oleh

Benang Kusut Putusan MA dalam Kasus Migas

Ilustrasi.
Ilustrasi.

DEPOKPOS – Ketidakjelasan masa hukuman bagi terdakwa kasus pidana khusus migas, Junaidi ST, di Palembang oleh Mahkamah Agung (MA), membuat khalayak bertanya-tanya. Padahal kasus tersebut sudah diputus pada pertengahan Mei tahun lalu, seperti dilansir website MA.

Lambatnya kinerja Mahkamah Agung (MA) dalam urusan perkara, menimbulkan pertanyaan bagi masyarakat. Pasalnya perkara tindak pidana khusus, dalam kasus migas dengan terdakwa Junaidi ST, alias Ajun, hingga saat ini belum jelas berapa lama hukumannya. Kasus ini sekarang sedang dalam proses kasasi dan sudah diputus pada 12 Mei 2015 lalu. Lalu mengapa belum jelas lamanya masa hukuman, ada apa?

Sebenarnya bukti putusan perkara kasasi yang diajukan termohon/terdakwa, Junaidi ST, alias Ajun warga Jalan Residen H. Abdul Rojak nomer 07, Kelurahan 8 Ilir II, Palembang, Sumatera Selatan tersebut, melalui Pengadilan Negeri Palembang, Sumatera Selatan. Perkaranya sudah diputus Mahkamah Agung melalui majelis hakim diketuai H. Suhadi, SH, MH, dengan anggota Margono, SH,MH, MM, dan Prof.Dr. Surya Jaya, SH,Mhum, pada 12 Mei 2015 lalu, dengan amar putusan tolak kasasi.

BACA JUGA:  Tahap IV Beasiswa Sarjana LUAS Dimulai

Ironisnya, berkas putusannya hingga saat ini tidak jelas keberadaannya, padahal kasus tersebut sudah diputus pada 12 Mei 2015 lalu dengan panitera penggantinya adalah M. Ikhas Fathoni, SH,MH, sebagaimana dilansir dalam website Mahkamah Agung.

Terkait putusan tersebut, bagian kasasi di Pengadilan Negeri Palembang, mengatakan pihaknya belum menerima berkas ataupun salinan putusan mengenai perkara tersebut. “Kami belum mengetahui putusannya,” ujarnya Kamis, 6 Oktober 2016 di Pengadilan Negeri Palembang.

Sedangkan saat dimintai komentar masalah lambannya putusan kasasi tentang kasus ini, pihak PN Palembang enggan berkomentar. “Maaf kami tidak bisa menjawab kenapa kasasi belum turun. Kami di pengadilan ini hanya terkait administrasi kelengkapan dan mengirimkannya. Silakan tanyakan ke MA masalah putusan kasasinya kenapa belum dikirim ke kami selaku pengadilan pengaju,” kata salah seorang petugas di PN Palembang yang tidak berkenan menyebutkan namanya.

Seperti diketahui pada persidangan awal, Kejaksaan Negeri Palembang menuntut Junaidi ST, alias Ajun dengan pidana penjara selama 3 tahun dan 6 bulan penjara denda Rp10 miliar subsidair 6 bulan kurungan. Namun, PN Palembang melalui majelis hakim pimpinan Ade Kamarudin pada 19 Juli 2012 menjatuhkan hukuman 10 bulan penjara dengan masa percobaan 1 tahun, denda Rp 25 juta subsidair 2 bulan kurungan.

BACA JUGA:  Peningkatan Sektor UMKM Lokal dengan Sistem E-Commerce

Atas putusan pengadilan itu, Kejaksaan Negeri Palembang tidak terima dan langsung mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT). Di PT, Junaidi mendapatkan hukuman 1 tahun penjara, denda Rp 500 juta subsidair 2 bulan kurungan. Berdasarkan putusan nomor 183/Pid.Susu/2012. PT. Plg tersebut, terdakwa Junaidi ST, alias Ajun mengajukan kasasi ke MA dan pihak kejaksaan mengikutinya dengan menyampaikan akta kasasi ke MA melalui PN Palembang. Hasilnya pada 12 Mei 2015, MA menjatuhkan putusan yang bunyinya menolak kasasi dari terdakwa Junaidi ST, alias Ajun.

Kronologis

Seperti yang terlapir dalam tuntutan jaksa, menyatakan bahwa terdakwa Junaidi terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melanggar UU Migas. Karena dengan sengaja merugikan pemerintah dengan cara membeli bahan bakar minyak yang bersubsidi menggunakan puluhan truk tangki diantaranya dengan tangki bernomor polisi D.8993-SC, BG.8343-UD, BG.8833-UB, BG.8506-UB, BG.8654-AO, BG.8150-UN, BG.8412-MG dengan cara menyewa milik Nurlela (DPO).

BACA JUGA:  Pendakian Gunung Gede Pangrango Kembali Ditutup

BBM yang sudah ada di tangan terdakwa melalui depo pasir milik CV Surya Gemilang ditampung kemudian dikapalkan menggunakan tug boat. Perkara tersebut mencuat setelah Tri Yuliadi dan Ahmad Faisal dari Direktorat Reserse Kriminal Polda Sulawesi Selatan menangkap Raden Soad dan Sianturi selaku Nakoda dan kepala kamar Tug Boat Pelawan. Awak kapal dan BBM diamankan dari perairan Sungai Musi Palembang tepatnya di Kecamatan Gandus, Palembang.

Kasus penangkapan dan penyitaan baik truk tangki maupun BBM yang sempat menghebohkan warga Palembang dan juga jajaran kepolisian Polda Sumsel, kala itu juga sudah menyidangkan Khoirul, SE bin H. Sarkawi serta Sobari alias Toni (berka terpisah) disebut bersama-sama dengan terdakwa Junaidi ST, alias Ajun. Saat itu terdakwa Khoirul dan Sobari sudah dihukum dan telah menjalani hukuman. Namun, terdakwa Junaidi ST, alias Ajun tetap melakukan perlawan hingga saat ini. Dia mengajukan kasasi ke MA, karena putusan PT Palembang menghukumnya 1 tahun penjara.

Komentar

Berita lainnya