Kuliah Jurnalistik Mahasiswa Unindra, Momentum Belajar Sambil Menulis

Belajar sambil menulis, begitulah perkuliahan jurnalistik mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI (Unindra). Hingga akhirnya diterbitkan menjadi buku.

Banyak orang beranggapan, belajar dan menulis adalah dua hal yang terpisah, tidak saling berhubungan. Maka belajar seringkali ditafsir sebagai proses formal untuk menambah pengetahuan. Sementara menulis menjadi perilaku yang bergantung pada minat dan bakat mahasiswa. Anggapan bukan hanya salah tapi dibantah oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Indraprasta PGRI yang belajar mata kuliah Jurnalistik, dengan dosen pengampu Syarifudin Yunus, M.Pd.

Karena pasalnya, justru perkuliahan di kelas mampu memacu keberanian mahasiswa untuk menulis berita. Belajar sambil menulis jurnalistik mahasiswa dibuktikan dengan diterbitkannya buku “Politik Orang Susah”, sebuah kumpulan berita fakta pada 18 November 2018 lalu. Buku yang mengisahkan persfektif berbeda tentang politik di mata orang-orang marjinal, orang-orang kelas ekonomi bawah.

Buku pegangan kuliah di sebelah kiri. Buku karya jurnalistik di sebelah kanan. Begitulah proses belajar Jurnalistik yang dialami mahasiswa PBI Unindra. Dari buku pegangan kuliah “Jurnalistik Terapan” karangan Syarifudin Yunus sebagai dosen pengampu, mahasiwa dilatih (bukan diajar) untuk bisa menulis berita melalui liputan dan wawancara ke objek berita. Setelah itu, berita hasil liputannya diterbitkan dalam buku “Politik Orang Susah”.

Belajar sambil berkarya, memang bisa dilakukan dengan banyak cara. Itu pula yang dipilih Syarifudin Yunus, untuk menerapkan proses belajar sambil menulis buku kepada mahasiswanya. Karena dengan menulis, mahasiswa dapat mengekspresikan apa yang dilihat di lapangan, apa yang terjadi di depan mata lalu dituliskannya.

“Hampir semua mata kuliah yang saya ampu, mahasiswa pasti saya latih untuk bisa dan berani menulis hingga menerbitkan ke dalam buku. Karena menulis adalah ruang ekspresi yang paling orisinal dari manusia. Ketika kita menulis, sesungguhnya kita sedang mengkoneksi pikiran dan realitas. Maka mahasiwa harus mampu melakukan itu, belajar sambil menulis. Belajar bukan melulu teori” ujar Syarifudin Yunus, dosen pengampu mata kuliah Jurnalistik Unindra.

BACA JUGA:  Mau Mahir Berbisnis? Datang ke Agenda Ini!

Syarifudin Yunus menyebutkan, berita adalah laporan tercepat yang harus bisa dikabarkan seluas-luasnya. Untuk itu, berita harus dikelola dengan teknik yang tepat; dari mulai mendapatkan bahan, menuliskan hingga menyebarluaskannya. “Oleh karena itu, prasyarat menulis berita berupa 1) aktual, 2) faktual, 3) penting, dan 4) menarik harus dipenuhi,” tuturnya.

Melalui cara ini, mahasiswa pun diajarkan cara menulis berita secara mudah melalui teknik “key messages” atau pesan inti atas peristiwa atau topic yang layak diberitakan, sesuai hasil liputan atau interview yang dilakukan mahasiswa.

Maraknya informasi yang tersaji di media sosial hingga menumpuknya berita palsu atau hoaks yang menyita perhatian publik, menuntut mahasiswa di era kini untuk berperan aktif dalam menyajikan berita yang aktual dan faktual, bukan berita palsu yang disebarluaskan. “Secara prinsip, apapun yang terjadi di sekitar kita dapat dijadikan berita. Namun untuk menuliskannya dibutuhkan kompetensi menulis berita, di samping harus berdasar fakta dan bersifat aktual” tambah Syarifudin Yunus.

Belajar sambil menulis, ke depan, harusnya menjadi spirit semua mahasiswa. Karena pengetahuan yang bertumpuk hanya bisa memberi manfaat bila mau dituliskan. Belajar adalah proses mengubah perilaku bukan menambah pengetahuan semata. Belajar sudah pasti bisa bikin orang pintar. Tapi tanpa perilaku dan perbuatan, kepintaran adalah kesia-siaan.

Belajarlah sambil menulis. Belajar sambil berkarya. Jangan biarkan waktu dan peristiwa yang bercerita, tanpa kita mau menuliskannya. Jadikanlah kuliah sebagai momentum untuk menulisKuliah Jurnalistik Mahasiswa Unindra; Momentum Belajar Sambil Menulis

BACA JUGA:  Program LUAS IndoRunners Tukar 2 Juta Kilometer Lari dengan 100 Beasiswa Sarjana UI

Belajar sambil menulis, begitulah perkuliahan jurnalistik mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI (Unindra). Hingga akhirnya diterbitkan menjadi buku.

Banyak orang beranggapan, belajar dan menulis adalah dua hal yang terpisah, tidak saling berhubungan. Maka belajar seringkali ditafsir sebagai proses formal untuk menambah pengetahuan. Sementara menulis menjadi perilaku yang bergantung pada minat dan bakat mahasiswa. Anggapan bukan hanya salah tapi dibantah oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Indraprasta PGRI yang belajar mata kuliah Jurnalistik, dengan dosen pengampu Syarifudin Yunus, M.Pd.

Karena pasalnya, justru perkuliahan di kelas mampu memacu keberanian mahasiswa untuk menulis berita. Belajar sambil menulis jurnalistik mahasiswa dibuktikan dengan diterbitkannya buku “Politik Orang Susah”, sebuah kumpulan berita fakta pada 18 November 2018 lalu. Buku yang mengisahkan persfektif berbeda tentang politik di mata orang-orang marjinal, orang-orang kelas ekonomi bawah.

Buku pegangan kuliah di sebelah kiri. Buku karya jurnalistik di sebelah kanan. Begitulah proses belajar Jurnalistik yang dialami mahasiswa PBI Unindra. Dari buku pegangan kuliah “Jurnalistik Terapan” karangan Syarifudin Yunus sebagai dosen pengampu, mahasiwa dilatih (bukan diajar) untuk bisa menulis berita melalui liputan dan wawancara ke objek berita. Setelah itu, berita hasil liputannya diterbitkan dalam buku “Politik Orang Susah”.

Belajar sambil berkarya, memang bisa dilakukan dengan banyak cara. Itu pula yang dipilih Syarifudin Yunus, untuk menerapkan proses belajar sambil menulis buku kepada mahasiswanya. Karena dengan menulis, mahasiswa dapat mengekspresikan apa yang dilihat di lapangan, apa yang terjadi di depan mata lalu dituliskannya.

“Hampir semua mata kuliah yang saya ampu, mahasiswa pasti saya latih untuk bisa dan berani menulis hingga menerbitkan ke dalam buku. Karena menulis adalah ruang ekspresi yang paling orisinal dari manusia. Ketika kita menulis, sesungguhnya kita sedang mengkoneksi pikiran dan realitas. Maka mahasiwa harus mampu melakukan itu, belajar sambil menulis. Belajar bukan melulu teori” ujar Syarifudin Yunus, dosen pengampu mata kuliah Jurnalistik Unindra.

BACA JUGA:  Sandiaga Uno Berbagi Rahasia Sukses Berbisnis di Kampus UI

Syarifudin Yunus menyebutkan, berita adalah laporan tercepat yang harus bisa dikabarkan seluas-luasnya. Untuk itu, berita harus dikelola dengan teknik yang tepat; dari mulai mendapatkan bahan, menuliskan hingga menyebarluaskannya. “Oleh karena itu, prasyarat menulis berita berupa 1) aktual, 2) faktual, 3) penting, dan 4) menarik harus dipenuhi,” tuturnya.

Melalui cara ini, mahasiswa pun diajarkan cara menulis berita secara mudah melalui teknik “key messages” atau pesan inti atas peristiwa atau topic yang layak diberitakan, sesuai hasil liputan atau interview yang dilakukan mahasiswa.

Maraknya informasi yang tersaji di media sosial hingga menumpuknya berita palsu atau hoaks yang menyita perhatian publik, menuntut mahasiswa di era kini untuk berperan aktif dalam menyajikan berita yang aktual dan faktual, bukan berita palsu yang disebarluaskan. “Secara prinsip, apapun yang terjadi di sekitar kita dapat dijadikan berita. Namun untuk menuliskannya dibutuhkan kompetensi menulis berita, di samping harus berdasar fakta dan bersifat aktual” tambah Syarifudin Yunus.

Belajar sambil menulis, ke depan, harusnya menjadi spirit semua mahasiswa. Karena pengetahuan yang bertumpuk hanya bisa memberi manfaat bila mau dituliskan. Belajar adalah proses mengubah perilaku bukan menambah pengetahuan semata. Belajar sudah pasti bisa bikin orang pintar. Tapi tanpa perilaku dan perbuatan, kepintaran adalah kesia-siaan.

Belajarlah sambil menulis. Belajar sambil berkarya. Jangan biarkan waktu dan peristiwa yang bercerita, tanpa kita mau menuliskannya. Jadikanlah kuliah sebagai momentum untuk menulis

Komentar

Berita lainnya