Peduli Limbah Elektronik, UI Depok Gelar Studi Kelayakan

Depok – Departemen Teknik Industri, Universitas Indonesia (UI), bekerja sama dengan Pemerintah Kota Depok menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Studi Kelayakan Manajemen Pengolahan Limbah Elektronik di Kota Depok” beberapa waktu yang lalu. Acara yang bertempat di Hotel Margo Depok didanai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat UI ini juga didukung oleh CIM (Centre for International Migration and Development).

Acara yang berlangsung selama 1 hari tersebut dibuka dengan sambutan Banu Muhammad selaku ketua tim ahli sinergitas kota Depok dan Widyati Riyandari selaku ketua Bappeda kota Depok. Acara ini mendapat apresiasi tinggi sebagai perintis pengelolaan limbah utamanya limbah elektronik di kota Depok. Beberapa pembicara terkait tema FGD hadir seperti Etty Suryahati selaku kepala dinas lingkungan hidup, Prof. Enri Damanhuri dari Institut Teknologi Bandung dan Dr.rer.pol Romadhani Ardi dari Universitas Indonesia, selaku koordinator dari “Studi Kelayakan Manajemen Pengolahan Limbah Elektronik di Kota Depok”.

Beberapa instansi terkait tentang pengelolaan limbah juga hadir dalam acara ini, diantaranya Tim sinergitas Zero Waste, NGO Zero waste yang diwakili oleh Sonia Buftheim, PT. Multi Mandiri Lestari yang diwakili oleh Bapak Wawan Budiawan, dan Lapak Sampah Indonesia. Adapun dari Universitas Indonesia hadir pula Sri Harjanto selaku perwakilan dari Departemen Material dan Metalurgi, BEM UI dan anggota Pengmas e-waste.

Etty menyebutkan bahwa kota Depok sebagai kota metropolitan yang mengalami perkembangan penduduk mencapai 3,34% per tahun. Angka tersebut termasuk tertinggi kedua setelah kota Bekasi di provinsi Jawa Barat. Hal ini menyebabkan pesatnya peningkatan penumpukan sampah di kota Depok. Menurut data, Kota Depok memproduksi sekitar 1.578 ton sampah per hari dan hanya 800 ton yang dapat dikelola. Hal ini mengakibatkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), Cipayung, di kota Depok melebihi kapasitas daya tamping sampah, jelas Ibu Etty. Paparan Etty tentang kondisi sampah dan daya tampung TPA di kota Depok menegaskan kembali poin penting dari sambutan ketua Bappeda, Widyati.

Penanganan limbah elektronik juga telah menjadi perbincangan hangat di kota Bandung. Prof. Enri mengatakan bahwa sebenarnya masyarakat tidak menyadari jika peralatan elektronik dapat menjadi limbah yang berbahaya bagi lingkungan hidup mengingat jumlah limbah yang semakin banyak seiring perkembangan teknologi.

“Saat ini bahkan ditemukan senyawa berbahaya seperti PDBE pada air susu ibu yang merupakan dampak dari penanganan limbah elektronik yang tidak tepat,” jelas Prof. Enri.

Dr. Romadhani Ardi selaku penggagas acara ini, memaparkan hasil riset dari timnya. Secara rinci, terdapat tiga buah studi yang dibahas, yaitu: Studi mengenai aktor atau stakeholder yang berperan dalam rantai pasok e-waste di kota Depok, studi mengenai pola perilaku membuang e-waste masyarakat di kota Depok, dan Studi kelayakan finansial implementasi program pengelolaan limbah elektronik (e-waste) yang berkelanjutan di Kota Depok.

Menurut hasil riset mengenai pengaruh aktor yang berperan dalam rantai pasok e-waste khususnya di kota Depok, ditemukan beberapa aktor yang berperan penting terhadap pertumbuhan limbah elektronik yaitu konsumen barang elektronik sekaligus sebagai produsen limbah elektronik, yang tersebar dalam rumah tangga, perusahaan, ataupun pemerintah, jasa perbaikan barang elektronik, pemulung yang mencari nilai ekonomis dari limbah, pengepul barang bekas, tempat penjualan barang bekas dan sektor informal, jelas Bapak Romadhani. Sector informal merupakan pelaku usaha yang melakukan pembongkaran terhadap limbah elektronik yang mana dapat menghasilkan nilai ekonomis dari unsur berharga yang terdapat dalam barang elektronik.

Beliau berpendapat bahwa selain aktor, pola perilaku masyarakat kota Depok menjadi hal penting lainnya untuk diperhatikan. Bapak Romadhani menjelaskan hasil temuan tentang perilaku masyarakat untuk memilah e-waste dipengaruhi oleh faktor socio-demography, socio-psikologis, technical organization dan variabel study-specific. Faktor socio-demography, factor psikologis dan variabel study-specific berpengaruh terhadap intensi masyarakat untuk dapat memilah e-waste. Faktor socio-demography dan socio-psikologis berpengaruh terhadap kebiasaan penyimpanan. Faktor socio-psichology dan technical organization berpengaruh terhadap kebiasaan menjual kembali. Variabel study-specific dan technical organization berpengaruh terhadap kebiasaan untuk menyumbangkan. Faktor socio-demography dan socio-psikologis berperan mempengaruhi kebiasaan untuk mendaur ulang dan faktor technical organization berpengaruh terhadap kebiasaan membuang.

Kelayakan finansial juga menjadi hal berikutnya yang dapat dikaji. Berdasarkan data yang didapatkan oleh tim Bapak Romadhani, untuk kelayakan finansial dari implementasi pengelolaan limbah elektronik di kota Depok dapat memberikan keuntungan walaupun baru dalam skala proyek percontohan. System yang dirancang oleh tim akan dapat memberikan keuntungan selama pelanggan diberi insentif dalam jumlah Rp 76.277,- untuk mengembalikan produk TV, sedangkan untuk produk telpon genggam sebesar Rp 104.881,- dan 22.883,-. Disamping hal tersebut, pemerintah juga harus berperan aktif untuk memberikan subsidi sebesar Rp 240.382,-, Rp 166.298,-, dan Rp 30.887,- untuk setiap produk TV, desktop dan telepon genggam yang terdapat dalam system, jelas beliau.

Namun implementasi sistem dalam skala regional Depok masih dirasa tidak dapat memberikan keuntungan sehingga menimbulkan potensi kerugian dan tidak layak untuk menjalankan sistem tersebut. Berdasarkan analisa scenario yang dilakukan oleh Romadhani dan tim, ditemukan bahwa sistem bisa saja mendapatkan keuntungan apabila terdapat pendanaan yang berkelanjutan baik dari subsidi pemerintah maupun pihak swasta yang menggunakan mekanisme EPR (Extended Producer Responsibility).

Romadhani menambahkan bahwa implementasi untuk skala kota Depok otomatis akan memerlukan dana yang besar mengingat banyaknya daerah dan jumlah masyarakat.

Comments

comments