oleh

Ulama Depok: Kota Pendidikan dan Kota Layak Anak, Tapi Punya Gudang Miras

(foto de/depokpos)
(foto des/depokpos)

Depok, (1/2) – Selama ini Depok dikenal sebagai Kota Pendidikan, Kota Layak Anak, dan Kota Religi, tapi kenyataannya Depok dijadikan sebagai gudang minuman keras alias miras. Gudang miras itu ada di Kecamatan Sukmajaya, Depok. Tepatnya di Pasar Agung. Bahkan, hampir semua kecamatan dan kelurahan di Kota Depok, ada penjual miras. Bahkan di sekitar masjid, majelis taklim, pesantren, dan sarana pendidikan lainnya.

“Begitu mudahnya masyarakat mendapatkan miras, dari yang tua hingga yang muda. Mereka bebas membeli miras, bukan hanya di jalan-jalan raya utama, tapi juga sampai masuk ke gang-gang kecil. Belum lama ini, di Depok, dalam sebuah pertunjukkan music Reggae, anak muda, termasuk yang perempuan bebas membawa miras, dan mabuk-mabukan di jalan,” ungkap tokoh masyarakat yang juga ulama Kota Depok, KH. Abubakar Madris di Gedung DPRD Kota Depok, Jumat (29/1) sore.

Dikatakan Abubakar Madris, keberadaan miras di lingkungan ini bisa membuat kepercayaan masyarakat terhadap ulama menjadi berkurang, karen miras dibiarkan. Dimana wibawa seorang ulama? “Bukan hanya ulama yang jatuh wibawanya, tapi juga polisi sebagai aparat penegak hukum. Akibat miras dibiarkan, masyarakat tidak lagi menghargai polisi. Begitu juga dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang membuat Perda Miras sebagai perda banci.”

BACA JUGA:  Pilkada Depok 2020: Pradi-Afifah Nomor Urut 1, Idris-Imam Nomor Urut 2

“Bukan sesekali, penjual miras ditangkap, kemudian dilepas kembali oleh polisi. Jika aparat tidak juga bergerak, dan Perda ini tidak segera direvisi, FPI bersama masyarakat akan bergerak sendiri, apapun resikonya. Yang jelas, FPI tidak akan bertindak, sebelum melayangkan surat kepada pihak aparat. Jika tidak ada tanggapan, barulah kita yang bergerak. Polisi tidak bisa bertindak, karena Perda atau payung hukumnya tidak tegas. Polisi hanya bisa bergerak jika ada laporan dari masyarakat.”

Perda Banci

Ulama Depok KH. Abubakar Madris menegaskan, Perda Miras bukanlah perda yang melaras miras, melainkan perda pengendalian miras. Pantas, jika Perda ini sebagai perda banci. Karena itu, kami mendesak DPRD Kota Depok segera merevisi perda tersebut.

BACA JUGA:  Kampanye Pilkada 2020 Harus Terapkan Protokol Ketat

Sebagai warga Depok, Abubakar Madris kecewa dengan DPRD yang hanya melahirkan Perda banci, perda yang tidak tegas memberi efek jera kepada penjual miras dan mafianya. Berbeda dengan Jakarta yg besar, Depok itu kota kecil yang dijadikan sebagai tempat transit miras yang dikirim dari daerah lain, dengan menjadikan Depok sebagai gudang miras.

“Kami kecewa, jika miras yang digeruduk oleh Satpol PP. Seharusnya polisi yang bertindak. Kami bertekad untuk memerangi dan memberantas miras. Jika polisi tidak bertindak, jangan salahkan kami untuk bertindak,” tegasnya.

Abubakar Madris mencatat, setidaknya ada 15% kenaikan miras di Depok tiap tahun. Tahun 2014 ada 34.000 botol yang disita kemudian tahun 2015 naik menjadi 35.500 botol, naik 15%. “Ada Perda, bukannya malah turun dan berkurang turun, justru malah meningkat. Bumihanguskan miras dari Depok yang menjadi Kota Layak Anak. Jangan sampai kemaksiatan ada di sini,” tandasnya.

BACA JUGA:  Prototipe Angkot AC di Depok Siap, Bisa Bayar Non Tunai

Dikatakan KH. Abubakar Madris, Depok adalah wilayah yang diberikan otonom untuk mengatur wilayahnya sendiri. Karena itu, Perda yang mengatur tentang minuman yang beralkohol harus 0%. Sangat disayangkan lagi, jika sanksi pidana yang dijatuhkan hanya tiga bulan penjara. Itu pun paling lama. Bahkan hanya dua hari mereka sudah dilepaskan. Ini menunjukkan mafia miras begitu kuatnya. Seharusnya sanksi yang diberikan minimal 10 tahun.

Warga Depok sudah jatuh korban gara. Belum lama ini, seorang pemuda di Kampung Lio, Kecamatan Pancoranmas, mati cuma-cuma setelah menenggak miras oplosan. Bahkan, ditenggarai, ada anggota dewan yang sedang mabuk miras di sebuah Pusat Perbelanjaan modern di Depok. Sungguh sangat memprihatinkan sekali. Kita tak ingin ada lagi generasi bangsa yang menyia-nyiakan hidupnya karena miras.(Des Parlente)

Komentar

Berita lainnya