Menghadirkan Malu, Menyempurnakan Amal

Ilustrasi. (Istimewa)

Saat ini fenomena tiktok, musically dan lain-lain menjadi sangat popular di kalangan generasi muda. Demi popularitas mendapatkan banyak like, follower dan subscribe akhirnya generasi muda berani pamer eksistensi dan narsisme sehingga mereka kehilangan rasa malunya. Banyak video yang mereka buat tapi malah melecehkan agama salah satunya video yang sedang shalat tapi diikuti dengan joget-joget. Astaghfirullah.

Mereka melakukan hal seperti itu karena, pertama, mereka hanya memikirkan bagaimana jadi terkenal dan popular, sebab setelah populer berdatangan hal lain yang diimpikan berupa dunia dan isinya. Kedua, generasi yang lebih mementingkan eksistensi daripada isi, mati-matian mengikuti hal yang lagi trending dibandingkan menyiapkan bekal hidup dan mati. Ketiga, hilang rasa malu yang penting eksis.

Padahal, dalam hadits Rasulullah, dinyatakan “Malu adalah salah satu cabang dari iman.”(HR. Bukhari Muslim) Begitu juga Imam nawawi dalam riyadhush shalihin menulis bahwa para ulama pernah berkata, “hakikikat dari malu adalah akhlak yang muncul dalam diri untuk meninggalkan keburukan, mencegah diri dari kelalaoan dan penyimpangan terhadap hak orang lain.”

Abu Qasim Al-Junaid mendefinisikan kalimat “sifat malu adalah melihat nikmat dan karunia sekaligus melihat kekurangan diri, yang akhirnya muncul dari keduanya suasana jiwa yang disebut dengan malu kepada Sang Pemberi Rezeki.”

Maka, malu adalah bagian dari akhlak. Jika kita melakukan kebaikan maka jangan malu untuk melakukannya. Namun jika hal yang kita lakukan adalah keburukan maka malulah untuk melakukannya.

Seharusnya yang generasi muda lakukan agar tumbuh rasa malu dalam melakukan keburukan yaitu dengan melihat semua karunia yang Allah berikan kepada kita mulai dari nikmat melihat, mendengar dan lain sebagainya. Juga harus menyadari akan kekurangan kita karena sudah banyak mengingkari nikmat yang Allah berikan.

Untuk menghadirkan malu dan bisa menyempurnakan amal, harus senantiasa ingat sama Allah. Yang menjadikan mati dan hidup, hanya Dialah Sang Pencipta, Allah semata. Maka, sempurnakanlah amal kita menjadi ihsanul amal/amal yang terbaik. Ihsanul amal akan menjadikan semua aktivitas yang kita lakukan ikhlas hanya karena Allah dan sesuai hukum Allah.

Dalam berdakwah juga kita boleh eksis dengan menggunakan aplikasi tiktok, karena hukumnya mubah namun kita harus memahami hukum-hukum yang terkait dengan sistem pergaulan seperti hukum berinteraksi dengan lawan jenis, interaksi pria dan wanita diatur dalam Islam, yaitu ada pembatas pertemuan, menjaga pandangan dengan menundukkan sebagai pandangan dan hindari pertemuan yang lama dan sering, sebab bisa melemahkan sifat malu dan menggoyahkan keteguhan jiwa. Khusus wanita, memakai pakaian yang syar’i tidak memakai wewangian, batasi diri dalam berbicara dan menatap, serta jaga kewibawaan dan beraktivitas. Perhatikan gaya bicara. Jangan genit!

Dengan memahami hukumnya, maka aktivitas kita senantiasa akan menghantarkan pada tujuan akhirat dengan husnul khatimah. Karena manusia akan dilihat pada saat dia meninggal dan semua itu ditentukan dengan apa yang kita lakukan hari ini. Karena sebenarnya, dalam menggunakan tiktok dan media sosial lainnya boleh saja, karena yang salah bukan aplikasinya namun bagaimana kita memanfaatkan aplikasi tersebut untuk tujuan hidup yang sesungguhnya. Aplikasi tiktok dan lainnya seharusnya dimanfaatkan untuk dakwah mencerahkan umat dan dapat pahala.

Agar generasi muda kita saat ini tetap eksis tapi tidak keluar dari hukum Islam, maka harus ada kerja sama dari individu Muslim yang bertakwa, kontrol dari masyarakat yang selalu mengingatkan dalam pelaksanaan syariat dan adanya penegakan hukum syariat oleh institusi negara. Yang paling penting adalah peran penguasa/pemerintah dalam mengatur masyarakat dengan syariat Islam serta memberdayakan potensi pemuda untuk kesempurnaan amal sebagai seorang muslim menuju kebangkitan Islam.

Dan seharusnya pemerintah juga harus membatasi aplikasi yang merusak generasi muda. Harus ada ketegasan hukum jika ingin melahirkan generasi muda yang berakhlak Islam. Pemerintah harus mendukung penuh untuk kebaikan umat. Jika tidak ada dukungan penuh dari pemerintah maka masyarakat, generasi muda akan rusak karena tidak terpeliharanya rasa malu di antara mereka.[]

*Ditulis oleh: Siti Mawadah, Kordinator Komunitas Yuk Ngaji Depok

Comments

comments