oleh

Sekolah Pribadi Depok Bantah Tuduhan Organisasi Teroris Turki

pribadi.jpgDEPOK – Sekolah Pribadi Bilingual Boarding School di Depok membantah tuduhan bahwa sekolah tersebut terkait organisasi teroris Fethullah (FETO) dan tetap menjalankan kegiatan belajar-mengajar seperti biasa.

Walaupun ada perintah penutupan dari Kedutaan Turki di Indonesia, pasca kudeta gagal menjatuhkan Presiden Tayip Erdogan. Pihak Yayasan Yenbu menyatakan hal ini tidak ada kaitan dengan politik.

Juru Bicara Yayasan Yenbu Indonesia untuk SD, SMP, dan SMA Pribadi Depok, Ari Rosandi mengatakan tudingan dari pihak Kedutaan tersebut tanpa dasar dan bukti.

“Kita semua baik dari yayasan maupun orang tua murid syok dan kaget mendengar bahwa sekolah kita disinyalir mengajarkan ajaran teroris pasca Kudeta di Turki. Tudingan yang diambil Kedutaan Turki di Indonesia sangat kejam dan membuat orang tua murid geram,” ujarnya usai jumpa pers di ruangannya Sekolah Pribadi Jalan Margonda, Kemiri Muka, Beji Kota Depok, Jumat (29/7) siang.

BACA JUGA:  Jokowi Tegaskan Kepada Seluruh Jajarannya untuk Mengawal Penyaluran Bansos

Sekolah Pribadi Bilingual Boarding School sendiri dibangun tahun 1995 oleh Aip Sarifudin selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan Yenbu. Saat itu hanya dibangun tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Lalu, pada tahun 2000 dibuka jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan kemudian di tahun 2002 dibuka jenjang Sekolah Dasar (SD).

“Aip Sarifudin ini orang Indonesia banyak berteman dengan orang Turki. Lalu tumbuh tujuan visi dan misi yang sama untuk membuat sekolah setelah itu yayasan berdiri sampai Sekolah Pribadi ini ada,” ujarnya.

BACA JUGA:  Menperin Optimistis Ekonomi Tumbuh 5,5 Persen Tahun 2021

Ari Rosandi mengklarifikasi bahwa pihaknya tidak bekerja sama dengan pihak Turki atau Pasiad sama pemerintah tidak diperpanjang setelah tahun 2015 pada 1 Nopember diputus bentuk kerjasamanya dengan pihak Kemendikbud.

“Kita mempunyai 30 tenaga pengajar guru mayoritas Indonesia, dua diantaranya mengajar Bahasa Inggris berasal dari Kyrgeistan dan guru komputer dari Turki,”paparnya.

Pihaknya sudah mengantongi izin resmi pendirian sekolah dari Dinas Pendidikan Kota, Kabupaten, maupun Propinsi Jawa Barat.

BACA JUGA:  Awal Tahun, ACT Kembali Aktivasi Humanity Care Line

“Mana mungkin jika ada rekomendasi izin langsung dari pemerintah RI berdirinya sekolah, tanpa alasan dan sebab tiba-tiba pemerintah Turki meminta untuk ditutup alasan mengajarkan diduga teroris, suatu alasan yang tidak masuk akal dan tanpa ada surat edaran pemberitahuan. Kurikulum yang kita ajarkan menggunakan nasional dan bahasa sehari-hari bahasa Inggris,”paparnya. (Claudia/Depokpos)

Komentar

Berita lainnya