oleh

Cara Mempidanakan Rentenir

rentenir-212.jpgPada tulisan sebelumnya sudah dijelaskan bahwa apa yang dilakukan rentenir dengan meminjamkan uang dengan bunga yang mencekik merupakan perbuatan legal dan dibenarkan menurut hukum positif di Indonesia. (Baca: Bisakah Rentenir Dipidana?)

Hal ini berdasarkan ketentuan Pasal 1765 KUH Perdata, yang merumuskan “bahwa adalah diperbolehkan memperjanjikan bunga atas pinjaman uang atau barang lain yang habis karena pemakaian”.

Maka dipastikan bagi siapapun yang berhubungan dengan rentenir akan mengalami kesulitan luar biasa kemudian hari karena memang hampir tak mungkin mempidana mereka dan jerat hukum yang ada saat ini juga terkesan melindungi praktik yang sangat dzalim ini.

Para rentenir ini juga sudah “melek hukum” dan sangat pandai memainkan celah hukum yang ada sehingga selain menjerat korbannya dengan bunga yang luar biasa, mereka juga bisa menjerat korbannya dengan jerat hukum pidana.

Pada banyak kasus, para rentenir ini tak menyebutkan nominal di kuitansi itu peruntukannya sebagai pinjaman, tapi titipan. Para rentenir lebih suka pakai istilah “uang titipan” daripada “uang pinjaman”. Kenapa? Karena dengan istilah itu, uang milik rentenir seolah-olah ‘dititipkan’ kepada peminjam.

Lantaran statusnya sebagai “uang titipan”, maka bila si peminjam gagal membayar bisa diperkarakan secara hukum sebagai penggelapan. Sedangkan besaran bunga yang dikutip rentenir hanya disebut secara lisan saja alias tidak tertulis dalam kuitansi atau surat perjanjian antara rentenir dengan peminjam.

Sudah banyak kasus rentenir yang mengancam korbannya yang gagal bayar ke polisi dengan tuduhan penggelapan. Bahkan dari sekian kasus ini sudah ada yang disidangkan ke meja hijau.

Bagaimana cara mempidanakan rentenir?

Pada banyak kasus, pelaku rentenir akan melakukan ancaman atau bahkan aksi kekerasan melalui debt collector kepada pihak peminjam yang telah melewati batas waktu pembayaran.

Dari segi hukum, aksi-aksi kekerasan walau sekedar ancaman, bisa dilaporkan ke polisi karena merugikan dan mengganggu kenyamanan.

Pelaku bisa dijerat hukum dengan pasal 335 ayat 1 KUHP tentang perbuatan tak menyenangkan. Dalam pasal itu disebutkan ancaman pelaku kekerasan bisa dipenjara paling lama setahun atau denda Rp 4.500.

Jika sirentenir tak mengancam?

Dalam hal  ini, sebenarnya korban bisa menggunakan kelemahan dalam istilah “uang titipan” sebagaimana yang biasa ditulis rentenir dalam kuitansi yang mereka sertakan.

Karena jelas dalam istilah “uang titipan” dan “uang pinjaman” memiliki makna yang sangat berbeda. Jika para para rentenir bisa mengguanakan celah ini untuk mengelabui jerrat hukum, maka korbannya juga sebenarnya bisa menggunakan istilah “uang titipan” tersebut untuk lepas dari bunga dan hanya membayar pokok pinjaman saja.

Jika di kuitansi menggunakan istilah uang titipan maka secara hukum otomatis para rentenir tak bisa menuntut bunga dari peminjam. Karena statusnya sebagai uang titipan dan bukan uang pinjaman. Beda kasus kalau dalam kuitansi itu disebut sebagai pinjaman yang bisa dikenai bunga.

Kelemahan kedua adalah, pengenaan bunga biasanya dilakukan secara lisan alias tak tertulis. Lantaran lisan maka dasar hukumnya tak kuat. Korban bisa lepas dari jerat hukum karena tak ada perjanjian tertulis soal besaran bunga yang harus dibayar.

Lalu bagaimana agar terlepas sepenuhnya dari jeratan rentenir?

Mudah saja, jangan pernah dekati rentenir, jangan meminjam dari mereka. Sepintas terlihat bahwa rentenir ini adalah malaikat penolong yang ada saat dibutuhkan. Namun dibalik itu, mereka telah menyiapkan tali-tali yang siap menjerat leher anda hingga mati.

Muhammad Ihsan

Komentar

Berita lainnya