Nasib Guru Honorer Ditengah Minusnya Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh: Agustina Wulaningtyas, S.Si., Pengajar SMK Al-Asiyah, Cilodong, Depok

Gerakan penolakan atas rekrutmen CPNS 2018 makin gencar dilakukan guru honorer di berbagai daerah. Ratusan guru honorer mendadak mogok kerja. Mereka meminta syarat usia dan tingkat pendidikan dihapuskan agar dapat mengikuti seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2018 yang tercantum dalam Permen PAN-RB 36/2018. Menanggapi hal tersebut Menteri dalam negeri Moeldoko mengatakan bahwa tidak mungkin semua guru honorer dapat diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) karena ada standar yang harus dipenuhi termasuk standar usia.

Pahlawan tanpa tanda jasa. Itulah gelar mulia yang diberikan kepada guru di negeri ini. Guru adalah sosok berjasa yang memiliki tugas sebagai pendidik dan pengajar. Guru juga dikatakan sebagai orang tua kedua karena gurulah yang juga ikut berperan penting mendidik siswa selain orang tua di rumah tentunya. Sayangnya, di negeri ini ada dua macam guru yaitu guru PNS dan guru honorer. Perbedaan dari kedua guru tersebut adalah dari segi finansial di mana guru honorer kedudukannya seperti anak tiri di negeri ini karena gaji yang diterima tidak setimpal dengan pekerjaan yang mereka lakukan bahkan ada yang sampai tidak digaji.

BACA JUGA:  Rumah Zakat Kirim 30 Ton Paket Superqurban dan 15 Truk Bantuan Logistik untuk Palu - Donggala

Selain masalah perbedaan gaji guru honorer dan PNS masalah lain yang harus dihadapi adalah adanya kekurangan guru yang saat ini menjadi masalah serius bagi dunia pendidikan di Indonesia. Sungguh negeri ini sudah masuk dalam masalah darurat pendidikan. Di tengah tingginya jumlah honorer yang terus berharap menjadi PNS, pemerintah masih belum berhasil menjadikan para guru bebas dari beban-beban persoalannya. Mereka tidak hanya harus berjibaku menghadapi sulitnya kehidupan ekonomi karena minimnya honor. Namun, juga beratnya menghadapi tantangan kehidupan peserta didik zaman now yang tidak mudah.

BACA JUGA:  Kota Depok Boyong 61 Medali di Porda Jabar 2018

Dalam Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan mulia di sisi Allah SWT. Karena guru adalah sosok yang dikaruniai ilmu oleh Allah SWT dan memiliki kewajiban untuk mendidik siswanya agar cerdas secara ilmu pengetahuan serta spiritual yakni memiliki kepribadian Islam. Sejarah telah mencatat bahwa guru dalam naungan sistem Islam mendapatkan penghargaan tinggi dari negara termasuk pemberian gaji yang melampaui kebutuhannya. Hal tersebut tentu akan membuat guru dapat fokus untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pencetak SDM berkualitas yang dibutuhkan negara untuk membangun peradaban yang agung dan mulia. Sayangnya itu semua hanya dapat terjadi jika Islam diterapkan secara kaffah dalam semua aspek kehidupan. Hanya dengan sistem Islam kesejahteraan dan rahmatan lil alamin akan dapat dirasakan.[]

BACA JUGA:  Etoser Tiga Kampus Bersatu Untuk Palu

Comments

comments