Hindari Minum Sambil Bernafas dan Meniup Makanan, Ini Alasannya!

(Istimewa)

Ketika kita minum tanpa disadari kita pernah bernafas didalam gelasnya, dan ketika kita makan ataupun minum sesuatu yang panas seringkali kitapun meniup makanan dan minuman tersebut terlebih dahulu. Tanpa disadari pula kedua hal tersebut dapat membahayakan diri kita sendiri.

Coba kita bayangkan pada saat kita menarik nafas, kita menghirup Oksigen (O2) dan pada saat kita mengeluarkan nafas, kita mengeluarkan gas Karbondioksida (CO2), zat kapur yang merusak ginjal dan bakteri atau kuman penyakit. Jika kita meniup makanan dan minuman yang masih panas, maka akan mengkontaminasinya, karena jika kita meniupnya, kita mengeluarkan gas Karbondioksida dari dalam mulut.

Selain itu, sebagaimana sudah kita ketahui, seseorang yang minum satu gelas dalam satu kali minuman akan memaksa dirinya untuk menutup / menahan nafas hingga selesai minum. Hal ini akan menyebabkan jalur yang dilalui air dan makanan serta jalan yang dilalui udara akan saling bertabrakan. Hal ini akan berpengaruh buruk pada kedua dinding paru-paru.

Apabila seseorang membiasakan diri minum dengan menghabiskan air dalam satu kali tenggakan, paru-paru akan menyempit dan nafasnya akan berat. Dampaknya kedua paru-parunya akan menekan jantung sehingga mengalami gagal jantung, kemudian membalik ke hati maka hati akan membengkak, kemudian sekujur tubur akan menggembur.

Menurut reaksi kimia, jika air, terutama yang ada di dalam makanan dan minuman yang kita tiup, akan bereaksi dengan gas Karbondioksida yang berasal dari nafas kita, dan kemudian akan menghasilkan atau membentuk senyawa asam karbonat (carbonat acid) yang bersifat asam, dengan rumus kimianya : air (H2O) + gas Karbondioksida (CO2) = asam karbonat (H2CO3). Perlu kita tahu, bahwa di dalam darah, sudah terdapat H2CO3 yang berguna untuk mengatur pH (tingkat keasaman) dalam darah.

Darah adalah Buffer (larutan yang dapat mempertahankan pH), dengan asam lemahnya berupa H2CO3 dan dengan basa konjugasinya berupa HCO3+, sehingga darah memiliki pH sebesar 7,35 – 7,45. Tubuh menggunakan penyangga pH (Buffer) dalam darah yang berguna sebagai pelindung terhadap perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam darah, Adanya kelainan pada mekanisme pengendalian pH tersebut, bisa menyebabkan salah satu dari kelainan utama dalam keseimbangan asam basa, yaitu asidosis (suatu keadaan dimana darah terlalu asam dan terlalu sedikit mengandung basa) dan hal ini sering menyebabkan menurunnya pH darah atau menyebabkan kelainan alkalosis (suatu keadaan dimana darah terlalu banyak mengandung basa atau terlalu sedikit mengandung asam).

Kembali lagi ke permasalahan awal, jika makanan dan minuman yang sebelum dikonsumsi telah ditiup terlebih dulu, maka akan menghasilkan asam karbonat (H2CO3) dari hasil reaksi kimia CO2 + H2O. Hal ini menyebabkan tingkat keasaman dalam darah kita meningkat, sehingga akan menghasilkan suatu keadaan dimana darah kita akan menjadi lebih asam dari seharusnya, yang menyebabkan pH darah menurun, atau disebut asidosis. Jika pH darah menurun, maka pernafasan kita menjadi lebih dalam dan lebih cepat, sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan cara menurunkan jumlah gas Karbondioksida dalam darah. Hal ini akan menyebabkan ginjal juga berusaha mengkompensasi keadaan tersebut dengan cara mengeluarkan lebih banyak asam dalam air kemih.

Tetapi kedua mekanisme tersebut tidak akan berguna jika tubuh terus-menerus menghasilkan terlalu banyak asam, sehingga terjadi asidosis berat, karena selalu mengkonsumsi makanan dan minuman yang ditiup dulu sebelum masuk mulut. Sejalan dengan memburuknya asidosis, penderita mulai merasakan kelelahan yang luar biasa, rasa mengantuk, semakin mual dan mengalami kebingungan. Jika asidosis semakin memburuk, tekanan darah dapat turun yang menyebabkan syok, koma dan bahkan kematian.

Tanpa disadari pula oleh kita bernafas didalam gelas dan meniup makanan atau minuman yang panas, merupakan larangan yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw, berdasarkan hadist dibawah ini :

”Rasulullah saw telah melarang bernafas di dalam bejana (wadah) atau meniup air di dalamnya”. Hadits riwayat At-Tirmidzi

Hasilnya terbukti ilmiah bahwa ternyata larangan yang diterapkan Nabi Saw sejak 14 abad lalu ini mengandung hikmah dalam ilmu pengetahuan yang baru diteliti di era kontemporer-modern sekarang ini. Sungguh sangat mulia ajaran dari Rasulullah agar kita meminum air seteguk demi seteguk (antara dua tegukkan dijeda dengan nafas), dan meminum air satu gelas dengan tiga kali tegukkan. Sebab hal ini lebih memuaskan rasa dahaga dan lebih menyehatkan tubuh. [Novitri Ainiyyah]

Comments

comments