oleh

Ulama Depok: Jangan Biarkan Penyakit Masyarakat Berkembang di Depok

qn (640x478).jpg

Depok – “Harus diakui, kontrol di masyarakat sangat kurang. Di Depok, misalnya, banyak rumah kost, kontrakan, apartemen maupun fasilitas umum, dimana orang bisa bebas semaunya tanpa kontrol. Boleh jadi, Depok merupakan tempat singgah. Sehingga identitas suatu daerah menjadi hilang.”

Demikian dikatakan Pimpinan Pondok Pesantren Qatrunnada, KH. Burhanuddin Marzuki yang ditemui di Depok, Jawa Barat, belum lama ini, menanggapi tingginya angka atau jumlah LGBT di Jawa Barat, khususnya di Depok.

Kata Kiai, Depok ini seperti hotel besar, tempah singgah sementara orang yang tidak jelas asal usulnya maupun domisilinya.Dampaknya, penyakit masyarakat satu per satu timbul, bukan hanya LGBT, tapi juga narkoba, maupun prostitusi. Hal ini harus diwaspadai.

BACA JUGA:  Ingin Puaskan Pelanggan, Resto dan Kafe Istana Jamur Sajikan Racikan Istimewa

“Anak punk di lampu merah, juga jangan didiamkan, harus ada yang mengurusnya. Jika tidak , seakan-akan kota ini tidak ada yang mengurus. Sementara Pemkotnya hanya memikirkan Piala Adipura sebagai pencitraan yang sifatnya simbolis,” ujarnya.

Penyakit masyarakat seperti LGBT, miras dan narkoba adalah permasalahan besar yang tidak boleh dianggap sepele. Jangan atas nama HAM, mereka melakukan pelanggaran dan secara terang-terangan mempertontonkan kemungkaran . Akhirnya orang menjadi nafsi-nafsi atau hidup masing-masing.

“Jika sudah tak ada lagi orang yang melakukan amar maruf nahi mungkar, bisa dipastikan akan menjadi ancaman yang mengerikan. Sebab, Kalau semua orang mengambil sikap diam, masa bodoh, ini berbahaya. Karena itu Depok dan daerah lain, perlu ada Perda khusus ketertiban umum. Peran aparat kepolisian, ulama, tokoh masy, dan rumahtangga menjadi penting untuk bersinergis. Jadi, berpikirnya jangan meteri terus, harus ada yang mencegah dan menyembuhkan penyakit masyarakat ini menjadi lebih baik,” paparnya.

BACA JUGA:  Ingin Puaskan Pelanggan, Resto dan Kafe Istana Jamur Sajikan Racikan Istimewa

Kiai menyarankan, untuk mencegah penyakit LGBT dan penyakit masyarakat lainnya, sebaiknya dipetakan terlebih dulu. Bila perlu pihak pemkot membentuk tim peneliti untuk mendata kepastian jumlah LGBT di Kota Depok, darimana asal usulnya, penyakit itu muncul dari pendatang atau melalui penularan? Jika betul-betul penularan, harus diakui kita memang kecolongan.

Ketika ditanya, bagaimana tanggapan kiai jika ada tindakan pengusiran LGBT dari suatu wilayah? ”Kalau memang sudah merusak masyarakat di sekitarnya, tidak ada salahnya untuk diusir sebagai bentuk pencegahan. Tentunya dilakukan dengan cara yang lebih manusiawi. Pihak yang melakukan kampanye LGBT harus ditindak tegas. Terpenting, konseling terhadap LGBT bukan untuk menjerumuskan dan memberi harapan serta pengakuan terhadap mereka, tapi dipulihkan.”

BACA JUGA:  Ingin Puaskan Pelanggan, Resto dan Kafe Istana Jamur Sajikan Racikan Istimewa

KH. Burhanuddin mengaku belum siap, jika pembinaan terhadap LGBT diserahkan kepada pesantren yang diasuhnya. “Jujur saja, saya belum siap,” ujar kiai tersenyum.

Sebagai catatan, Pesantren Qatrunnada pimpinan KH Burhanuddin Marzuki berdiri sejak tahun 1997. Santrinya mencapai 1.600. Beliau berharap, Pemimpin Kota Depok yang baru, H. Idris Somad dan Pradi, dapat membuktikan jargon Depok sebagai kota religius dan pendidikan. “Moga Depok, betul-betul dibuktikan sebagai kota religius,” tandasnya.(Des)

Komentar

Berita lainnya