Tips Meraih Kecerdasan Emosi

Ilustrasi. (Istimewa)

Setiap manusia pasti pernah marah. Sebab itulah sudah fitrah yang diciptakan sang maha pencipta. Namun jika marah berlebihan dan tidak dapat dikendalikan tentu akan merugikan. Belum lama kita mendengar berita yang viral seorang ibu yang marah dan tidak bisa mengontrol amarahnya ketika ditilang oleh polisi, seorang ibu tersebut malah balik menggigit tangan pak polisi karena tidak rela ditilang. Banyak saat ini yang viral karena masalah tidak bisa mengontrol emosinya.

Lalu sebenarnya bolehkah kita marah? Apakah ada marah yang membangun? Dan bagaimana cara mengendalikan dan memanajemen emosi?

Emosi seringkali diartikan oleh masyarakat luas disamakan dengan marah. Padahal emosi bukan hanya marah. Beberapa tokoh mengemukakan pengertian tentang macam-macam emosi. Menurut Descrates, emosi terdiri dari : hasrat, benci, sedih, heran, cinta, dan kegembiraan. Sedangakan menurut JB Watson membagi emosi menjadi 3 macam yaitu, ketakutan, kemarahan, dan cinta.

Jadi kebanyakan orang memiliki persepektif yang salah tentang emosi. Emosi tidak hanya marah, namun memiliki banyak arti. Orang sering kali beranggapan emosi itu sebagai kondisi yang negative, padahal tidak seperti itu. semua emosi adalah pemberian Tuhan kepada kita, jadi sekarang hilangkan perbandingan sifat dan pikiran tentang kata-kata “emosi positif dan emosi negative”. Tetapi ubahlah dengan kata “Emosi yang menyenangkan dan tidak menyenangkan”.

Emosi tidak bisa dihilangkan, namun emosi perlu dikelola. Dari semua emosi yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan perlu dikelola dengan baik. Yang negative pun perlu dikelola secara bijak. Contohnya, rasa bersalah, cemas, benci dan sebagainya. Ketika kita bersalah hal yang perlu kita lakukan bukanlah terpuruk dengan suatu keadaan tersebut, kita harus mencari sumber masalahnya, lalu mencari cara untuk menyelesaikannya. Disinilah perlu managemen emosi yang baik. Jangan sampai salah mengambil keputusan. Karena ada banyak sebab seseorang tidak dapat mengendalikan emosinya.

Contoh emosi yang membangun misalnya ketika seorang ibu melihat anaknya sedang menangis, lalu ibu tersebut berkata “jangan nangis nak”. Sebab anak tersebut nangis pasti karena ada rasa sedih di dalam hatinya. Dan mengekspresikan kemarahan, kesedihan, atau keinginannya itu dengan cara menangis. Itulah cara seorang anak dalam mengendalikan emosi untuk mendapat perhatian dan empati dari orang sekitarnya. contoh lain ketika guru sedang marah didalam kelas, biasanya kalimat-kalimat yang diucapkannya reflex merupakan kalimat motivasi yang dapat membangun dan menyadarkan muridnya. Tak terkecuali marah tersebut merupakan marah yang membangun dan bisa merubah seseorang menjadi lebih baik.

Ada kutipan menarik dari seorang Aristolate “marah bukan suatu yang buruk, marah itu gampang, marah itu mudah, tetapi marah dengan orang yang tepat, dengan kadar yang tepat, pada saat dan tujuan yang tepat serta dengan cara yang benar itu yang sangat sulit”.

Terjawab sudah bahwa marah itu boleh-boleh saja, asal dengan kadar, tempat, dan waktu yang tepat. Perlu dipahami untuk menjadi cerdas emosi tidak semudah membalikan telapak tangan. Suatu hal yang mudah diucapkan namun dalam praktiknya sulit dilakukan. Semua emosi perlu dilatih dan di asah terus, perlu belajar bijaksana dalam menyikapinya.

Seseorang memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengatasi emosionalnya. Ada yang dengan cara menangis, teriak, memukul, membantingkan sesuatu dll. cara tersebut memang ampuh bagi sebagian orang. Namun perlu dipikirkan akibat dari pelampiasan itu. Ada tipe orang yang memendam kemarahannya dengan diam, menutupi dan memendamnya sendiri, ini bukan cara yang baik. 3 tips cara terbaik mengelola semua jenis emosi terutama marah adalah harus menyelesaikan sumber masalahnya, harus ada energy berupa relax, tidak boleh tegang dan terburu-buru, dan alihkan ke hal-hal lain yang positif.

Marah itu mahal. Why? Karena banyak orang yang marah itu bisa menjerumuskannya kedalam kerugian. Misalnya, ketika dia marah dengan seseorang lalu dipendam perasaan itu hingga rasa kesal yang memuncak dan mengakibatkan stress untuk dirinya sendiri. Itu sebuah kerugian besar. Orang yang gampang marah dapat menurunkan IQ, daya tahan tubuh, dan fungsi organ tubuh yang lain. Marah yang tidak terkendali juga dapat merusak hubungan, baik hubungan keluarga, partner kerja, partner hidup dll. Marah bisa menjadi mahal, ketika kita merasa terganggu dengan sebuah keadaan dan terjebak pada perasaan kesal, benci atau yang lain. Tidak bisa tidur, tidak bisa focus, tidak bisa mengambil keputsan yang tepat dan masih banyk lagi.

Tips meraih kecerdasan emosi

Ubah cara berfikir, cara berfikir adalah factor utama yang dapat mempengaruhi emosi. Lebih banyak berbaik sangka, dan meminimalisir berburuk sangka terhadap apapun. Mengubah dari suatu yang marah menjadi positif. Misalnya ketika sedang dalam perjalanan, terjebak macet karena banyanya angkutan umum yang parkir sembarangan atau berhenti mendadak. Positif thingking yang perlu dilakukan, mungkin driver tersebut sedang mengejar setoran, mencari penumpang, dan sedang membutuhkan uang sekali.

Konversikan ke luar, bisa dengan menulis diary, bernyanyi, teriak atau apapun. Ada sebuah penelitian yang mengungkapkan dengan bernyanyi, emosi akan terbawa. Manfaat meluapkan emosi, menegaskan dan melindungi hak kita, menyatakan keinginan kita, membuat orang lain tidak semena-mena.

Tanamkan dalam pikiran bahwa “orang yang menyakiti, yang kita anggap menimbulkan masalah adalah ciptaan Allah SWT untuk membutku dewasa. Dia lah yang dipinjam-Nya untuk membuatku dewasa. Dan akupun sering dipinjam-Nya untuk membuat orang dewasa. Karena takdir manusia saling mengasah, mengasuh dan memberikan pelajaran.

Marah dengan keadaan adalah suatu hal yang wajar, namun jangan terlalu lama untuk keluar dari zona tersebut, cukup ambil pelajaran yang baiknya dengan pengembalian yang baik. Mulailah bagaimana menghadapi emosi diri sendiri, untuk bisa belajar memahami orang lain. Tenangkanlah pikiran, jaga hati, hadapi hidup ini dengan penuh rasa syukur. Siapa yang bisa mengendalikan emosi, dialah pemenangnya. (Lulu Rizkiya Fajrin)

Comments

comments