Melirik Peluang Industri e-Sport di Indonesia

(Photo credit: Helena Kristiansson)

Aktivitas bermain game saat ini sudah bertranformasi menjadi olahraga elektronik yang bertajuk e-Sport. Belakangan ini olahraga elektronik atau e-Sport sedang menjamur di Indonesia. Selain itu, di Indonesia, gaming resmi munjadi cabang olahraga, di tandai dengan berdirinya e-Sport Association (IeSPA) pada tahun 2014.

Indonesia menjadi salah satu negara yang begitu menggilai e-Sport dalam beberapa tahun kemarin, meski demam itu sudah berlangsung dari awal tahun 2000-an. Saat ini sudah banyak komunitas e-Sport khususnya di Indonesia seperti, Evos, RRQ, BTR, Recca, dan lain-lain.

Banyak orang-orang kini mencari nafkah sebagai atlet e-Sport yang nominal uangnya terbilang tidak sedikit. Tercatat 43,7 juta gamer yang menghasilkan pendapatan 879,7 juta dollar AS, menurut paparan data dari Newzoo. Marketing Director Intel ANZ & South East Asia, Anna Torres mengatakan, industri gaming di Indonesia selalu berkembang. Asian Games 2018 kemarin bisa dibilang menjadi tonggak mencuatnya e-Soprt di Indonesia.

BACA JUGA:  Gojek Hadirkan Opsi Pembayaran Baru

Olahraga ini memang belum sepopuler cabang olahraga lain di Indonesia, namun perkembangannya cukup pesat. Di ranah global, posisi Indonesia dalam pasar industri gaming menempati urutan ke-16 pada 2017.

e-Sport tak hanya menarik untuk dimainkan saja, tapi juga mendatangkan animo penonton yang luar biasa yang disemarakan dengan penampilan cosplayer karakter game populer.

Dalam acara workshop karir yang di selenggarakan Intel Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Pembimbing Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNY. Deny Budi Hartono mengatakan, e-Sport memilki peluang untuk dikelola secara akademik, seperti mendirikan Fakultas Gaming suatu saat nanti.

BACA JUGA:  IKM Beri Kontribusi 60 Persen Serapan Total Tenaga Kerja Industri

Selain peluang, industri e-Sport juga mempunyai tantangan. Salah satu tantangan terbesar e-Sport adalah perbedaan pandangan antara generasi milenial dan generasi tua mengenai e-Sport ini. Masih subur di masyarakat Indonesia memandang e-Sport sekedar hobi main game pengisi waktu luang, bukan olahraga yang bsia ditekuni secara professional.

Menurut Dedy, e-Sport berbeda dengan main game, seperti yang di persepsikan selama selama ini.

“Main game itu rekreasi, e-Sport itu profesi. Ini satu perbedaan.” Kata Dedy.

BACA JUGA:  IKM Beri Kontribusi 60 Persen Serapan Total Tenaga Kerja Industri

Jika Indonesia ingin mengembangkan industri e-Sport, Anna mengatakan atlet e-Sport harus mendapat dukungan penuh dari semua pihak, termasuk tidak menyerah dalam menghadapi konotasi negative.

Salah satu isu yang sering dimunculkan bagi pemain e-Sport adalah dampak anti-sosial bagi pemainnya.

“Padahal sebenarnya gaming itu aktivitas sosial. Orang-orang bisa menonton streaming, chatting, casting dan juga berbicara saat bermain game.

Secara umum, e-Sport masih membutuhkan pengelolaan yang profesional. Dengan begitu, urusan infrastruktur akan mengikuti ke depannya, seperti pengadaan stadion khusus gaming, dengan perlengkapan e-Sport yang memadai. (Aditia Rahman Allawi)

Komentar

Berita lainnya