Amankah Berkendara Sambil Mendengarkan Musik?

Oleh: Rumondang Krisna Marpaung (FKM UI)

Ilustrasi. (Istimewa)

Mengemudi merupakan suatu kegiatan yang memerlukan kewaspadaan tinggi terutama bagi pengendara yang melakukan kegiatan ini secara monoton. Penelitian menunjukan bahwa keadaan monoton yang dirasakan pengemudi dapat mengakibatkan kurangnya stimulus eksternal yang menimbulkan rasa bosan dan kantuk (Thiffault dan Bergeron, 2003 dalam Unal et al., 2012). Rasa bosan dan kantuk tersebut dapat memengaruhi proses mengemudi (North dan Hargreaves 2008, Shek dan Schubert 2009). Demi tercapainya lingkungan kerja yang efektif dan nyaman pada dasarnya memerlukan faktor-faktor yang mendukung proses mengemudi, seperti kebiasaan mendengarkan musik saat berkendara.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, musik adalah ilmu atau seni yang menyusun nada atau suara yang bertujuan untuk diutarakan, dikombinasikan dan mempunyai hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai keseimbangan dan kesatuan, nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan (terutama yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu). Jenis-jenis musik antara lain musik rohani, klasik, impresionis, jazz, salsa, pop, rock, dan lain-lain. Setiap jenis musik memiliki tempo yang berbeda. Tempo adalah ukuran kecepatan dalam birama lagu. Beberapa jenis tempo musik antara lain grave, largo, lento, adagio, larghetto, adagietto, andante, dan lain-lain. Setiap jenis musik memiliki karakteristik dan pengaruhnya masing-masing (Abdurrahman, 2007).

Mendengarkan musik memengaruhi mood atau suasana hati seseorang (Juslin dan Sloboda 2010, Van der Zwaag dan Westerink 2010, Van der Zwaag et al. 2011). Bukti yang menyatakan bahwa musik mengubah emosi seseorang ditemukan oleh Kastner dan Crowder (1990) yang menunjukkan bahwa tempo musik yang cepat terbukti meningkatkan semangat pengemudi dibandingkan tempo musik lambat (Krumhansl 1997, Van der Zwaag et al. 2011). Selain itu, musik dapat menghilangkan rasa bosan dan kantuk sehingga lebih optimal dalam mengemudi kendaraan (North and Hargreaves 2008, Shek and Schubert 2009).

BACA JUGA:  Jelang Tayang, Para Pemain Film Gundala Sambangi Bandung Sapa Penggemarnya

Musik juga berdampak pada proses mengemudi ketika situasi jalan macet atau padat. Ternyata, musik dapat mengambil perhatian dan fokus dari pengemudi (Shek dan Schubert 2009). Kondisi pengendara yang fokus dan perhatian hanya pada musik yang didengarkan menyebabkan semakin bersaing tugas utama yaitu mengemudi. Hal tersebut dapat memengaruhi keamanan saat berkendara (Dibben dan Williamson 2007). Sebaliknya, Wiesenthal et al. (2000) menunjukan bahwa mendengarkan musik favorite dapat meredakan stress yang dialami saat keadaan macet.

BACA JUGA:  Jelang Tayang, Para Pemain Film Gundala Sambangi Bandung Sapa Penggemarnya

Lalu bagaimana bila keadaaan lalu lintas lancar? Mendengarkan musik tidak memengaruhi proses mengemudi saat situasi lalu lintas lancar, karena pengemudi tidak memiliki tuntutan tugas utama (berkendara) dengan musik yang didengarkan.

Oleh karena itu, mendengarkan musik mempengaruhi mood atau suasana hati, fokus, dan proses mengemudi baik kondisi lalu lintas macet maupun lancar. Pengemudi boleh mendengarkan musik saat berkendara, namun alangkah lebih baik jika pengemudi tetap fokus saat mengendarai kendaraan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan lalu lintas.

Komentar

Berita lainnya