oleh

Stop Bullying!

Ilustrasi. (istimewa)
Ilustrasi. (istimewa)

Bel tanda istirahat berbunyi, tak peduli pada gurunya yang belum keluar kelas, anak-anak itu berlarian keluar untuk menuntaskan rasa lapar mereka dan kejenuhan yang sempat dirasakan.

Di dalam kelas itu tinggalah seorang anak perempuan yang duduk seorang diri. Ia mulai membuka bekalnya dan memakannya sendirian. Bukannya tidak ingin membagi bekalnya pada siapapun, hanya saja ia tidak memiliki seorangpun yang bisa ia bagi bekalnya itu. Ia bahkan tidak memiliki seorang teman satupun di kelasnya. Ia anak yang pemalu dan tidak mudah bergaul.

Sudah terhitung tiga kali ia pindah sekolah karena tidak memiliki teman dan malu pada dirinya sendiri. Sejak dulu, ia sudah menjadi bahan ledekan teman-temannya karena memiliki fisik yang kurang sempurna. Tubuhnya pendek dan tidak bisa menjadi tumbuh seperti anak-anak lainnya. Tubuhnya setara dengan anak TK jika disandingkan bersama.

Pindah sekolah tidak menjadi solusi untuknya. Di sekolah yang baru ia tetap tidak memiliki teman, semua teman laki-lakinya meledeknya dengan panggilan ‘boncel’. Seharusnya ia sudah terbiasa dengan panggilan itu, hanya saja rasanya begitu menyakitkan ketika seseorang mengucapkannya dengan nada meremehkan. Entah sudah berapa banyak air mata yang keluar setiap malamnya saat ia sendirian di dalam kamar.

***

Suatu malam yang dingin, hujan deras yang sempat mengguyur selama satu jam telah berhenti begitu juga dengan sambaran petir yang mengerikan telah hilang. Saat semua orang sudah terlelap dalam tidurnya, anak perempuan itu terbangun dan melangkahkan kakinya menuju toilet. Ia membasuh dirinya dengan air wudhu dan segera bergegas menunaikan sholat tahajudd.

Kedamaian itu bisa ia rasakan. Hanya Tuhan yang mau mendengarkan segala kesedihannya. Ia mencurahkan semua isi hatinya dan terisak tertahan, tidak ingin kedua orang tuanya terbangun dan ikut sedih. Ia tidak ingin melihat ibunya menangis dan kembali menyalahkan dirinya yang tidak bisa menjaga kandungannya sehingga anak perempuannya itu mengalami ketidaksempurnaan.

Ia terus menangis hingga ia merasa lelah dan tertidur di atas sajadah masih lengkap dengan mukenah yang menyelimuti tubuhnya. Tanpa sepengetahuannya, seorang anak perempuan seusianya yang tertidur di kamar sebelah terbangun dan menyaksikan tangisan anak perempuan itu. Ia ikut sedih atas apa yang menimpa saudara jauhnya itu. Ia bahkan tidak menyangka jika senyum yang selalu diperlihatkan saudara jauhnya itu menjadi tameng atas segala kesedihan yang dirasakan.

Tuhan begitu adil, jika seseorang memiliki kekurangan, maka orang itu diberikan kelebihan juga. Ia lulus dengan nilai yang baik, masuk perguruan tinggi negeri di Bandung dengan mudah dan dengan kerja kerasnya anak perempuan yang dulunya diejek karena ketidaksempurnaan fisiknya itu, akan menjadi wanita yang sukses. Sekarang ia memiliki banyak teman dan tidak lagi ada orang yang mengejeknya.

Cita-citanya sederhana, hanya ingin menjadi seorang guru dan mendidik anak-anak muridnya agar memiliki kebaikan hati yang mulia. Mengajarkan jika semua manusia itu sama di mata Tuhan, tidak ada yang lebih tinggi maupun rendah. Ia ingin generasi muda terbebas dari budaya bullying.

“Mungkin, aku salah satu dari banyaknya orang yang pernah di bully dengan ejekkan saat masih sekolah. Di luar sana masih banyak lagi, bahkan jika tidak sanggup menahan kesedihan karena diejek banyak yang berakhir bunuh diri. Aku tidak ingin mengakhiri hidup hanya karena masalah ini, masih banyak hal yang ingin aku gapai, aku hanya akan kerja keras dan membuktikan kepada mereka semua yang pernah membully ku. Aku bahkan tidak pernah membenci mereka sedikitpun,” ujar anak perempuan itu.

Masihkan kita meremehkan seseorang? seseorang yang kalian anggap remeh sekalipun suatu saat nanti akan membuat kita terkejut dengan kesuksesan yang akan ia raih. Terkadang, sebuah cacian, hinaan dan makian bisa menjadi sumber kekuatan bagi seseorang agar bisa lebih sukses lagi dari orang-orang yang meremehkannya. STOP BULLYING!

Aulia Claudia Putri

Komentar

Berita lainnya