Perempuan Pemegang Tombak Peradaban

Ragam kehidupan di dunia ini, tidak hanya satu atau dua jenis saja, akan tetapi banyak golongan. Semua golongan memiliki tujuan masing – masing. Akan tetapi dalam hal keturunan, semua orang tidak menginginkan buah hatinya menjadi generasi yang buruk. Seburuk apa pun orang tua, akan tetapi mereka menginginkan masa depan anak-anaknya lebih baik dari pada yang mereka rasakan. Bahkan singa yang ganas pun, tidak akan memakan anaknya sendiri. Ia akan sentatiasa melindungi anaknya.

Teringat sebuah kisah, pada suatu hari di senja yang sejuk nan sunyi, saya bersama teman – teman sedang duduk melingkar di emperan asrama kampus, kami asyik berdiskusi disana. Dalam pertengahan diskusi seorang teman mengatakan “Sebuah peradaban yang besar terlahir dari peran seorang perempuan.” Kita tidak perlu bersedih karena tidak bisa menjadi seorang presiden, sehingga kita tidak bisa memberikan kebijakan yang akan memberikan kesejahteraan pada masyarakat.

Tidak perlu merasa takut karena tidak bisa mendapatkan keutamaan seorang muadzin. Resah dan iri pada kaum laki-laki karena mereka bisa mengumandangkan adzan, sedangkan perempuan tidak bisa melakukannya. So, jangan sedih wahai kaum perempuan, Karena sesungguhnya seorang perempuan pun akan mendapakan kebaikan dari seorang muadzin, yaitu dengan cara melahirkan dan mendidik anak laki-lakinya agar senantiasa menjadi seorang muadzin.

Karena sesungguhnya di balik kesuksesan seorang suami dan anak laki-laki terdapat peran seorang perempuan di belakangnya, yaitu seorang istri yang senantiasa mendorong demi kesuskesan suami dan serta mempersiapkan generasi terbaik, dengan senantiasa mendidik seorang anak laki-laki yang hebat untuk menjadi generasi penegak peradaban.

Bahkan terdapat para tokoh dari kaum perempuan yang memperjuangkan indonesia. Rahmah El Yunusiyah salahsatunya, siapa yang tak kenal beliau. Seorang reformator pendidikan islam dan sebagai seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Beliau juga merupakan pendiri Diniyah Putri pada 1 November 1923 yang tercatat sebagai sekolah agama perempuan pertama di Indonesia. Adapun perguruan yang ada yaitu terdiri dari taman kanak-kanak sampai dengan sekolah tinggi. Selain dalam dunia pendidikan, beliau juga merupakan pelopor pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di padang panjang dan ikut serta membentu pengadaan alat senjata pada waktu Revolusi Nasional Indonesia.

Ketika kedatangan tentara Jepang di Minangkabau, beliau ikut dalam kegiatan Anggota Daerah Ibu (ADI) yaitu kegiatan yang bergerak dalam bidang sosial. Dalam situasi perang, beliau bersama anggota ADI mengumpulkan bantuan berupa makanan dan pakaian untuk masyarakat yang membutuhkan. Beliau juga memerintahkan murid-muridnya untuk menjadikan semua taplak meja menjadi pakaian yang layak di pakai. Untuk mengumpulkan makanan, beliau memotivasi para ibu agar selalu menyisihkan beras untuk di sumbangkan kepada masyarakat yang kekurangan.

Begitu luar biasa peran seorang perempuan, karena kegigihannya ia mampu merubah preradaban. Maka, untuk seluruh kaum perempuan, mari lah kita senantiasa mempersiapkan generasi – gerasi yang mampu merubah peradaban, karena perempuan merupakan pemegang tombak peradaban.

Ipong Siti Syarifah – Mahasiswa STEI SEBI

Comments

comments