oleh

Lestarikan Budaya Betawi Harus Sinergi, Tak Bisa Dilakukan Sendiri

Live Update COVID-19 Indonesia

3.512
Positif
306
Meninggal
282
Sembuh

Live Update COVID-19 Dunia

1.614.405
Positif
96.789
Meninggal
362.409
Sembuh

orang_betawi_mp9tdk.jpg

DEPOKPOS – Harus diakui, banyak anak Betawi masa kini yang kurang mendapat apesiasi dari Lembaga Kebudayaan Betawi yang ada, sehingga mereka tercecer dengan mendirikan komunitas dan agendanya masing-masing secara swadaya dan nafsi-nafsi. Khazanah Betawi yang beragam itu menjadi kurang berkembang, karena kurangnya sinergis tadi. Padahal punya tujuan yang sama, mengembangkan seni dan budaya Betawi.

Wadah bersama. Itulah yang harus dijembatani dari berbagai komunitas Betawi yang tercecer. Menanggapi hal itu, Pengelola Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Indra Sutrisna merespon harapan itu.

“Welcome saja, selama kontennya berkesesuaian dengan pengembangan budaya Betawi. Kenapa nggak. Anak muda bisa kok menyalurkan ekspresinya dengan memanfaatkan ruangan yang ada. Terpenting, antara tradisi dan semi modern harus seimbang. Jangan yang modern berkembang terus, tapi akarnya menjadi hilang. Itu yang menjadi masalah,” kata Bang Indra.

Jika kalangan orang tua ingin punya rumah replika adat Betawi atau Belandongan, yang muda ingin sarana latihan, atau kunjungan anak sekolah, misalnya bagaimana cara membuat dodol Betawi, bagaimana proses pembuatan batik Betawi dan sebagainya.

Dikatakan Bang Indra, kehidupan budaya Betawi itu dinamis. Ada Betawi pesisir, tengah, dan pingggir. Masing-masing wilayah punya perbedaan dan karakternya sendiri.

“Nggak bisa dipaksakan, bahwa budaya Betawi cuma satu. Ada pengaruh lain yang menjadikan khazanah budaya Betawi menjadi berwarna. Tapi tidak masalah, masing-masing karakter dikembangkan saja. Jika ada komunitas Betawi di kawasan Jakarta, Depok, Bekasi dan Tangerang, selama tujuannya untuk gedein budaya Betawi, dan menjadi tuan rumah di kampungnya sendiri, atau istilah kerennya, mengangkat harkat dan martabat Betawi, kenapa nggak. Asal tidak saling bertubrukan. Masing-masing bisa saling melengkapi,” papar Bang Indra.

Jika ada komunitas pencak silat Betawi dengan berbagai alirannya, mereka bisa berbuat semampunya untuk melestarikan seni dan budaya Betawi. “Kalau ngejar yang gede, gak sampe. Jadi bisa saja saling melengkapi dan sinergis.”

“Di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan pernah munculin Festival Betawi Bekasi. Yang jadi masalah adalah ketika menggunakan anggaran Pemda DKI, tidak bisa menghidupi daerah yang berada di luar Jakarta. Ini terkait masalah sistem.”

Betawi yang Mendunia

Di Miladnya yang 16, Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan terbukti menjadi perhatian wisatawan, bukan hanya domestic, tapi juga mancanegara. Tak hanya destinasi wisata, budaya Betawi di Setu Babakan banyak dikunjungi oleh para peneliti dari sejumlah negara, seperti Perancis, Amerika, Inggris, Jepang dan negara lainnya.

“Saat ini ada bule berkebangsaan Prancis sedang meneliti Budaya Betawi di Setu Babakan. Namanya Lara Cerosky. Sudah seminggu, wanita yang studi di Jerman ini nginap di Rumah Haji Entong, di sekitar Setu Babakan. Bulan Oktober nanti, Setu Babakan kembali akan dikunjungi wisatawan dari 20 negara. Bahkan tahun 2009, sempat digelar Kemping Damai Pramuka Internasional .

Pada tanggal 17 Agustus lalu, ada 300 mahasiswa dari 27 negara datang mengunjungi Perkampungan Budaya Betawi d Setu Babakan. Forum Forum Pengakajian dan Pengembangan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, juga pernah terima sembilan profesor, peneliti asal Amerika Serikat, Inggris dan Jepang.

“Kami perkenalkan budaya Betawi pada dunia. Nah, untuk memperkenalkan budaya Betawi secara utuh dan komprehensif, tentu harus dilengkapi dengan sarana prasarananya. Sehingga akses untuk mendapatkan informasi terkait kesenian dan kebudayaan Betawi, khususnya di Setu Babakan, menjadi lebih mudah dan terpenuhi,” kata Indra yang menjabat sebagai Sekretaris Forum Pengakajian dan Pengembangan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. (des)

Komentar

Berita lainnya