lainnya