oleh

Anak Sebagai Korban Kejahatan Media Digital

Kita menyadari kalau media digital bagi anak dan remaja memberikan kesempatan untuk akses informasi global, sumber edukasi, jaringan sosial antarteman, tempat untuk mendapatkan hiburan, games, dan partisipasi dalam komunitas online. Namun, selain itu terdapat risiko yang mengintai, seperti berkeliarannya pedofil di dunia maya, penyebaran kebencian, informasi yang tidak jelas kebenarannya, penyalahgunaan data pribadi, hacking, penculikan, cyber-bullying atau gangguan pada anak yang terjadi melalui internet, dan masih banyak risiko lainnya.

Pada 2014 pemerintahan kita, di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika, bekerja sama dengan UNICEF melakukan riset yang melibatkan anak dan remaja usia 10-19 tahun yang tersebar di seluruh negeri dan mewakili wilayah perkotaan dan perdesaan dengan judul “Keamanan Penggunaan Media Digital pada Anak dan Remaja di Indonesia”, menemukan fakta bahwa setidaknya ada 30 juta anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet.

Pornografi

Permasalahan eksploitasi dan kejahatan seksual terhadap anak selalu menjadi perbincangan serius akhir-akhir ini, hal ini terlihat pada pemberitaan media baik itu media elektronik, media cetak maupun media televisi. Mudahnya akses terhadap konten pornografi melalui media internet juga menjadi salah satu penyebab utama kejahatan seksual anak di Indonesia.

BACA JUGA:  Hati-hati Jangan Jongkok di WC Duduk

Motivasi anak-anak dan remaja menggunakan internet, yaitu untuk mencari informasi, terhubung dengan teman (lama dan baru), dan untuk hiburan. Pencarian informasi dilakukan karena adanya tugas sekolah. Sedangkan, penggunaan media sosial dan konten hiburan didorong oleh kebutuhan pribadi. Sayangnya, terkadang rasa penasaran anak-anak terhadap sesuatu menimbulkan rasa ingin tahu untuk mengakses situs-situs yang dilarang untuk anak seusianya. Terlebih lagi jika tidak mendapat pengawasan dari orang tua.

Peran orang tua

Adapun, peran orang tua di rumah untuk mendukung anak menggunakan internet dengan aman,pertama, membatasi waktu anak menggunakan internet (pembagian waktu untuk belajar, bermain games, dan aktivitas di komunitas online).

Kedua, dengan monitoring, yaitu mengawasi teman yang ditambahkan ke kontak anak di profil jejaring sosial atau aplikasi pesan serta mengawasi dengan siapa saja ia berkomunikasi via chat di media sosial serta status-status sang anak yang ia tulis di halaman media sosial miliknya.

Ketiga, memberlakukan pembatasan ketika mengunggah foto, video, pembatasan informasi pribadi yang bisa dilihat oleh publik maya, pembatasan ketika menonton video di internet, dan film di internet.

BACA JUGA:  Istilah-Istilah Pinjaman Online yang Wajib Diketahui

Peran orang tua berikutnya diberikan oleh salah seorang ibu tiga anak. “ Kita sebagai orang tua perlu melakukan pengawasan aktif dalam hal keamanan menggunakan internet, seperti memberikan arahan bersikap terhadap orang lain di dunia maya dan penanganannya jika ada yang melakukan bully. Melakukan diskusi dengan anak terhadap hal-hal yang membuatnya penasaran,” ujar Hera.

Peran Sekolah

Hera juga melanjutkan pentingnya peran sekolah dalam membantu mencegah anak-anak menjadi korban kejehatan media digital. Hera merupakan seorang guru bimbingan konseling disalah satu sekolah di Jakarta.

“Jika ada tugas yang harus mengakses internet, para guru sebelumnya harus memberikan pengertian pada anak untuk tidak membuka konten-konten berbau pornografi yang terkadang suka muncul dibeberapa situs sebagai iklan. Berikan pengertian bahayanya membuka konten berbau pornografi tersebut bagi anak, jangan hanya melarang namun kita tidak memberikan pengertian yang justru nantinya anak akan semakin bertanya-tanya,”ujarnya.

Peran orang tua maupun sekolah tentunya sangat penting demi mencegah anak-anak menjadi korban media digital. Keduanya harus bekerja sama dalam mendidik anak-anak. Jika saja keduanya bekerja sama dengan baik, tentunya akan ada banyak anak-anak, generasi penerus bangsa yang terhindar dari bahayanya media digital yang sangat bebas ini.

BACA JUGA:  Hati-hati Jangan Jongkok di WC Duduk

Bisa kita ambil kasus saat saya melihat sebuah komentar di media sosial yang ditulis oleh anak-anak usia 15 tahun di halaman milik teman sekelasnya. Mereka menuliskan kata-kata yang menyakitkan berupa ejekan. Perilaku tersebut tentunya tidak mendapatkan pengawasan dari orang tua maupun guru. Sampai anak perempuan yang mereka ejek itu menjadi tertekan di rumahnya. Setelah beberapa bulan, orang tua anak perempuan itu menyadari perubahan sang anak, jika ditanya anak itu akan menggeleng dan tak mau menjelaskan.

Akhirnya, orang tua anak itu melihat akun media sosial anaknya dan melihat ejekan-ejekan yang dilakukan teman-teman sekolahnya begitu menyakitkan dan membuat sang anak tertekan. Setelah itu, kedua orang tuanya datang ke sekolah dan meminta bantuan para guru untuk membantu anaknya yang menjadi korban cyber bullying. Anak perempuan itu adalah salah satu teman dekat saya.

Dari kasus tersebut, jelaslah sudah jika peran orang tua, keluarga, dan sekolah sangatlah penting. Mari melakukan perannya masing-masing demi mencegah bertambahnya anak-anak menjadi korban dari media digital.

Aulia Claudia Putri

Komentar

Berita lainnya