oleh

Buat Apa Nilai Bagus Kalau Diperoleh dengan Curang?

-Opini-789 views
Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh: Siti Aisyah

Seorang teman bercerita tentang anaknya yang duduk di kelas 6. Sang anak mau mengikuti Ujian Madrasah dan UN. Untuk kesuksesan ujian tersebut, orang tua siswa pun diundang rapat pihak sekolah. “Ibu-ibu tenang, kita guru-guru di sini akan berusaha untuk membantu anak-anak kita agar nilainya bagus semua,” ujar kepala sekolah dalam rapat tersebut. Teman pun menyangka apa yang diungkapkan kepala sekolah adalah mau membantu melatih anak-anak dengan soal-soal latihan ujian.

Singkat cerita, ujian pun usai. Orang tua kembali diundang pihak sekolah untuk pengumunan kelulusan. Sebelum pengumuman kelulusan, kepala sekolah memberi sambutan. “Anak-anak, kami sebagai pihak sekolah sudah berusaha membantu semampu kami,” ungkap kepala sekolah. Teman saya mendengar itu, ya biasa saja.

Teman saya merasa heran ketika mendengar lanjutan pembicaraan kepala sekolah. “Tapi saya heran, kalian itu bodoh atau tidak ngerti? Padahal kami sudah membantu, kalian tinggal ikuti perintah guru apa susahnya sih?” ujar kepala sekolah sambil marah-marah. Tapi teman tetap diam saja, tidak mempertanyakan apa yang dimaksud dengan “kalian tinggal mengikuti perintah guru.”

BACA JUGA:  Saatnya Indonesia Tanpa Sampah Plastik

Sesampainya di rumah, teman pun bertanya kepada anaknya apa yang dimaksud dengan “Kalian tinggal ikuti perintah guru”. Betapa kagetnya teman saya itu ketika sang anak mengatakan ketika ujian guru memberikan kode kunci jawaban soal. Anak teman itu, sebenarnya mengerti maksud guru itu, tapi dia ingat itu merupakan kecurangan. Sehingga ia tidak mau mengikuti “perintah guru” tersebut. Sedangkan yang lain, memang banyak yang tidak mengerti maksud guru tersebut. Sehingga pada umumnya nilai ujian anak teman saya dan teman-temannya jelek-jelek.

Mendengar itu, dada saya terasa sesak, bukan karena melihat nilai ujian mereka yang jelek tetapi bagaimana bisa seorang guru pengajar memberikan pelajaran untuk berbohong, bertindak curang. Terlebih sekolah tersebut merupakan madrasah ibtidaiyah! Buat apa nilai bagus kalau diperoleh dengan curang?

Berdasarkan pengamat saya, memang masih ada saja proses pembelajaran dan pengajaran terhadap murid-murid sangatlah mengkhawatirkan dan jauh dari ajaran Islam. Mengapa mengkhawatirkan? Saya pernah juga mendapatkan laporan seorang oknum guru lebih suka mengajarkan pelajaran saja, tanpa ada bimbingan nilai akhlak. Selesai mengajar di sekolah, guru yang perempuan kembali membuka kerudung. Dan itu disaksikan oleh khalayak umum termasuk siswa-siswinya sendiri.

BACA JUGA:  Berkenalan dengan Akuntansi Ternyata Menyenangkan

Bahkan kepala sekolah berkomplot dengan guru dan pengawas dari sekolah lain untuk melakukan kecurangan agar nilai-nilai anak muridnya bagus semuanya, sehingga dibiarkannya murid-murid mencontek bahkan lebih paranya lagi seorang guru memberikan kunci jawaban di saat ujian berlangsung seperti fakta yang terjadi pada pertengahan 2016 lalu di Depok yang disinggung di atas. Naudzubillahimindzalik. Semoga tidak semua guru dan kepala sekolah seperti itu, saya yakin masih banyak guru dan kepala sekolah sebagai pengajar sekaligus pendakwah.

Saya berharap, wahai para kepala sekolah dan para guru, janganlah Anda main-main dalam urusan mengajar dan mendidik. Yang Anda lakukan kepada murid Anda di kelas, akan berdampak di masa yang akan datang. Jika mereka diajarkan curang dalam mengerjakan soal saja, itu sangat berbahaya sekali. Persoalannya tidak cukup dapat nilai ujian yang bagus, supaya anak didiknya bisa lulus ujian dan dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Belum lagi, urusannya akan berlanjut ke akhirat.

BACA JUGA:  Agar Persahabatan Tak Lekang oleh Waktu

Ingatlah para guru, tugasmu kepada murid-muridmu itu bukan hanya mengajarkan berhitung saja, bukan hanya anak muridnya mendapat nilai bagus, tapi ingatlah Engkau sedang berdakwah untuk mempersiapkan generasi yang kelak akan mengurusi umat ini. Dan ini adalah pekerjaan yang sangat-sangat serius, perlu adanya niat yang lurus, tekad yang kuat, serta kesediaan untuk memberikan pengajaran tanpa henti.

Wahai para pendidik, masa depan umat sedang Engkau pertaruhkan. Ingatlah induk segala kebohongan adalah ringannya lisan kita untuk berbohong. Maka ajarkanlah kejujuran kepada setiap murid kita. Ketika mutu pendidikan anak kita sangat menyedihkan misalkan sekolah ambruk, fasilitas yang tidak memadai, bukan sekolah unggulan dan lain sebagainya. Tapi itu sebenarnya bukan masalah yang penting sekali, ketika anak didik kita diajarkan kejujuran dan bertanggung jawab insya Allah anak didik kita tidak hanya pintar matematika tapi selalu terikat dengan aturan-aturan Islam.[]

Komentar

Berita lainnya