oleh

Ikon Belimbing Tak Sesuai Dengan Kota Depok, Ini Kata JJ Rizal

JJ Rizal
JJ Rizal

Sejarawan JJ Rizal mengatakan ikon belimbing Depok sudah semestinya diganti dengan simbol lain. Soalnya, menurut dia, ikon belimbing seharusnya mengandung inspirasi dan motivasi serta mencerminkan nilai plus dan karakter utama yang kompetitif.

“Tapi ikon Depok, ketika jatuh pilihan pada belimbing, saya rasa tidak memenuhi tujuan dan arti ikon tersebut, malah bertolak belakang,” ujar Rizal.

Selain karena jumlah petani belimbing di Depok menyusut, menurut dia, pembangunan infrastruktur tidak berpihak pada tata ruang hijau. Lebih jauh, dia berpendapat, dari segi taksonominya, belimbing adalah tumbuhan yang ringkih, tidak menunjukkan daya tahan yang kuat. “Belimbing tumbuhan yang manja,” ucapnya.

BACA JUGA:  Perketat Protokol Kesehatan, Depok Terbitkan Dua Perwal

Rizal menambahkan, Depok perlu ikon yang sebenarnya lebih bermakna, sebagaimana ikon kota-kota lain yang berkarakter kuat. “Sayang, hanya gambaran ngawur belaka yang pada akhirnya malah membuat warganya cemar,” tuturnya.

Menurut dia, pemilihan ikon belimbing Depok lebih banyak pertimbangan politis ketimbang makna filosofis, seperti belimbing itu, misalnya. “Kan, karena segi limanya yang identik dengan basis ideologis partai wali kotanya yang berbasis Islam,” ucapnya.

BACA JUGA:  Paslon Pilkada Harus Perhatikan Protokol Kesehatan Saat Kampanye

Ketua Gabungan Kelompok Kerja Petani Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, Herman mengatakan lahan belimbing di Depok kritis dan terus berkurang. Padahal permintaan buah itu tinggi.

“Memang sulit untuk mempertahankan lahan belimbing. Sebelumnya, saya punya lahan seluas 6.000 meter, tapi sekarang tinggal 3.000 meter,” ujarnya.

Per tahun, kelompok tani yang dipimpinnya selalu kewalahan menghadapi pesanan. Sebab, dari 3.000 ton per tahun, Gapokja Petani Kelurahan Tugu hanya bisa menyediakan 2.500 ton per tahun.

BACA JUGA:  Kantor Kelurahan Panmas Ditutup Hingga 11 September

Selain itu, Herman mengatakan sulit meregenerasi petani dari warga Depok. Sebab, mereka lebih memilih bekerja lain, bukan sebagai petani. “Petaninya semakin sedikit,” tuturnya. (mi/tempo.co)

Komentar

Berita lainnya