Pengabdian Masyarakat UI: Skrining Anemia pada Siswa Sekolah Dasar di Depok

DEPOK – Anemia merupakan masalah gizi yang paling lazim di dunia dan menjangkiti lebih dari 600 juta manusia. Anemia adalah penyakit kurang darah yang ditandai dengan kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit) lebih rendah dibandingkan normal. Perkiraan prevalensi anemia secara global adalah sekitar 51 % dengan pada anak usia sekolah mencapai 37%. Anemia pada umumnya terjadi di seluruh dunia, terutama di negara berkembang dan pada kelompok sosio-ekonomi rendah.

Data di Indonesia menunjukan sekitar 3,5 juta anak di Indonesian menderita anemia. Berdasarkan data survey kesehatan rumah tangga tahun 2005 prevalensi anemia pada anak usia sekolah mencapai 26,5%. Sedangkan survey yayasan kusuma bangsa di 10 SD di Jakarta ditemukan 34,1% anak menderita anemia. Pemeriksaan juga menemukan bahwa 4 sekolah dari 10 SD yan di periksa terdapat 50-70% anak mengalami anemia. Kondisi kurang darah ini lebih banyak di temukan pada anak perempuan (55%).

Di Indonesia anemia karena kekurangan zat besi masih merupakan salah satu masalah kesehatan di samping masalah gizi yang lainnya, yaitu : kurang protein, defisiensi vitamin A dan gondok endemik. Dampak anemia pada anak sekolah adalah meningkatnya angka kesakitan dan kematian, terhambatnya pertumbuhan fisik dan otak, terhambatnya perkembangan motorik, mental dan kecerdasan. Anak- anak yang menderita anemia terlihat lebih penakut, dan menarik diri dari pergaulan sosial, tidak bereaksi terhadap stimulus, dan lebih pendiam.

Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya anemia. Jika ditinjau dari sisi fisiologis tubuh, anemia dapat disebabkan karena kekurangan zat besi, pendarahan usus, pendarahan, genetik, kekurangan vitamin B12, kekurangan asam folat, gangguan sumsum tulang. Namun bukan hanya itu, pola hidup yang tidak sehat juga menjadi faktor penyebab terjadinya anemia mulai dari perilaku kurangnya makan makanan yang mengandung zat besi, asupan vitamin yang kurang, hingga melakukan kegiatan yang beresiko mengalami pendarahan.

Mengingat prevalensi anemia pada anak sekolah masih cukup tinggi, maka perlu dicari hubungan antara kejadian anemia dengan pengetahuan dan perilaku anak-anak terhadap anemia tersebut.

Oleh karena itu Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) melakukan pengabdian masyarakat di beberapa sekolah dasar di Beji, Depok. Kegiatan bertema “Skrining Anemia di Sekolah Dasar Kecamatan Beji Depok” ini digelar pada 1 September 2018 dan 14 September 2018. Sekolah dasar yang menjadi tempat pengabdian adalah SDN Beji 4, SDN Beji 5, SDN Beji 7, dan SD IT Al Muqorrobin.

Pengabdian masyarakat yang didukung Direktorat Riset dan Pengembangan Kepada Masyarakat Universitas Indonesia (DRPM UI), Puskesmas Beji, dan Dinas Pendidikan Kota Depok, dilakukan dalam bentuk pemeriksaan darah untuk mendapatkan kadar hemoglobin (Hb) pada siswa kelas enam. Pemeriksaan darah dilakukan oleh tim Dokter Departemen Patologi Klinik dan Patologi Anatomi FKUI/RSCM, antara lain Dra. Siti Nurbaya, M.Biomed; dr. Yusra, SpPK,PhD; Dra. Supri Irianti Handayani, MS; Luthfiyyah Mufidah S.K.M; dr. Linny Luciana Kurniawan; dr. Nur Gifarani Pratiwi; dr. Paramita; dr. Sarah Salim Salem Alatas; dr. Widya Nugroho Putri; dan dr. Ermi Wahyu Haryani. Sebelum pemeriksaan berlangsung, dilakukan penyuluhan mengenai penyakit anemia yang diberikan oleh Ketua Tim yaitu Dra. Siti Nurbaya, M.Biomed.

Kegiatan ini bertujuan untuk mewujudkan anak-anak sekolah dasar di Kecamatan Beji mempunyai pola hidup sehat serta makan makanan yang bergizi sehingga saat melakukan aktivitas belajar di sekolah, siswa tidak mengalami lesu, lemah, letih, lelah, dan terbebas dari kejadian anemia.

Siswa kelas enam sekolah dasar menyambut antusias kegiatan ini. Namun adanya berita yang tersebar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan di media sosial menghambat kegiatan ini, sehingga orang tua murid menjadi khawatir dan menolak untuk diperiksa. Beberapa siswa yang ketakutan untuk diambil darahnya mendapatkan dukungan dan arahan dari teman yang lain juga para guru untuk tetap dilakukan pemeriksaan hemoglobin. Sebelum pemeriksaan dilakukan, orang tua murid diminta untuk menandatangani surat persetujuan. Pemeriksaan dilakukan oleh tenaga medis profesional yang sesuai dengan prosedur pengambilan darah yang lege artis.

“Rasanya setelah disuntik itu rasanya gak sakit, terus bagus sih kalau ada kegiatan ini di sekolah, bagus jadinya bisa mencegah penyakit anemia” – Amelia, Salwa, Aisya, dan Adinda (Siswa SDN Beji 6)

“Belum pernah, ini pertama kali. Rasanya gak sakit gitu, kalau kata saya kayak kesetrum. Tapi hasilnya 12,7 normal” – Athallah Zidane Nugroho (Siswa SD IT Al Muqorrobin)
“Rasanya lumayan sakit. Setelah dapat pengetahuan jadi lebih tahu kalau setiap pagi harus sarapan gitu, terus makan makanan yang mengandung zat besi, contohnya kaya sayur bayam, habis itu tempe, pepaya, jeruk.” – Ahmad Ramadhani (Siswa SDN Beji 7)
Tidak hanya siswa sekolah dasar yang mengikuti kegiatan ini, namun para guru juga antusias melakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar hemoglobin dalam darahnya.

“Saya sangat senang karena dengan ini kita dapatkan ilmu baru lagi dan bagaimana cara penanganan ini kepada anak-anak terutama karena ini kayaknya ini yang biasa terlihat sepanjang hari anak-anak itu lemes atau bagaimana, ya ini sangat membantu sekali dan ini sangat bagus dilaksanakan dan saya secara pribadi dan lembaga mengucapkan terima kasih kepada lembaga UI yang sudah menunjuk kami untuk bisa mendapatkan prioritas kesempatan ini” – Eka Novita (Wali Kelas 6 SDN Beji 7)

Perwakilan dari Puskesmas Beji juga turut membantu tim FKUI dalam penyelenggaraan kegiatan. Maswani, perawat Puskesmas Beji, mengatakan, “Kegiatan ini sangat bagus, ini sangat membantu untuk mengetahui anak-anak, soalnya disini daerah perbatasan dengan wilayah-wilayah yang agak kurang mampu, jadi untuk bisa melihat disini bisa terdeteksi, banyak anak-anak yang kelihatan sehat ternyata anemia, ada beberapa di puskesmas dulu pernah diperiksa kelihatannya gemuk gak taunya anemia”

Adapun output kegiatan ini adalah didapatkan dari hasil skrining sebanyak 28% anak kelas 6 dari 4 sekolah dasar menderita anemia. Diharapkan untuk seluruh anak sekolah dasar, khususnya yang mengikuti kegiatan ini dapat mengenali tanda-tanda anemia dan melakukan perubahan terkait pola hidup bersih dan sehat, termasuk makan makanan yang bergizi dan mengandung zat besi. Apabila sudah terdiagnosis menderita anemia diharapkan datang ke Puskesmas Beji untuk mendapatkan tablet besi atau tablet tambah darah. (Luthfiyyah Mufidah)

Comments

comments