Rsensi Buku: Kesenjangan Ekonomi: Mewujudkan Keadilan Sosial di Indonesia

Judul : Kesenjangan Ekonomi: Mewujudkan Keadilan Sosial di Indonesia
Penulis : Eka Sastra
Penerbit : Expose
Cetakan : Desember 2017
Tebal : 356 halaman
ISBN : 978-602-7829-43-5

Resep Atasi Kesenjangan Ekonomi
Oleh: Hermansyah Kahir, Founder Yamuri

Untuk melihat ketimpangan antara kelompok kaya dan miskin kita tidak perlu jauh-jauh pergi ke pelesok desa. Di Ibu Kota Jakarta yang dipenuhi gedung-gedung megah bertingkat, kita banyak jumpai orang-orang miskin yang tinggal di bangunan tidak terawat dan kumuh.

Pembangunan ekonomi yang tinggi cenderung hanya menjadikan sekelompok orang menjadi lebih kaya dan sejahtera, sementara yang lain justru tidak dapat menikmati kue pembangunan. Hal ini terjadi karena banyak faktor, seperti tidak efektifnya program pengentasan kemiskinan, tidak meratanya pembangunan infrastruktur antara satu daerah dengan daerah lain, dan masih mengguritanya praktik korupsi dalam proyek pembangunan.

Buku bertajuk Kesenjangan Ekonomi: Mewujudkan Keadilan Sosial di Indonesia, secara khusus membahas ketimpangan ekonomi secara komprehensif yang terjadi di tengah-tengah kita. Dengan segudang pengalamannya sebagai pebisnis dan politisi, Eka Sastra dengan sangat apik menyajikan buku ini dari berbagai perspektif, mulai dari teori kesenjangan, faktor-faktor penyebab terjadinya kesenjangan, sejarah kesenjangan hingga beberapa solusi yang ditawarkan penulis.

Salah satu penyebab melebarnya kesenjangan di Indonesia adalah masih banyaknya jumlah orang miskin. Hal ini tidak dapat dimungkiri, karena kita hidup di dunia yang begitu luas. Di satu sisi belahan dunia, terdapat banyak orang yang masih hidup dalam jerat kemiskinan, tetapi di belahan dunia lain terdapat orang yang sangat kaya (halaman 64).

Meningkatnya jumlah kemiskinan tentu bukan faktor tunggal, karena masih banyak faktor lain yang menyebabkan tingkat kesenjangan menjadi semakin melebar, antara lain karena faktor politik, kegagalan institusi dan kebijakan publik, minimnya investasi pada infrastruktur kebutuhan dasar, kurangnya penyediaan lapangan kerja dan terjadinya kegagalan pasar.

Kehadiran buku ini tidak berisi teori semata. Lebih jauh, Eka Sastra menawarkan solusi untuk menurunkan tingkat kesenjangan. Salah satu tawarannya adalah pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi sasaran utama pembangunan. Namun, persoalannya ialah sasaran pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum cukup menjadi jaminan bahwa kesejahteraan masyarakat akan meningkat secara merata.

Oleh karena itu, sasaran pembangunan tidak hanya berhenti sampai dengan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi saja. Sasaran pembangunan harus membidik pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dengan memperhitungkan pemerataan pendapatan serta pengentasan kemiskinan dan pengangguran (halaman 101).

Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dapat membuka kesempatan kerja yang luas bagi masyarakat. Hal ini bisa terwujud apabila didukung oleh pertumbuhan sektor riil yang menyerap lebih banyak tenaga kerja. Jangan sampai pertumbuhan ekonomi tidak mampu menyediakan lapangan kerja atau hanya dinikmati oleh segelintir orang sementara yang lain hidup dalam jurang kemiskinan.

Sejak Indonesia merdeka hingga saat ini, kesenjangan menjadi pekerjaan rumah yang belum teratasi secara tuntas. Kesenjangan kaya-miskin dan antarwilayah sudah menjadi pemandangan yang dapat kita saksikan di sekitar kita. Berbagai kebijakan dan program yang dicanangkan pemerintah belum mampu mengatasi persoalan kesenjangan.

Buku karya Eka Sastra ini hadir ke tengah-tengah pembaca untuk memberikan solusi dalam upaya mengurangi persoalan kesenjangan. Pembahasannya cukup menarik karena penulis mengemasnya dengan dukungan berbagai teori dan data-data. Selain melalui pendekatan ekonomi, penulis juga menggunakan pendekatan geografis, sosial dan politik.

Penulis mampu menawarkan seperangkat solusi yang dikupas secara detail dalam buku ini. Analisis yang tajam ditambah dengan kekayaan literatur, menjadikan buku ini sangat penting dibaca oleh siapa saja terutama para pengambil kebijakan.

Comments

comments