oleh

Kemenhub Tawarkan Proyek KA Sulawesi – Sumatera ke Jepang – Tiongkok

Kereta Prameks

Ilustrasi (Ist)

JAKARTA, 3/5 – Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan mencoba menawarkan proyek kereta api (KA) Trans Sulawesi dan Trans Sumatera kepada investor asing, yaitu Jepang dan Tiongkok.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Hermanto Dwiatmoko usai seminar kebangsaan yang bertajuk “Peran Perkeretaapian dalam Mendukung Sistem Transportasi Nasional sebagai Strategi Pemerataan Pembangunan Nasional,” di Universitas Mercu Buana, Jakarta, Senin, mengatakan penawaran tersebut untuk pembiayaan proyek kereta api karena anggaran untuk tahun ini dipotong 10 persen dalam rangka efisiensi.

“Untuk APBN 2016 dipotong 10 persen atau sekitar Rp3,7 triliun dari Rp48,5 triliun (total anggaran untuk Kemenhub),” katanya.  Hermanto mengungkapkan alasan pemotongan tersebut, yaitu karena bertambahnya pendapatan dari pajak dan lainnya.

BACA JUGA:  Pendakian Gunung Gede Pangrango Kembali Ditutup

Dia menambahkan pemotongan tersebut juga berlaku di seluruh sektor Kemenhub, bukan hanya di Ditjen Perkeretaapian.

Hermanto menuturkan dampak dari efisiensi tersebut, yakni sejumlah proyek yang berpotensi tertunda penyelesaiannya karena kurangnya biaya. “Pengaruhnya paling dari segi waktu akan bergeser ke belakang waktu penyelesaiannya,” katanya.

Artinya, lanjut dia, proyek-proyek yang ditargetkan akan selesai 2019, kemungkinan besar akan mundur, seperti Trans Jawa, Sumatera Sulawesi, Kalimantan dan Papua.

“Ya sepertinya tidak akan selesai, tetapi yang terpenting kita sudah memulainya terlebih dahulu,” katanya.

Untuk Trans Sumatera sendiri sudah terbangun 80 kilometer, sementara untuk Sulawesi, yaitu 20 kilometer, sementara untuk Papua masih dilakukan pembebasan tanah.

BACA JUGA:  Tahap IV Beasiswa Sarjana LUAS Dimulai

Hermanto berjanji akhir tahun ini pembebasan lahan untuk Trans papua selesai melalui koordinasi dengan pemerintah derah, terutama tanah adat karena diperlukan sosialisasi terlebih dahulu.

“Studi kelaikannya sudah antara Sorong dan Manokwari dan untuk trasenya ada dua Sorong-Ayamaru dan Manokwari-Bintuni,” katanya.

Namun, dia mengaku kesulitannya menawarkan pada investor asing, yakni mereka mempertimbangkan keuntungan proyek tersebut.

“Jika tidak untung, mereka tentu tidak akan mau, sedangkan yang pemerintah bangun itu umumnya yang tidak menguntungkan, misalnya Trans Papua,” katanya.

Terkait pengajuan pinjaman, menurut dia, umumnya investor tidak berminat apabila tingkat penumpangnya tidak sebanding, dengan kata lain tidak menguntungkan.
“Murni pinjaman, tidak dalam bentuk kerja sama karena mereka tidak mau kalau enggak untung,” katanya.

BACA JUGA:  Peningkatan Sektor UMKM Lokal dengan Sistem E-Commerce

Dia mengatakan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan telah bertolak ke Jepang dan Tiongkok untuk membicarakan hal tersebut.

Pada 2030, Kemenhub menargetkan jaringan KA nasional sepanjang 12.100 kilomter (Pulau Jawa-Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua), termasuk jaringan KA perkotaan sepanjang 3.800 kilometer.

Selanjutnya, sarana angkutan penumpang dengan jumlah lokomotif 2.805 unit, kereta api penumpang sebanyak 27.960 unit serta angkutan barang dengan jumlah lokomotif 1.995 unit dan gerbong 39.655 unit. (Getar)

Komentar

Berita lainnya