Serba Terbatas, Aktifis Kemanusiaan Bantu Makamkan Korban Gempa

PALU, SULAWESI TENGAH – Gempa bumi berkekuatan 7,4 Skala Richter (SR) mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah. Titik gempa di 0.18 LS dan 119.85 BT atau 27 kilometer Timur Laut Donggala dengan kedalaman 10 kilometer dengan ketinggian tsunami 2–4 meter. Dompet Dhuafa melalui aktivis kemanusiaan Love Sulawesi bergerak sudah dari hari Sabtu dan tiba di Palu pada hari Minggu, tim aktivis kemanusiaan bekerjasama dengan berbagai instansi baik BNPB maupun RRI, dengan membuka pos di Jl. Kimaja, Kelurahan Besusu. Palu Timur. Serta membuka Layanan Medis dihalaman kantor RRI Palu.

“Sejak dari hari Minggu (3/10), tim Dompet Dhuafa terus berupaya memberikan pertolongan dan bantuan berupa layanan medis yang terletak di halaman depan RRI Palu, sementara itu kami belum bisa maksimal karena terbatasnya sejumlah alat berat dalam upaya pencarian korban serta mobilisasi yang minim karena sejumlah bahan bakar minyak (BBM) mengalami kelangkaan di sejumlah pom bensin Kota Palu,” kata drg. Imam Rulyawan, MARS., selaku Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi,

Menurut data yang sudah dihimpun melalui aktivis kemanusiaan Loves Dompet Dhuafa berdasarkan BNPB (Rabu 3 oktober 2018) data terbaru sampai pukul 13.00 wib, sudah terdapat 1.407 orang meninggal dunia para korban tersebut berada di Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong, sementara itu korban luka berat sudah mencapai 2.549 orang dan masih menjalani perawatan di rumah sakit dan untuk korban hilang tercatat sebanyak 113 orang. Disisi lain terdapat jumlah pengungsi tercatat 70.821 orang. Mereka mengungsi di 141 titik pengungsian.

“Pada kegiatan hari ini, cukup menguras tenaga para aktivis kemanusiaan. Jalur evakuasi yang jauh, minimnya armada evakuasi karena keterbatasan BBM, dan juga kondisi jasad korban yang mulai berbau, serta dipenuhi belatung, menjadi tantangan hari ini,” ungkap Maizar Helmi, salah satu tim aktivis kemanusiaan Dompet Dhuafa untuk gempa bumi dan tsunami Sulawesi Tengah, melalui pesan singkat.

Kondisi tersebut juga semakin berat dirasakan, lantaran para aktivis kemanusiaan harus menggunakan tenaga manual untuk membuka reruntuhan. Sampai hari ini, alat berat masih terbatas jumlahnya dan belum masuk ke wilayah evakuasi dan pencarian korban tim Dompet Dhuafa di Pantai Talise.

“Berjalan dengan membawa kantong mayat berisi korban sejauh 2 Km, menjadi realita hari ini. Selain itu juga kita harus memindahkan puing-puing secara manual untuk mengevakuasi korban,” tambah Maizar.

Saat ini tim aktivis kemanusiaan Dompet Dhuafa bersama tim evakuasi yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri menuju tanah lapang seluas 1.000. m2 yang sudah disiapkan aparat untuk menampung seribu jenazah korban gempa. Sebanyak 70 jenazah yang sudah ditemukan akan dimakamkan secara masal di Pemakaman Umum Poboya Indah.

Comments

comments