Bisakah Masyarakat Memperkuat Rupiah?

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh : Yulianti (Mahasiswa Akuntansi Syariah STEI SEBI)

Ketika dolar terus naik meroket dan dolar terus menguat yang menyebabkan nilai rupiah menjadi sekarat. Keadaan ini sangat memukul perekonomian Indonesia. Menurut pengamat ekonomi universitas pasundan acuviarta kartabi hal tersebut akan menyebabkan dampak yang meluas mulai dari sisi rumah tangga hingga pelaku usaha. Dampaknya akan dirasakan juga oleh berbagai kalangan. Baik kalangan pengusaha, pemerintah, pedagang kecil bahkan masyarakat biasa pun turut merasakannya.

Nilai rupiah yang semakin anjlok adalah kenyataan yang sangat pahit yang harus kita hadapi bersama. Kita sebagai masyarakat harus peduli terhadap keadaan perekonomian bangsa jangan sampai kita menjadi masyarakat yang apatis yang hanya menyerah terhadap keadaan tanpa ada usaha sedikitpun. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat untuk memperkuat rupiah.

Cara pertama yang bisa dilakukan adalah menunda jalan-jalan ke luar negri. Untuk masyarakat yang mempunyai hobi travel diharapkan masyarakat lebih memilih travel di berbagai wisata di tanah air dan menekan kebocoran devisa. Sektor pariwisata adalah salah satu solusi dalam upaya memperkuat rupiah karena dapat meningkatkan ekspor produk, mengurangi impor BBM dan dapat mengganti produk impor. Hal ini menjadi sebuah peluang yang sangat bagus untuk lebih mengeksplore indonesia dan menumbuhkan rasa nasionalisme dalam diri masyarakat.

Selain itu kementerian pariwisata sedang berupaya meningkatkan kinerja parawisata yang ada di dalam negeri agar banyak orang yang tertarik untuk berwisata, baik pengunjung lokal maupun wisatawan mancanegara (Wisman). Beragam promosi terus dilakukan agar devisa dapat meningkat dan menambah pendapatan dalam negeri.

Cara kedua adalah Perbanyak transaksi menggunakan rupiah. Ada beberapa sektor yang sebenarnya bisa dipaksakan bertransaksi menggunakan rupiah. Salah satu sektor yang sangat berpengaruh adalah sektor pariwisata. Sektor pariwisata banyak menggunakan mata uang asing dalam setiap transaksinya. Terutama pada wisata yang pengunjungnya dari berbagai belahan dunia.

Diharapkan setiap pariwisata dalam negeri membuat regulasi yang mengharuskan penggunaan rupiah pada setiap transaksi yang dilakukan. Dengan sendirinya nilai rupiah akan kembali menguat dan wajah rupiah menjadi sumringah kembali.

Cara ketiga adalah tukar dolar kerupiah. Pada tahun 1998 ada gerakan “Cinta Rupiah” dan aksi politisi yang secara berbondong-bondong menukarkan dolarnya ke rupiah. Namun, hingga saat ini baru Sandiaga Uno yang menukarkan sebagian dolar yang di milikinya. Sandiaga Uno akan menukarkan hampir 40% portofolio hartanya dalam bentuk dolar Amerika kedalam mata uang rupiah. Sementara itu Luhut Binsar Pandjaitan (Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman) masih mempertimbangkan menukar dolar yang dimilikinya ke rupiah.

Di Jawa Timur tepatnya di Hotel Majapahit, Surabaya. Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha (Forkas) melakukan gerakan yang tak kalah keren, yaitu mereka bersama-sama bersatu menguatkan rupiah dengan menukarkan Dolar Amerika Serikat yang mereka miliki terhadap rupiah. Secara simbolis menukarkan 50 juta dolar AS terhadap rupiah yang diterima oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur.

Cara keempat adalah berani memegang rupiah. Fluktuasi perekonomian itu seperti sebuah siklus. Ada saatnya nilai mata uang itu melemah dan ada saat juga kembali menguat. Walaupun saat ini rupiah sedang melemah, kita harus tetap berani memegang rupiah karena prospek ekonomi indonesia menurut sejumlah lembaga riset akan tumbuh diatas 5% pertahun. Prospek yang sangat menjanjikan ini harus menjadi sebuah landasan untuk masyarakat agar memegang rupiah, jangan sampai terbawa arus ikut-ikutan menukarkan rupiah ke dolar.

Cara kelima adalah dengan menghimbau masyarakat agar meningkatkan pembelian produk lokal dan mengurangi konsumsi produk asing. Pasti banyak sekali pertimbangan yang kita pikirkan ketika membeli suatu produk. Baik dari harga, kualitas, bahkan kuantitaspun menjadi salahsatu bahan pertimbangan.

Produk lokal dan produk impor pasti banyak perbedaannya. Namun, bila hal ini dilakukan secara bersamaan, selain memajukan para pelaku usaha dalam negeri, kita juga memiliki andil dalam membantu menjaga bahkan menguatkan nilai rupiah. Cara ini merupakan cara yang efektif agar masyarakat tidak akan ketergantungan dengan produk impor. Keperkasaan dolar AS membuat rupiah tidak berdaya. Tanpa jangkar sentimen domestik, rupiah pun terombang ambing di tengah gelombang penguatan dolar AS.

Cara keenam adalah untuk yang mempunyai harta berlebih maka sisihkanlah sebagian. Ada beberapa kalangan yang mempunyai kemampuan finansial di atas rata-rata. Bahkan memiliki banyak simpanan dolar sebagai investasi mereka.

Salahkah mempunyai simpanan dolar yang banyak ? Tentu jawabannya tidak. Bahkan keadaan tersebut bisa menjadi sebuah sarana dalam menyelamatkan perekonomian yang semakin melorot. Cara sederhananya adalah jika memiliki simpanan dolar maka tukarkanlah ke dalam rupiah kemudian investasikanlah uangnya dalam instrumen-instrumen keuangan yang saat ini tangguh menghadapi krisis, misalnya reksadana. Namun, harus tetap selektif dalam memilih produknya agar tidak salah dalam berinvestasi. Alih-alih ingin mendapatkan keuntungan malah merugi, jangan sampai hal itu terjadi.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merupakan kabar buruk bagi masyarakat Indonesia. Namun kita sebagai masyarakat harus berinisiatif untuk melakukan langkah-langkah yang membuat nilai mata uang rupiah menguat kembali. Karena itu, mulailah dari diri sendiri dan lakukanlah walaupun dari hal yang kecil. Peran kita sangat berarti untuk membuat rupiah kembali menari.

Kalau bukan sekarang? Kapan lagi. Kalau bukan kamu? Siapa lagi.

Comments

comments