oleh

Pengamat UI: Depok Jangan Malu Minta Bantuan Universitas Atasi Macet

depok-margonda.jpg

DEPOK – Kemacetan di Depok dinilai tidak akan terobati bila sistem angkutan umumnya belum dikelola dengan baik. Bahkan sistem transportasi di Depok dianggap sudah kedaluwarsa. Pasalnya, Kota Depok masih menerapkan sistem angkutan kota, yang dikelola perorangan.

Hal tersebut dikatakan oleh pengamat Tata Kota Universitas Indonesia Lisman Manurung.

“Ini menjadi masalah. Seharusnya angkutan umum dikelola sepenuhnya oleh pemerintah. Jangan perorangan. Angkot di Depok jadi hambatan,” ucapnya seperti dikutip tempo, Senin (7/3).

Lisman melihat sebagai kota penyangga ibu kota Jakarta, Depok belum mempunyai basis transportasi umum yang terencana. Padahal, layanan angkutan umum sangat dibutuhkan masyarakat.

BACA JUGA:  Lakukan Kegiatan Positif Agar Tak Gampang Stres

“Depok belum mampu membenahi transportasi umumnya,” ucapnya.

Selain penyediaan transportasi massal yang baik, Depok juga mesti menyediakan infrastruktur penunjang yang layak untuk masyarakat. Sehingga, pengguna kendaraan pribadi bisa beralih ke moda transportasi umum yang disediakan pemerintah.

Menurut Lisman, Depok jangan pernah malu meminta bantuan universitas untuk memberikan konsep transportasi massal di Depok. Tujuannya, agar kemacetan di Depok, bisa terurai. Yang penting, berikan kenyamanan warga Depok, mengaskes transportasi.

“Depok punya UI, Gunadarma dan kampus lainya. Minta saja saran dan konsep yang tepat untuk trasportasinya,” tuturnya.

BACA JUGA:  Idris Ajak Warga Depok Baca Qunut Nazilah dan Tetap Patuhi Protokol Kesehatan

Adapun titik kemacetan di Depok berada di Jalan Raya Sawangan, Limo, Margonda, Tole Iskandar, perlintasan sebidang Citayam. Simpang Kodim, Simpang Tanah Baru, Simpang Sengon-Kartini-Siliwangi, Simpang Al Huda, Simpang KSU, Simpang Raden Saleh dan Jalan Juanda yang hanya memiliki sedikit putaran untuk berbalik arah hingga terjadi penumpukan arus.

Sementara Kepala Bidang Lalu Lintas Kota Depok, Eddy Suherman mengatakan, infrastruktur dan perkembangan jumlah kendaraan bermotor tak seimbang. Hal tersebut disebabkan oleh kapasitas jalan dan jumlah kendaraan yang tidak seimbang.

BACA JUGA:  Jelang Munas V(irtual) Hidayatullah Gelar Berbagai Acara

“Saat ini tingkat volume kendaraan di Depok sudah berada dititik 0,8. Diperkirakan pada 2020 lalu lintas di jalan akan tidak bergerak,” tutur Eddy.

Tercatat saat ini tingkat pertumbuhan jalan di Depok 0,7 persen. Sedangkan tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor 9 persen. Solusi terhadap kemacetan, selain meningkatkan kapasitas diperlukan penambahan jalan baru.

Lebih lanjut, Eddy menambahkan, tingkat kemacetan diperparah dengan masih rendahnya kedisiplinan para pengendara. Selain itu, jam masuk dan pulang sekolah di Depok juga dinilai mempengaruhi kemacetan. (san)

Komentar

Berita lainnya