Peluncuran Novel “Tanpa Kata”, Menyoal Lenyapnya Komitmen Kaum Milenial

Berangkat dari kegelisahan akan hilangnya nilai komitmen di kaum milenial saat ini, novel “Tanpa Kata” karya Prof. Dr. Endry Boeriswati diluncurkan hari ini dihadapan 200 orang akademisi dan mahasiswa di Kampus UNJ Rawamangun. Tampil sebagai pembedah buku, Fahmi Idris (Politisi Senior Golkar/Dosen Pascasarjana UNJ) dan Helvy Tiana Rosa (Novelis/Dosen UNJ) yang dipandu Dr. Fathiaty Murtadho. Ikut hadir pimpinan UNJ, dosen JBSI UNJ, alumni, dan mahasiswa.

Novel “Tanpa Kata” mengisahkan drama cinta segitiga sebagai realitas kehidupan yang kompleks. Dalam cinta ada pengkhianatan, dalam cinta ada pula kesetiaan. Namun cinta, tetap membutuhkan komitmen. Komitmen adalah kesetiaan. Maka komitmen harus terkatakan, bukan komitmen tanpa kata.

“Novel ini saya tulis bukan sekedar hiburan. Tapi untuk direnungkan. Karena banyak orang sekarang hidup tanpa komitmen, tanpa kata. Kisah cinta segitiga yang mengharu biru dalam novel ini hanya media. Untuk menyampaikan pesan hilangnya komitmen, tanpa kata-kata” ujar Prof. Dr. Endry Boeriswati di sela acara peluncuran.

BACA JUGA:  26 Finalis Abang Mpok Depok 2018 Diharapkan Mampu Kembangkan Sektor Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Depok

Novel yang berlatar riset ini pun memberikan kebebasan pembaca untuk menafsirkan cerita dari fakta yang ada. Hal ini di sengaja atas dasar kaum milenial tidak bisa dicekokin dengan pesan yang ada dalam novel. Pesan yang diapresiasi sangat bergantung pada tingkat literasi dan sudut pandang pembaca. Maka wajar, penulis pun menabrak pakem dan kaidah penulisan novel pada umumnya. Sederhananya, liarkan pikiran aturlah perilaku.

“Novel ini menyajikan paradigm baru dalam berpikir dan bertindak. Tidak happy ending dan sangat kompleks. Namun ceritanya dikemas penuh dengan makna” ujar Fahmi Idris.

BACA JUGA:  Rabbani Gratiskan Belanja Selama Setahun Untuk Zohri

Boleh jadi, novel “Tanpa Kata” menjadi salah satu karya sastra yang dihadirkan atas kekuatan logika, bukan seni. Karena konteks dan setting cerita justru menampilkan premis-premis yang harus dipikirkan untuk dicari jawabannya.

“Buat saya, karakter tokoh yang disajikan dalam novel ini cukup jeli dan merepresentasikan kaum milenial. Novel yang lahir dari akademisi seperti in harus diperbanyak. Karena pasti ada pesan yang beda untuk pembacanya: ujar Helvy Tiana Rosa.

Dengan diluncurkannya novel “Tanpa Kata”, penulis berharap pembaca di Indonesia khususnya kaum milenial bisa merefleksi kembali akan pentingnya nilai komitmen. Karena komitmen adalah janji; janji pada diri kita sendiri atau pada orang lain yang tercermin dalam tindakan.

BACA JUGA:  Dompet Dhuafa dan Shopee Salurkan Donasi untuk Anak Indonesia

“Inilah novel curahan hati saya. Karena saat ini makin banyak orang yang tidak punya komitmen. Maka orang lain pun menjadi korbannya. Komitmen itu pengakuan seutuhnya setiap manusia, sebagai cerminan sikap dan watak dalam diri seseorang” tambah Endry Boeriswati.

Penulis berharap, kehadiran novel “Tanpa Kata” bisa memberikan alternatif paradigma dalam bersastra. Sastra yang berbasis logika, bukan hanya perasaan atau seni. Seperti yang tersaji di bagian akhir cerita novel ini:

“Komitmen adalah kumpulan huruf menjadi kata. Komitmen tidak hanya dieja. Komitmen adalah setia. Dan, bila tanpa kata, tak akan bisa setia.”

Comments

comments