Program Pengabdian Masyarakat FIB UI untuk Siswa SD di Depok

Foto bersama seusai mendengarkan cerita.

DEPOK – Dengan bantuan hibah Aksi UI Peduli, tim pengabdian masyarakat dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) yang diketuai oleh Sisilia Setiawati Halimi, Ph.D dari Departemen Linguistik FIB UI menyelenggarakan program “Pengembangan Modul Storytelling dengan Nilai Kebinekaan sebagai Materi Pendamping Pengajaran Bahasa Inggris untuk Siswa Sekolah Dasar di Depok”.

Di masa kini, dengan pengaruh informasi digital, perolehan anak terhadap berbagai informasi menjadi mudah. Media digital pun seringkali menjadi pilihan anak dalam mendukung pembelajaran. Di sisi lain, isu toleransi yang disebabkan oleh perbedaan budaya, politik, dan kondisi sosioekonomi di tengah masyarakat tidak mereda dan dapat semakin terpicu oleh aktivitas di media sosial dan konten propaganda digital lainnya. Jika siswa sekolah dasar terus-menerus terekspos pada konflik kebencian antarbudaya, sikap tidak toleran dapat tanpa sadar tumbuh dalam diri mereka dan jika tidak dicegah sejak dini, mereka pun di masa depan dapat menjadi pelaku-pelaku kekerasan atau penebar kebencian yang dipicu oleh isu-isu sosial.

Menyadari bahwa konten digital tidak selalu ramah anak, timbul gagasan untuk menyediakan bacaan dengan konten yang aman untuk siswa sekolah dasar. Cerita dianggap sebagai media yang paling tepat untuk menjawab permasalahan ini karena memiliki konten yang menarik sehingga dapat memotivasi sekaligus menantang siswa untuk memingkatkan sikap positif terhadap bahasa, budaya, dan pembelajaran bahasa asing, serta cenderung mengulang kosa kata sehingga dapat menjadi sarana peningkatan kemampuan bahasa asing anak (Ellis & Brewster, 2004, p. 6), dan mengandung nilai-nilai kebajikan secara implisit, misalnya, toleransi (Demircioglu, 2008). Sementara itu, nilai-nilai kebinekaan dianggap tepat untuk diajarkan agar siswa sekolah dasar dapat mengembangkan empati sosial dan toleransi antarbudaya dalam dirinya. Pelajaran Bahasa Inggris sendiri, sekalipun telah mulai diajarkan sejak dini di masa kini, tetap menjadi ‘momok’ bagi siswa, apalagi tidak semua siswa sekolah dasar mendapat akses yang besar terhadap bacaan dengan konten yang baik, misalnya karena kurang lengkapnya koleksi perpustakaan sekolah atau tidak adanya pembiasaan membaca di rumah.

Siswa antusias mendengarkan cerita Bahasa Inggris dengan pesan moral.

Oleh karena itu, tim pengabdi masyarakat FIB UI mengembangkan suatu modul storytelling sebagai pendamping pembelajaran Bahasa Inggris siswa yang bersifat non-digital yang mampu mengasah kreativitas siswa, sekaligus memupuk nilai kebinekaan melalui modul cerita yang disampaikan. Melalui modul storytelling, siswa akan diberikan bukan hanya bacaan yang sarat nilai tetapi juga aktivitas lanjutan yang mengasah kreativitas sehingga membaca cerita dan bercerita menjadi budaya di sekolah maupun di rumah, dan hal ini diharapkan secara tidak langsung menghindarkan anak dari kecanduan akan teknologi komunikasi dan konten-konten yang kurang baik untuk dibaca.

Modul yang dikembangkan bertajuk “Tell Us a Story: A Collection of Stories with Moral Lessons on Unity, Equality, and Harmony for Elementary Students” dan memuat 8 cerita pendek yang mengandung nilai kebinekaan. Cerita ditulis dalam Bahasa Inggris sebagai bahasa tujuan dengan kosa kata yang disesuaikan dengan kemampuan siswa kelas 4 dan 5 sekolah dasar sebagai target peserta. Kedelapan cerita yang berjudul “Pippa’s goal”, “The Camel and the Dove”, “Preparing for the Garden Festival”, “The Crying Bunny”, “Panji’s Birthday”, “Lim and the Prince”, “Little Owl’s First Day of School”, dan “To Think of Others” ditulis oleh Annisaa Paradisa, M.Hum, Anselma Widha Prihandita, S.Hum, Chysanti Arumsari, M.A., Lavinia Disa Winona Araminta, M.A., dan Sisilia Setiawati Halimi, Ph.D. yang mengolah isu perbedaan jender, ras, ekonomi, dan agama melalui karakter manusia maupun hewan.

“Di samping cerita, modul ini berisi contoh-contoh aktivitas lanjutan dari storytelling, seperti eksplorasi komponen-komponen intrinsik dalam cerita, misalnya karakteristik tokoh, motif, dan pesan moral, serta pedoman dan instruksi pengajaran untuk guru, seperti kosa kata yang dapat diajarkan di awal sesi bercerita,” tutur Sisilia Setiawati Halimi, Ph.D selaku pengabdi utama dalam tim ini. “Sebagai pelengkap kegiatan bercerita dan untuk memudahkan siswa memahami jalan cerita, setiap cerita di dalam modul ini juga dilengkapi dengan properti visual seperti wayang karakter, flip book, flash cards, dan gambar latar situasi. Pengembangan modul dilaksanakan selama bulan Juli 2018, dilanjutkan dengan pengurusan ISBN, HAKI, dan pencetakan modul tersebut.”

Partisipan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah siswa kelas 4 dan 5 serta guru Bahasa Inggris di SD Negeri 4 Beji dan SD Negeri 7 Beji, Depok, Jawa Barat. Sebelum modul diserahkan pada para guru, tim melakukan sosialisasi modul kepada siswa dan guru serta ujicoba penatalaksanaan modul di dua sekolah dasar tersebut. Selama ujicoba yang dilaksanakan pada minggu ke-4 bulan Agustus 2018 oleh tim pengabdi, guru Bahasa Inggris di masing-masing kelas dapat mengamati bagaimana modul dapat digunakan untuk menunjang pembelajaran Bahasa Inggris. Di luar sesi kegiatan belajar dan mengajar pada minggu ke-2 dan ke-3 bulan September 2018, tim kemudian memberikan pelatihan dan pendampingan singkat untuk guru-guru Bahasa Inggris di setiap SD yang menjadi tujuan program untuk menggunakan modul tersebut.

Satu bulan setelah ujicoba penatalaksanaan modul, tim pengabdi datang lagi ke sekolah yang dituju untuk meninjau pemakaian modul di dalam kelas serta melakukan wawancara dengan guru tentang pengalaman menggunakan modul serta masukan untuk pengembangan modul selanjutnya. Pada minggu ke-4 tim masuk ke satu kelas di SDN 7 Beji dan ke satu kelas di SDN 4 Beji untuk mendengarkan pembacaan cerita dari guru SDN 7 Beji, Ibu Sri Warhani, S.Pd., dan guru SDN 4 Beji, Bapak Siendy Ahmad, S.Pd.

Baik guru maupun siswa di kedua sekolah menyambut dengan antusias inisiatif tim pengabdi. Para guru merasa bahwa cerita yang ditulis mengandung pesan moral yang baik dan dapat menarik minat anak akan cerita. Saat kegiatan ujicoba oleh tim dan guru, siswa terlihat bersemangat dalam mengikuti aktivitas sebelum, saat, dan sesudah pembacaan cerita. Siswa senang dengan gambar dan alat peraga yang digunakan, juga sangat antusias dengan gerakan, seruan, dan lagu yang dinyanyikan bersama sebagai bagian dari storytelling. Meski tetap dibantu dengan penggunaan Bahasa Indonesia saat menyampaikan di hadapan siswa, modul ini diharapkan menjadi materi suplemen yang bermanfaat dan cukup bervariasi bagi guru dan siswa dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa Inggris mereka. Selain itu, isu kebinekaan yang diangkat dengan bahasa sederhana yang menyenangkan diharapkan dapat mendorong siswa untuk memupuk persahabatan, mengasihi dan menghargai orang lain, saling tolong menolong dalam kehidupan sehari-hari dan tidak membedakan teman berdasarkan status sosial, ekonomi, ras, maupun jender.

Referensi
Demircioglu, I. H. (2008). “Using historical stories to teach tolerance: The experiences of Turkish eighth-grade students”. Social Studies, 99(3), pp.105-110.
Ellis, G. & Brewster, J. (2014). Tell it again! The new storytelling handbook for primary teachers. London: British Council.

Comments

comments