Pengabdian Masyarakat FIB UI di SMA Mardi Yuana Depok

Bahasa Mandarin Sebagai Jendela Budaya Tionghoa di Indonesia

Oleh: Hermina Sutami, Joanessa Seda & Tim Program Aksi UI Peduli Ramah Anak PS Sastra Cina FIB UI

Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu misi universitas di Indonesia. “Program Aksi UI Peduli Ramah Anak” merupakan salah satu program Universitas Indonesia untuk merealisasikan misi tersebut dengan mendukung rencana Pemerintah Kota Depok mengembangkan kota layak anak. Kota layak anak bermakna kota yang layak ditempati oleh anak dengan fasiltas pendidikan, kesehatan, sarana bermain dan lingkungan sosial yang menjamin tumbuh kembangnya anak menjadi pribadi yang berwawasan kebangsaan Indonesia yang menghargai adanya keberagaman etnik. Tim Program Aksi Peduli Ramah Anak Program Studi Sastra Cina Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia telah melakukan pembinaan mental siswa secara sederhana di sebuah SMA di kota Depok melalui pengajaran Bahasa Mandarin. Kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu usaha nyata dalam menyiapkan generasi penerus bangsa yang menghargai perbedaan ras, agama, pandangan, bahasa, kehidupan sosial di Indonesia. Tujuan makro kegiatan ini adalah menyiapkan siswa-siwa SMA mampu bersaing dalam dunia global dewasa ini, khususnya dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean.

Tim Program Aksi UI Peduli Ramah Anak Program Studi Sastra Cina Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia selama bulan Agustus-September 2018 telah melakukan kegiatan yang bertema “Bahasa Mandarin sebagai Jendela Budaya Tionghoa di Indonesia”. Pelaksanaan Program dalam bentuk mata pelajaran Bahasa Mandarin ekstrakurikuler di sebuah sekolah swasta di kota Depok. Tujuan pelaksanaan Program ini adalah memperkenalkan lebih mendalam unsur budaya Tionghoa melalui pengajaran Bahasa Mandarin. Budaya Tionghoa memang sudah dikenal siswa dalam kehidupan sehari-harinya, tetapi hanya sepintas lalu saja. Mereka tidak mengetahui makna simbol atau upacara yang dijalankan oleh orang-orang Tionghoa. Akibatnya, tidak ada hal yang menarik dalam budaya Tionghoa untuk dipelajari, termasuk bahasanya.

Untuk mengatasi masalah di atas, Tim Program Aksi UI Peduli Ramah Anak menjalankan usaha (1) memperdalam dan memperluas pengetahuan siswa mengenai perayaan-perayaan budaya Tionghoa yang lazim di Indonesia seperti Imlek, Pehcun, Cengbeng; (2) menjelaskan Budaya Tionghoa sudah hidup selama ratusan tahun di Indonesia, sehingga masyarakat Tionghoa sudah sejak ratusan tahun lalu menjadi bagian dari penduduk Indonesia; (3) menciptakan kehidupan yang harmonis di masyarakat kota Depok yang beragam suku dan agamanya, dimulai dari skala kecil seperti di lingkungan sekolah; (4) menciptakan persahabatan murni tanpa saling curiga di antara para siswa yang etnisnya beragam; (5) menghilangkan anggapan sebagian besar siswa bahwa Bahasa Mandarin merupakan bahasa yang sulit, terutama karakter Han-nya. Sebagai proyek percontoh, Tim Program Aksi UI Peduli Ramah Anak telah melaksanakan program pengajaran Bahasa Mandarin di sebuah sekolah di kota Depok.

Dalam proses pembelajaran siswa ditunjukkan video mengenai perayaan masyarakat Tionghoa yang mereka jalankan (bagi siswa keturunan Tionghoa) atau melihat dan menyaksikan pawai Pehcun, Imlek, orang berbondong-bondong pulang kampung untuk merayakan Cengbeng. Semua kegiatan dalam perayaan di atas sarat dengan simbol budaya Tionghoa. Ternyata penyajian unsur budaya yang menggunakan video dengan gambar yang lucu dan berwarna-warni, contoh benda nyata seperti kertas angpao, kue keranjang, gambar sepasang anak yang sedang mengatupkan tangan mengucapkan salam Imlek (拜年), barongsai, bacang, dan sebagainya, baru mereka ketahui maknanya di dalam kegiatan belajar Program Peduli Anak ini. Itu salah satu capaian yang diperoleh yang diketahui melalui pengisian kuesioner pada akhir Program ini.

Fokus dari Program Aksi UI Peduli Ramah Anak ini adalah memahami budaya Tionghoa, antara lain melalui pengajaran Bahasa Mandarin. Karena itu Bahasa Mandarin merupakan “jendela” untuk memahami budaya Tionghoa, seperti tercermin pada judul Program Aksi Peduli ini. Unsur budaya inilah yang menjadi alat bantu dalam menimbulkan minat siswa mempelajari Bahasa Mandarin. Seperti kita ketahui, pengajaran Bahasa Mandarin di sekolah-sekolah sudah berlangsung sejak tahun 1998, tetapi sebagian besar siswa tidak berminat mempelajarinya, karena bahasa Mandarin sulit dipelajari, terutama aksaranya. Dengan demikian Program Aksi UI Peduli Ramah Anak ini memiliki tugas rangkap, pertama menumbuhkan minat mempelajari Bahasa Mandarin; kedua menanamkan pemahaman bahwa budaya Tionghoa merupakan bagian dari budaya Indonesia yang sukunya beragam.

Dalam praktek pelaksanaan Program Aksi UI Peduli ini di sekolah, setiap kelas dipandu oleh dua anggota Tim yang merupakan mahasiswa Program Studi Sastra Cina Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia semester VIII yang bertindak sebagai fasilitator. Tim Fasilitator sebelumnya sudah beberapa kali mengadakan pertemuan dengan Ketua dan Wakil Ketua Program Aksi Peduli untuk menentukan jenis kegiatan, bahan ajar yang digunakan, alat peraga yang digunakan untuk menjelaskan perayaan budaya Tionghoa, pembagian kegiatan pengajaran dari alokasi waktu 75 menit untuk setiap pertemuan. Pada setiap pertemuan untuk melihat kemajuan yang diperoleh siswa, baik di bidang bahasa maupun budaya, dilakukan pre-test pada awal pertemuan dan post-test pada akhir pertemuan. Setiap pertemuan secara garis besar dibagi ke dalam dua sesi. Sesi pertama adalah penjelasan fasilitator tentang sebuah perayaan yang diawali dengan penayangan video.

Salah satu topik yang dibahas adalah mengenai perayaan Imlek. Selama menonton video, fasilitator juga menjelaskan makna benda-benda yang ada dalam perayaan itu seperti angpao, kue keranjang, barongsai, petasan, duilian yang digantungkan di kedua sisi pintu utama, arti warna merah yang banyak dipakai dalam kertas angpao, warna merah, tentang memberi ucapan selamat Imlek, seperti “Selamat Tahun Baru Imlek”, “Kionghi”, “Gongxi Facai”. Siswa juga dilatih mengucapkan istilah-istilah di atas dalam Bahasa Mandarin. Selain itu juga dijelaskan kegiatan apa saja yang dilakukan menjelang malam Imlek, yaitu makan bersama seluruh anggota keluarga dengan makanan khas seperti tim bandeng. Yang tetap dilakukan oleh keluarga penganut Konghucu adalah menghias meja sembahyang dengan pelbagai makanan untuk arwah leluhur. Semua kegiatan dan benda-benda itu diterangkan dan ternyata banyak siswa yang tidak mengetahui perincian kegiatan merayakan Imlek. Sesi ini juga memperbolehkan siswa bertanya kepada fasilitator.

Setelah sesi pertama berjalan selama setengah jam, baru dimulai dengan sesi kedua, yakni belajar Bahasa Mandarin. Dalam sesi kedua ini satu persatu lafal siswa dilatih lafal dengan menggunakan ejaan Hanyu Pinyin. Siswa dilatih berbicara dalam Bahasa Mandarin dengan menggunakan dan mengembangkan kosakata sesuai dengan situasi yang dihadapi. Seperti biasanya, pada awalnya siswa malu-malu bicara, tetapi fasilitator memberikan dukungan agar siswa tidak takut salah bicara. Untuk mengetahui capaian penguasaan materi, fasilitator mengulang materi dengan menggunakan flash card. Hasilnya, siswa dapat menebak dan menjawab dengan tepat pertanyaan yang diberikan. Di akhir pengajaran, fasilitator memberikan pekerjaan rumah dengan minta siswa membuat dialog bergambar tentang topik yang diajarkan dan akan dikumpulkan pada pertemuan berikutnya.

Setelah melaksanakan tiga kali pengajaran yang modelnya seperti di atas, evaluasi yang diterima dari para siswa menunjukkan metode belajar budaya yang dikombinasikan dengan materi ajar kemahiran bahasa sangat diminati siswa. Mereka merasa lebih rileks, pelajaran diterima dengan suasana hati senang dan waktu belajar tak terasa sudah berakhir. Itu merupakan capaian dari Program ini.

Comments

comments