Mahasiswa IPB Ubah Biji Pepaya Jadi Antibiotik

Tiga mahasiswa IPB, yakni Ika Jenri, Laily Rinda, dan Mohamad Ramdoni yang berasal dari Departemen INTP Fapet IPB meraih Juara I dalam LKTI Tingkat Nasional. (Foto: Humas IPB).

Mahasiswa sebagai agen perubahan dituntut untuk bisa berinovasi dengan ide-ide yang fresh dan menghasilkan terobosan-terobosan yang mampu memberi manfaat pada lingungan sekitarnya.

Tak terkecuali seperti yang dilakukan oleh tiga mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), yakni Ika Jenri, Laily Rinda, dan Mohamad Ramdoni yang berasal dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) Fakultas Peternakan (Fapet) IPB.

Ketiga mahasiswa tersebut menyalurkan idenya berupa alternatif antibakteri untuk penyakit Colibacillosis pada ayam broiler yang disebabkan oleh bakteri E. Coli. Idenya tersebut disampaikan melalui Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Nasional yang diadakan oleh Fakultas Peternakan Universitas Andalas (17-20/10). Mereka berhasil meraih Juara I dalam LKTI Tingkat Nasional tersebut.

“Tema yang diangkat dalam lomba ini adalah Optimalisasi Peran Mahasiswa dalam Membangun Peternakan Berdaya Saing Industri. Lalu, kami memfokuskan pada alternatif penyakit ayam broiler melalui pemanfaatan ekstrak biji pepaya,” tutur Jenri.

Penggunaan antibakteri sintetik yang sering digunakan untuk mengatasi penyakit pada ayam broiler seringkali dapat menimbulkan residu dan menyebabkan resisten mikroba bagi tubuh ternak itu sendiri. Sedangkan, ayam broiler mengalami peningkatan permintaan di masyarakat, baik di pasar tradisional maupun swalayan.

Ayam broiler cukup rentan dengan penyakit khususnya Colibacillosis yang menyebabkan performa ayam menurun. Oleh karena itu, Jenri dan timnya menjadikan biji pepaya sebagai alternatif solusinya.

“Prosesnya dimulai dengan mengeringkan biji pepaya selama kurang lebih dua hari, lalu dikeringkan kembali dalam oven 60 derajat celcius selama satu hari full, dan selanjutnya diblender agar halus. Berikutnya, biji pepaya tadi direndam dalam larutan etanol 96 persen selama tiga hari dan dimasukkan ke alat bernama rotary evaporator untuk mengentalkan ekstrak tersebut,” jelas Jenri soal proses pembuatan ekstrak biji pepaya.

Perjuangannya menjadi seorang juara cukup panjang, dimulai dari pengiriman abstrak, pengumpulan full paper dan diumumkannya Jenri beserta timnya untuk presentasi full paper di Universitas Andalas, bersaing dengan enam tim lainnya.

“Semoga ide dari karya tulis tentang alternatif ekstrak biji pepaya ini dapat diteliti lebih lanjut dan bisa menjadi solusi bagi para peternak di Indonesia dalam mengatasi permasalahan pada ayam broiler,” tutup Jenri.

Comments

comments