Mahasiswa IDS Berhasil Membawa Karyanya Ikut Serta dalam Pameran Bertaraf Internasional

Display karya Yopi di Chamchuri Gallery, Bangkok.

JAKARTA – Salah satu mahasiswa International Design School (IDS) kembali menorehkan prestasi di kancah internasional. Melalui karya digital sculpting-nya, Yopi Agung Koestiana atau yang akrab disapa Yopi ini, berhasil ikut serta dalam Pameran THE 4TH SPEKTRUM 2018 EXTENDED “Story Never Dies” yang berlangsung di Bangkok, Thailand.

Sebelumnya, pameran SPEKTRUM yang diselenggarakan oleh ARCOLABS ini sudah dilaksanakan pada Maret lalu di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan melibatkan 13 seniman dari Indonesia,Thailand dan Australia.

Untuk itulah sebagai program lanjutan dari Pameran Spektrum tersebut, dilaksanakanlah THE 4TH SPEKTRUM 2018 EXTENDED “Story Never Dies”.

“Pada program SPEKTRUM 2018 sebelumnya, Thailand kami undang ke Indonesia sebagai salah satu peserta dari penyelenggaraan pameran di Indonesia tersebut, lalu mereka membawa konsep pameran ini untuk diadakan di Bangkok,” ungkap Evelyn Huang, selaku kurator ARCOLABS.

Pameran THE 4TH SPEKTRUM 2018 EXTENDED “Story Never Dies” yang telah dilaksanakan pada 28 September – 10 Oktober 2018 tersebut hanya diikuti oleh dua negara, yaitu 10 artists yang berasal dari Thailand dan 3 artists dari Indonesia, salah satunya Yopi Agung.

“Karena ini pertama kalinya kami menyelenggarakan program pameran SPEKTRUM di luar negeri, maka sebagai pilot-projectnya, kerjasama antara dua negara saja dulu,” ungkap Evelyn Huang.Terpilihnya Yopi Agung, bukan tanpa alasan. Ia melalui proses yang cukup panjang hingga dapat terpilih mewakili Indonesia. Dari 10 mahasiswa yang ikut pada Pameran Spektrum lalu, terpilih 3 orang untuk mewakili Indonesia.

“Yopi dipilih dengan pertimbangan penggunaan media digitalnya yang unik berupa digital sculpting. Sehingga dapat menampilkan hasil yang berbeda dari karya seni buatan tangan seperti lukisan, patung, atau seni grafis. Karena ini pameran kelompok yang pesertanya ada 13 orang, maka akan lebih menarik jika kita dapat menampilkan media karya yang beragam,” tutur Evelyn Huang.

Sementara itu Yopi sendiri merasa senang dan bangga turut berpartisipasi dalam pameran ini. Mengangkat sosok Kinnaree Manorah, seorang putri berwujud setengah angsa yang hidup di hutan ajaib bersama peradaban mahkluk dongeng lainnya. Yopi memiliki ketertarikan yang cukup besar dalam membuat karakter ini.

“Di sini saya membuat konsep karakter games dalam bentuk patung digital dengan pose ekspresif untuk menggambarkan ciri khasnya saja,” tuturnya. Ia juga menjelaskan proses untuk membuat karya sculpting ini memang memakan waktu yang cukup lama. “Cukup lama sih. Ditambah lagi saya, menambahkan satu karakter ikon gajah putih yang saya coba gabungkan dengan sosok Kinnaree ini. Jadi, ada perbedaan yang cukup signifikan untuk bentuk gajahnya,” ungkap pria kelahiran Karawang tersebut.

Ke depannya Yopi berharap semoga karya yang ia buat kedepannya bisa diproduksi menjadi animasi pendek dengan tim produksi yang mumpuni.

Melalui, program Student Exchange ini diharapkan mahasiswa International Design School dapat kembali menorehkan prestasi dengan berbagai karya kreatif yang dibuat dan membawa harum nama IDS dan juga Indonesia.

Comments

comments