Resensi Buku: Selling Yourself, Menang Bersaing di Era MEA

Judul : Selling Yourself: Menang Bersaing di Era MEA
Penulis : Setyo Riyanto, dkk.
Penerbit : Kaifa bekerja sama dengan MarkPkus. Inc
Cetakan : Maret 2016
Tebal : 161 halaman
ISBN : 978-602-0851-40-2

Bersiap Memenangkan Indonesia di Pasar Tunggal ASEAN

Persensi: Wardatul Hasanah
Penikmat buku & lulusan Pondok Pesantren Darul Ulum Pamekasan

Sejak tahun 2015 Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah resmi diberlakukan. Bersatunya negara-negara ASEAN menjadi pasar tunggal menjadi momentum untuk saling bekerja sama dan menjaga hubungan perekonomian yang lebih harmonis antarsesama negara-negara di kawasan ASEAN. Dengan kerja sama ini diharapkan ASEAN bisa menjadi kekuatan ekonomi yang diperhitungkan di kancah global.

Banyak pengamat, tokoh maupun pelaku bisnis yang memprediksi Indonesia akan menjadi pemain utama di pasar tunggal MEA mengingat Indonesai memiliki jumlah penduduk yang besar dan stabilitas perekonomian yang cukup baik. Pandangan-pandangan tersebut diuraikan dengan sangat baik oleh Setyo Riyanto dkk, dalam bukunya Selling Yourself: Menang Bersaing di Era MEA. Secara khusus buku ini menjelaskan beberapa strategi agar Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya.

Menurutnya, untuk sukses di MEA, peran pemerintah Indonesia sangatlah penting. Selain program-program pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah untuk penyetaraan infrastruktur di seluruh Indonesia, diperlukan adanya dukungan langsung oleh pemerintah pada pelaku usaha kecil di Indonesia (hlm: 10).

Jumlah pelaku UKM yang jumlahnya sangat besar harus menjadi perhatian serius oleh pemerintah. Pemerintah harus mendorong agar pelaku UKM mampu bersaing di kawasan ASEAN. Tak hanya itu, pemerintah harus membantunya dalam hal pemasaran produk. Di era digital saat ini, pelaku usaha kecil perlu bertransformasi dari model bisnis tradisional (offline) ke model bisnis digital (online). Dengan cara ini, diharapkan akan membuka banyak peluang baru bagi UKM Indonesia untuk mengembangkan bisnisnya. Tentu saja kulitas pelaku bisnis atau sumber daya manusianya juga perlu diperbaiki kualitasnya.

Tantangan paling besar bagi Indonesia dalam menghadapi MEA tidak hanya sebatas kualitas produk yang harus dipertahankan, kualitas sumber daya manusianya juga agar bisa bersaing hingga ke tinggkat regional. Hal-hal yang sangat dibutuhkan untuk membentuk sumber daya manusia yang unggul dapat melalui peningkatan kemampuan hard skill dan soft skill, keahlian dan pemikiran yang bersifat global, pemahaman nilai kearifan lokal, serta pelatihan keterampilan dan kompetensi kerja (hlm: 23).

Selain persoalan UKM dan kualitas SDM yang menjadi perhatian penulis, sektor pariwisata juga menjadi bahasan penting dalam buku ini. Apalagi sektor pariwisata diproyeksikan akan berkontribusi terhadap PDB pada 2018 hingga mencapai 5,25% dari 5% pada tahun lalu. Kunjungan wisatawan pada tahun ini juga diprediksi akan naik 2 juta kunjungan menjadi 17 juta kunjungan.

Oleh karena itu, dibutuhkan keseriusan dan langkah nyata dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan pelaku industri pariwisata untuk menciptakan rasa nyaman, aman, dan kemudahan bagi wisatawan mancanegara yang akan berkunjung ke Indonesia. Kata penulis, kita juga perlu menjaga 4K, yaitu keasrian, kebersihan, keindahan, dan keamanan lingkungan tempat-tempat wisata agar para pengungjung betah dan mau berkunjung kembali.

Tak lupa juga penulis menyinggung persoalan jumlah wirausaha di Indonesia yang jumlahnya masih kalah dengan negara tentangga. Jumlah wirausaha Indonesia baru mencapai 3,1 persen dari jumlah penduduk. Rasio ini masih lebih rendah dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia 5 persen, China 10 persen, Singapura 7 persen, Jepang 11 persen maupun AS yang 12 persen. Karenanya, pemerintah perlu mendorong terciptanya wirausaha-wirausaha baru yang berjiwa produktif, kreatif, dan inovatif sehingga bangsa ini mampu bersaing di tingkat global.

Berbagai tantangan yang diuraikan penulis di atas harus menjadi perhatian oleh pemerintah, pelaku bisnis, lembaga pendidikan agar potensi dan sumber daya yang dimiliki Indonsia mampu digali secara maksimal untuk kemenangan Indonesia di pasar tunggal MEA.

Comments

comments