Industri Dana Pensiun Vs Kaum Milenial, Siapa Menang?

Sepertiga dari 250 juta penduduk Indonesia hari ini diduga tergolong milenial. Usia mereka antara 18-38 tahun. Belum lagi ditambah, generasi baby boomers atau mereka yang usianya di atas 40 tahun yang bergaya milenial. Atau lebih pasnya ikut-ikut milenial. Makin banyak lagi. Entah, ada atau tidak generasi milenial sebenarnya. Tapi yang pasti, mereka harus tetap diedukasi untuk mempersiapkan masa pensiun. Karena kaum milenial pun akan tua. Lalu, gimana mereka bila tidak punya uang di saat pensiun? Milenial itu punya sifat aktif, kreatif dan inovatif. Maka agar sifat-sifat itu tetap terpelihara, sudah pasti mereka butuh dana atau uang sekalipun di masa pensiun.

Tahukah Anda ciri terpenting generasi milenial?

Ciri generasi milenial adalah hidupnya berfokus pada “saat sekarang” bukan “saat nanti” dan setiap solusi didasari dengan cara “instan” bukan “proses”. Itulah ciri terpenting para milenial yang diduga kini, mencapai 80 juta orang di Indonesia. Itu pula yang menjadi preferensi pilpres Indonesia di tahun 2019 nanti. Merebut “hati” para millenial. Karena mendulang “suara” mereka, sudah cukup jadi presiden.

Bagi industri dana pensiun, generasi milenial memberi tantangan tersendiri. Karena milenial dikenal sangat “meremehkan uang”. Pasalnya sederhana, karena generasi milenial sudah bisa menghasilkan uang di usia muda. Merasa lebih mudah mendapatkan uang. Maka wajar, milenial lebih konsumtif, gampang keluar uang tanpa banyak pertimbangan. Seharusnya tidak dibeli tapi tetap dibeli. Income ada, produktivitas tinggi tapi belum diimbangi dengan kontrol yang baik.

Maka menyadarkan generasi milenial akan pentingnya dana pensiun sama sekali tidak mudah. Harus punya strategi dan effort tersendiri yang jitu. Agar kesadaran milenial “terbangun” dalam merencanakan masa pensiunnya. Karena bila milenial tidak punya program pensiun, sungguh sangat berbahaya. Karena mereka akan jadi tipikal penduduk yang mengalami “kebangkrutan” di usia pensiun.

Semakin sulit membangun kesadaran akan pentingnya program pensiun di kalangan milenial. Di samping idealis dan kurang peka, milenial terlalu mudah untuk “berganti pekerjaan”, sering tidak betah berlama-lama dalam satu pekerjaan atau pekerjaan yang terlalu rutinitas.

Tidak dapat dipungkiri, salah satu kebiasaan unik generasi milenial adalah ingin bebas. Maka mereka lebih senang nongkrong atau hangout di mana saja, termasuk kulineran atau traveling. Pertanyaannya, itu biaya hangout milenial on budget atau over budget? Lalu, mengapa sebagian dana hangout-nya tidak mau disisihkan untuk program pensiun?

Milenial, sungguh memberi tantangan tersendiri terhadap industri dana pensiun khususnya Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). DPLK sebagai penyedia program pensiun kini harus lebih kreatif dan inovatif. Agar bisa memfasilitasi kebutuhan program pensiun generasi milenial. Tentu kaca mata yang harus dipakai adalah milenial sebagai “peluang” bukan “ancaman” dengan alasan yang membatasinya.

Oleh karena itu, cara pemasaran dan edukasi DPLK pun harus digeser ke generasi milenial daripada hanya bergantung kepada korporasi semata. Maka setidaknya, ada tiga concern yang harus jadi perhatian DPLK bila mau mengakomodir kebutuhan dana pensiun generasi milenial:

1. Orientasi retail pensiun yang lebih bersifat individual. DPLK tidak lagi bisa hanya mengandalkan skema corporate dalam menawarkan program pensiun DPLK. Karena di era milenial, keputusan punya atau tidak punya progam pensiun ada di tangan individu bukan korporasi. Ke depan, pemasaran DPLK secara korporasi hanya “bonus” tapi karakter kuatnya akan bergeser ke individu atau perorangan.

2. Inovasi produk DPLK yang sesuai dengan generasi milenial; simpel dan paham manfaat. Produk DPLK yang bersifat retail atau individual harus simpel dan gampang dipahami manfaatnya. Agar keputusan membelinya tidak butuh waktu berbulan-bulan, produk DPLK harus dibuat sederhana dan mudah diakses. Nanti segala insentif individual, pasti akan ada bila volume bisnis DPLK meningkat dan tumbuh secara signifikan.

3. Tersedianya teknologi dan aplikasi yang memadai untuk progran pensiun DPLK. Karena era milenial menghendaki kehadiran teknologi sebagai alat yang memudahkan milenial untuk mengakses DPLK. Kapanpun dan dimanapun, seharusnya milenial atau masyarakat yang ingin membeli program DPLK dapat dimudahkan. Teknologi adalah suatu keharusan bila industri DPLK ingin bertumbuh dan tetap survive.

Suka tidak suka, era milenial adalah sebuah revolusi peradaban, realitas yang harus terjadi dan harus dihadapi. Revolusi industri 4.0, revolusi gaya hidup, hingga revolusi media sosial mau tidak mau telah “membukakan mata” kita, mata semua orang bahwa “dunia kini berubah cepat”. Semuanya tidak seperti dulu lagi, segalanya berubah. Maka DPLK sebagai program maupun produk harus berubah. Karena bila tidak, akhirnya hanya jadi “penonton”. Peluang dan potensinya besar tapi justru “dinikmati” oleh industri lain, seperti asuransi jiwa atau pasar modal. Karena itu, sikap dan komitmen para pendiri DPLK harus “digedor” agar mau berubah dan berorientasi ke era milenial. DPLK tidak lagi soal “nice to have” tapi telah bergeser ke “need to have”. Maka jangan kasih kendor, DPLK harus terus bersosialisasi dan edukasi masyarakat tanpa henti sampai kapanpun.

Sebutlah itu semua, pertarungan industri dana pensiun vs kaum milenial, siapa yang menang? Tunggu 10 atau 20 tahun lagi dari sekarang, siapa yang makin maju?

Satu hal yang harus diantisipasi di era milenial, termasuk untuk industri DPLK. Bahwa kebesaran sebuah generasi atau industri tidak lagi ditentukan oleh data dan angka. Tapi jauh lebih penting, ditentukan oleh bagaimana cara kita bereaksi terhadap tantangan yang menghadang. Persis seperti kita bereaksi terhadap “sesuatu yang berubah dengan cepat dan itu ada di dekat kita”.

Maka, jawablah tantangan era milenial sekarang. Mau jadi berkah atau musibah? Sungguh, hanya ditentukan oleh cara kita dalam menyikapinya. Karena fakta hanya 10% saja, 90% lagi tergantung sikap kita …. salam milenial #YukSiapkanPensiun #PensionForMillenial

Comments

comments