Analisis Rupiah yang Melemah dalam Tempo Sejarah

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh : Dudi Supriadi, Mahasiswa STEI SEBI

Berbicara tentang rupiah yang kian melemah dalam beberapa pekan terakhir membuat barang barang impor ikut menguat terkhusus yang berbahan baku baja,besi, elektonik dan lain sebagainya, dampak dari perang dagang anatara china dan negara adidaya amerika serikat menjadi salahsatu penyebab rupiah kini kian melemah.

Sejarah telah membuktikan proses melemahnya mata uang indonesia ini, beberapa syarat mata uang yang harus terpenuhi adalah Unit Of Accaount, story of velue dan medium Of Exchange, dimana nilai mata uang harus seimbang dengan nilai intrinsiknya, fungsinya sebagai media tukar, dan mempunyai satuan unit, sejarah telah membuktikan bagaimana keganasan kaum kapitalisme dalam merekayasa nilai mata uang, kemakmuran yang semu mereka ciptakan hanya untuk mengganti tolak ukur mata uang dunia terjadi pada tahun ke- 1971.

Kita coba buktikan tahun 1996 ketika pendapatan perkapita kita masih di angka US$ 200, itu setara dengan 42 ekor kambing pada saat itu. Ketika pendapatan perkapita kita mencapai US$ 900 dalam 32 tahun kemudian tahun 1997 itu hanya setara dengan 20 ekor kambing, tahun berikutnya pendapatan perkapita kita meningkat menjadi US$ 3.250 tetapi ini hanya mampu membeli sekitar 14 ekor kambing kelas baik atau ini setara dengan hanya 14 dinar saja (Muhaimin Iqbal Sharia Economics 2.0). terlihat sangat jelas perbandingan pendapatan perkapita negeri kita di tahun 1966 sampai sekarang.

Jika di lihat secara kasat mata sistem barat yang di ciptakan ini sangat menggiurkan dan berdampak pada pendapatan yang terus bertumbuh, tetapi jika kita selidiki dan membandingkannya dengan mata uang yang memenuhi kriteria, salahsatunya nilai mata uangnya sama dengan nilai intrinsiknya yaitu emas, ini menjadi perkembangan semu kaum kapitalisme yang membuat rakyat semakin susah dan lemah mengikutinya.

Tentu mendengar kabar rupiah semakin melemah bahkan sampai mencapai Rp.15000 per 1 US$ dollar ini bak halilintar yang menyambar di siang bolong nyatanya rupiah yang kian melemaih bahkan prediksinya lebih buruk daripada kerisis moneter tahun 1998, kini pemerintah harus mulai berbenah diri memperbaiki keadaan yang kian kacau tidak menentu.

Lalu bagaimana solusi kita sebagai masyarakat menanggapi rupiah yang sedang sekarat ..?? apakah hanya diam saja sambil mengaminkan do’a para pejabat yang lama tak terealisasi.? Tentunya tidak, kita juga harus ikut berartisipasi dan mengenyampingkan kepentingan politik pribadi misalnya karena kita tim oposisi, diantara yang harus kita lakukan adalah pertama tidak membeli produk produk impor dari luar negeri, seperti hand phone, TV, Kulkas dan lain sebagainya,kedua tidak berjalan jalan keluar negeri di saat melemahnya rupiah, ketiga menukarkan dollar yang kita punya dengan rupiah ke empat tidak ikut menjadi batu sandungan/memanfaatkan kondisi di saat rupiah sedang melemah untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Kini rupiah sedang melemah dan pemerintah harus secepatnya berbenah supaya tidak memperburuk suasana sebagaimana negeri jerman yang pernah dilanda inflasi tahun 1923 mereka pada saat itu mendorong gerobak yg di penuhi uang hasil bekerja untuk di tukarkan dengan roti, mereka lebih baik membakar uang untuk menghangatkan badan daripada membeli kayu bakar, tentunya kita tidak ingin seperti mereka, kita berdo’a dan berusaha supaya rupiah kembali sehat dan semakin membaik, karena Allah Swt berfirman “maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” dalam (Q.s Al-Insyiroh [94] : 5 & 6 ).

Comments

comments