Tahun 2032 Industri Briket Batok Kelapa Indonesia Terancam Punah

Ilustrasi briket arang batok kelapa.(Istimewa)

JAKARTA – Nilai tukar rupiah sepanjang 2018 telah terdepresiasi lebih dari 10% terhadap dolar AS. Hal ini tentu saja mengganggu APBN, perencanaan bisnis, bahkan eksekusi bisnis itu sendiri. Namun tidak semua sektor usaha kolaps akibat depresiasi dollar terhadap rupiah.

Sektor usaha yang 100 persen berbasis kekayaan sumber daya alam Indonesia, yakni kelapa, memiliki manfaat yang luas dan berdaya ungkit tinggi. Mulai dari daging kelapa, airnya, sabut, hingga batok kelapa bisa menghasilkan uang yang banyak bila pandai-pandai mengelolanya. Bahkan batang kelapa, daun, lidi, hingga akar kelapa juga masih bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia.

Pendulang devisa

Namun bisnis berbahan baku kelapa ini masih terperangkap dalam bisnis tradisional, kelapa cenderung untuk konsumsi langsung, setelah itu sampahnya dibuang begitu saja. Ditangan para pengusaha UMKM ini, dengan inovasi dan modifikasi, kelapa ini memiliki nilai tambah yang menghasilkan devisa amat besar.

Batok kelapa dijadikan briket yang nilai jualnya bisa mendatangkan dolar AS, di masyarakat internasional dikenal dengan briket arang batok kelapa (coconut charcoal). Coconut charcoal adalah batok kelapa yang dijadikan powder atau bubuk, kemudian diadoni dengan campuran tepung, setelah itu dicetak seperti kotak-kotak seukuran sekepal. Kemudian dikeringkan dalam oven sehingga siap pakai sebagai bahan bakar ramah lingkungan.

Bahkan tak hanya mampu mendatangkan devisa, coconut charcoal juga bisa menyerap lapangan tenaga kerja yang cukup besar. Hal tersebut diungkapkan Yogi Abimanyu, Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Arang Kelapa Indonesia (PERPAKI). Dalam paparannya kepada Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), badan penasihat Presiden Jokowi dibidang pengembangan ekonomi dan industri yang diketuai oleh Soetrisno Bachir, Abimanyu mengutarakan prospek dan peluang bisnis briket arang batok kelapa yang sangat strategis. Namun selama ini kurang dilirik masyarakat, terutama belum mendapat sentuhan kebijakan pemerintah. Padahal potensinya begitu besar untuk mendatangkan devisa dan menyerap tenaga kerja. “Ini potensi ekspor yang belum tersentuh regulasi. Kami senang karena KEIN amat mengapresiasi aspirasi kami. Dengan pintu terbuka lebar dari KEIN, kami menjadi optimis dapat menjadi mitra strategis bagi pemerintah untuk pengembangan sumber daya alam berupa kelapa dan semoga kami diperkenankan berkontribusi terhadap perekonomian nasional,” ujarnya.

Dalam paparannya di KEIN, Abimanyu mengungkapkan pada tahun 2016, Indonesia menghasilkan 14,5 miliar butir kelapa, sampai 2018 diperkirakan jumlah tersebut belum banyak berubah. Jumlah itu kalau dikonversi menjadi 457,41 ribu ton arang asalan (raw material charcoal). Dari jumlah tersebut, sebanyak 273,11 ribu ton (40,97%) arang asalan diekspor secara raw yang nilainya rendah (low value product).

Sisanya 40,95 ribu ton arang diserap oleh konsumsi domestik seperti tukar sate dan warung Padang, sebanyak 135,55 ribu ton arang diserap industri karbon aktif dalam negeri, 217 ribu ton diserap oleh industri briket dalam negeri yang nilainya sangat tinggi (high value products).

“Sehingga terjadi defisit suplai sebesar 209,20 ribu ton bagi kebutuhan dalam negeri,” tambahnya di sela-sela diskusinya dengan KEIN.

Dia menggambarkan komposisi penggunaan butir kelapa di Indonesia secara bisnis belum maksimal. Masih terkonsentrasi untuk diekspor berupa raw material charcoal, bahasa kasarnya diekspor masih gelondongan. Padahal yang dibutuhkan adalah produk yang sudah mendapat sentuhan sehingga memberi nilai tambah (value added) bagi para pebisnis, seperti briket arang batok kelapa ataupun berupa karbon aktif. Total raw material charcoal yang diekspor pada 2016 mencapai 273,11 ribu ton, sementara yang diekspor berupa karbon aktif hanya 22,63 ribu ton.

Berbeda dengan Filipina yang secara luas lahan tak lebih dari separuh lahan di Indonesia dengan produksi lebih sedikit dari Indonesia, namun mampu memproduksi karbon aktif hampir tiga kali lipat dari Indonesia. Mereka mengekspor raw material charcoal 25,36 ribu ton berbanding 61,78 ribu ton karbon aktif yang sudah diberi nilai tambah.

Sedangkan India yang secara luas lahan sama dengan Indonesia, namun mampu memproduksi dua kali lupat butir kelapa dibandingkan Indonesia. India mengekspor hanya 16,75 ribu ton raw material charcoal, namun mampu mengekspor karbon aktif hingga 71,67 karbon aktif.

Buat Indonesia, ungkap Abimanyu, jika bahan baru arang kelapa tidak diregulasi oleh pemerintah, maka berdasarkan data Asian Pacific and Coconut Community (APCC) atas trend ekspor arang kelapa selama 2011-2016 diproyeksikan pada 2032 seluruh industri arang dalam negeri terancam punah karena kehabisan bahan baku. “Karena itu perlu ada sentuhan regulasi pemerintah agar orientasi ekspor difokuskan pada nilai tambah, menyerap tenaga kerja sekaligus mengangkat martabat bangsa dimata internasional,” jelasnya.

Saat ini produk briket arang batok kelapa sudah terkenal di Saudi Arabia, Jerman, Prancis, Belanda, Amerika, Australia, China dan negeri-negeri maju lainnya. Briket arang ini biasa digunakan untuk bahan bakar shisha hisap, untuk memanggang barbekyu, dan sebagian kecil untuk membakar sate, ikan, daging dan lainnya. Sementara karbon aktif arang batok kelapa, biasa digunakan untuk pembersih air lewat penyulingan, penyulingan emas, pembersih akuarium, penetralisir limbah rumah sakit, pencampur norit dan odol.

Perpaki, menurut Abimanyu, sudah memiliki konsep untuk mengembangkan produk briket arang batok kelapa dengan tujuan, pertama, menggenjot penerimaan devisa ekspor. Karena penerimaan bisnis briket arang ini dalam bentuk dolar AS. Kedua, menciptakan entreprenuer muda baru dibidang briket arang batok kelapa maupun karbon aktif. Terutama untuk pengembangan bisnis UMKM dibidang briket batok kelapa.

Ketiga, penciptaan dan penyerapan lapangan kerja secara maksimal. Sedikitnya ada 1 juta tenaga kerja yang bisa diserap dengan struktur bisnis kelapa apa adanya, tapi jika mendapat sentuhan regulasi potensi itu bisa ditingkatkan.

Keempat, pengejawantahan revolusi mental Presiden Jokowi, yakni pergeseran dari raw material export mentality menjadi value added products exsport mentality.

Pendek kata, disaat Bank Indonesia harus kehilangan cadangan devisa lebih dari US$14 miliar pada tahun 2018, produk briket arang batok kelapa ternyata mampu mendatangkan dolar AS atau devisa hasil ekspor. Karena itu bisnis ini harus dilindungi dan diregulasi agar arah perkembangan ke depan tidak hanya habis ditelan zaman, namun mampu menjadi produk ekspor unggulan.

“Untuk mewujudkan keseriusan rasa nasionalisme yang tinggi, Perpaki siap MoU dengan KEIN atau Kemendag agar dapat segera membantu mewujudkan pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang menghasilkan nilai tambah produk yang tinggi. Bahkan kami siap membantu melanggengkan kedaulatan industri UMKM di tanah air,” tutupnya. (*)

Comments

comments