Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Pohon Mangrove

Bagi penduduk dataran tinggi, abrasi mungkin hal tersebut bukan suatu ancaman maupun masalah bagi mereka. Tetapi bagi penduduk yang tinggal di pesisisr, mereka akan harap-harap cemas semoga tidak ada abrasi di sekitaran wilayah tempat tinggal mereka. Indonesia yang merupakan negara kepulauan, otomatis akan banyak wilayah yang memiliki masalah seperti abrasi.

Salah satunya di Kabupaten Bekasi, Kecamatan Muara Gembong. Banyak orang yang belum tau bahwa Bekasi memiliki wilayah pesisir. Padahal nyatanya keindahan pesisir Muara Gembong tak kalah dengan keindahan pesisir-pesisir lain yang sudah terkenal seperti Bali, Lombok, dan lain sebagainya.

Maryam. Seorang pemudi asli Muara Gembong, banyak menceritakan dan berdiskusi dengan saya tentang kampung halamannya itu. Ia merupakan kakak sekaligus teman bagi saya di Beastudi Etos UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini, kurang lebih setengah dari pantai di Muara Gembong telah terkena abrasi. Daratan yang berada di persisir pun mau tak mau terendam banjir sebagai akibat dari abrasi tersebut. Warga harus mempersiapkan rumahnya jikalau nanti banjir tiba. Pun mereka harus memikirkan bagaimana jika nanti rumah-rumah mereka semakin tergerus oleh abrasi dan rata dengan perairan.

‘SaveMugo’ (Selamatkan Muara Gembong). Gerakan ini merupakan gerakan yang terbentuk dari kegelisahan para remaja Kota dan Kabupaten Bekasi terhadap permasalahan di wilayahnya, dan salah satunya yaitu abrasi yang terjadi Muara Gembong. Mereka mengadakan kegiatan salahsatunya berupa penanaman pohon mangrove sebagai alternatif pencegahan terjadinya abrasi di pantai. Penanaman dilakukan disekitar bibir pantai dengan jarak tanam satu setengah meter. Jika ada suatu komunitas yang ingin melakukan penanaman mangrove di wilayah pesisir Bekasi, maka SaveMugo dapat memfasilitasi sekaligus mengatur tentang perizinan, letak penanaman, hingga penanamannya.

Mangrove bukan cuma akarnya saja yang memiliki kegunaan sebagai penahan abrasi dan rumah bagi para biota laut, tetapi kayunya bisa digunakan sebagai bahan produk indrustri. Juga banyak yang belum orang ketahui yaitu buahnya dapat dijadikan produk olahan makanan yang tak kalah enak dengan produk olahan lain. Dari sini lah para remaja Bekasi berinisiatif untuk mememanfaatkan buah dari pohon mangrove dengan mengajak para ibu rumah tangga disana untuk mengembangkan olahan tersebut menjadi suatu bisnis yang dapat dijadikan sebagai tambahan penghasilan mereka. Disana olahan yang dibuat dari buah mangrove berupa dodol pidada, sirup pidada, kerupuk brayo, kerupuk daun bluntas, cemang (cemilan mangrove), sate bandeng, teh, dan lain sebagainya.

Olahan makanan yang sudah dibuat kemudian akan di promosikan melalui sosial media seperti Instagram, Blog, Line, dan lainnya. Yang dengan hal tersebut juga akan turut memperkenalkan ekowisata yang ada di pesisir Bekasi. Supaya lebih optimal, maka haruslah diadakan acara pelatihan marketing online untuk masyarakat disana supaya tidak gagap teknologi (gaptek) dan lebih mudah memasarkan produknya masing-masing. Disana akan mencangkup cara membuat promosi ataupun broadcast yang menarik hingga cara menghasilkan foto produk yang keren dan diminati oleh para konsumen.

Referensi:
Siti Maryam (Penerima Manfaat Beastudi Etos 2015 UIN Jakarta)

Comments

comments