oleh

Butuh Keseriusan Pemerintah untuk Tangani Bencana

-Opini-264 views

Oleh: Naning Dharmawijaya Amd., Ibu Rumah Tangga Tinggal di Depok

Sudah tiga kali dalam kurun waktu setahun terakhir tsunami mengguncang bumi nusantara, mulai dari Lombok, disusul Palu dan terakhir yang membuat geger tsunami Selat Sunda. Tsunami Selat Sunda yang terpanjang dari Ujung Kulon hingga Kepulauan Sumatera Lampung pada 23 Desember 2018 lalu. Akibat bencana tersebut sudah pasti banyak menelan korban nyawa, luka parah dan hancurnya material rumah sebagai tempat tinggal, usaha, perniagaan dan jasa pariwisata.

Ilustrasi. (Istimewa)

Dari kesekian kalinya tsunami datang tidak menjadikan kepekaan untuk mengantisipasi atau mitigasi. Padahal, persiapan bencana adalah satu set doktrin untuk menghadapi bencana alam atau buatan manusia. Pertolongan bencana berhadapan dengan empat kegiatan yakni mitigasi, kesiapan, tanggapan dan penormalan. Tidak adanya alat pendeteksi baik tsunami, gempa bumi dan bencana alam lainnya tidak menjadikan peringatan atau teguran. Penyesalan selalu datang terlambat, pasca terjadinya musibah baru menyesali.

Seperti yang diungkapkan Wakil ketua komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzil, ia menyesalkan tidak adanya alat peringatan dini atau early warning tsunami perairan Selat Sunda padahal menurutnya sudah banyak riset yang menyatakan wilayah Selat Sunda memiliki potensi baik bencana gunung berapi maupun tsunami. “Pemerintah harus memiliki keseriusan dalam menyediakan teknologi antisipasi kebencanaan, sangat ironis jika alat deteksi kebencanaan tidak berfungsi dengan baik,” kata Ace sepeti dilansir salah satu media.

BACA JUGA:  Bangkit dari Kegagalan

Jika saja upaya pemerintah serius dari awal untuk mitigasi memungkinkan antisipasi persiapan bencana yakni dengan menyediakan alat bantu deteksi bencana alam baik yang datang dari gempa bumi, letusan gunung berapi dan longsor. Apabila secara intensif terkontrol pendeteksiannya, besar kemungkinan warga memiliki persiapan untuk melakukan suatu tindakan, misal dapat mengungsi ke tempat yang lebih aman ketika bencana datang karena sudah mendapat info dari BMKG dan alat deteksi yang bekerja dengan baik.

BACA JUGA:  Bangkit dari Kegagalan

Sehingga untuk menanggapi bencana tersebut, suatu wilayah dapat dikatakan waspada, bahaya atau siaga satu. Pemerintah pun harus menyediakan fasilitas dan tenaga manakala bencana datang serta tanggap mengatasi dan mengamati. BNPB pun minta masyarakat diperkuat pengetahuan mitigasi.

Kepala Pudatinmas Badan nasional penanggulangan bencana alam (BNPB)Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan ada duabelas peristiwa tsunami yang terjadi di Selat Sunda. Tsunami yang baru terjadi Sabtu kemarin penyebabnya adalah erupsi. Pada tahun 1883 dan 1928 tsunami terjadi akibat letusan Gunung Krakatau. Pada 1883, letusan Krakatau menarik perhatian dunia, karena material panas yang dikeluarkan hingga ke luar wilayah Indonesia. Sedikitnya 36.000 jiwa meninggal dunia saat itu. Hal inilah yang menarik untuk disikapi dan ditanggapi.

BACA JUGA:  Bangkit dari Kegagalan

Kawasan Selat Sunda yang melingkari Gunung Anak Krakatau harus mulai melakukan mitigasi yang serius. Harapan ke depannya masyarakat bisa sadar bencana sejak dini serta dapat menekan korban jiwa tanggap sejak awal akan adanya bencana.

Maka, butuh keseriusan dari pemerintah untuk menanggapi kawasan rawan bencana alam dengan memperkuat mitigasinya, baik mitigasi struktur maupun mitigasi non struktural. Sehingga ketika bencana itu datang, kita sudah siap mengantisipasi. Peran BMKG dan BNPB juga harus diperkuat fungsinya dan pemerintah harus berupaya memperbesar anggaran bagi dua lembaga tersebut. Sehingga mereka bisa berbenah terutama dalam pengadaan alat canggih sehingga dapat mengantisifasi datangnya bencana.[]

Komentar

Berita lainnya