Dear Mahasiswa, Agar Keuanganmu Tetap Sehat Ini Tipsnya

Ilustrasi. (Istimewa)

Dewasa ini gaya hidup konsumtif sudah mulai masuk dalam dunia anak muda Indonesia. Gaya hidup konsumtif menjadi salah satu hal yang lumrah untuk memenuhi gaya hidup yang hedonisme. Bukan tanpa alasan, kemajuan zaman menuntut setiap orang untuk mencari segala cara untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan di zaman modern ini. Tetapi perilaku tersebut bagi seorang muslim sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Sebagaimana tertulis didalam dalam Al-Qur’an Surah Al-Israa ayat 27. “Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan sangat ingkar kepada Tuhannya.”

Gaya hidup konsumtif ini pun terjadi di kalangan anak muda khususnya para mahasiswa. Tak bisa dipungkiri, saya pun sebagai seorang mahasiswa mengalami hal ini sebagaimana mahasiswa yang lainnya. Hal ini bisa menjadi sebuah penyakit yang menular dan juga tidak, tergantung bagaimana kondisi lingkungan kita beraktifitas.

Terkadang ada kawan yang mengeluh dengan pengeluaran keuangan nya yang dianggap tidak sehat. Rupiah demi rupiah yang ia dapatkan tiap bulannya seperti hilang begitu saja tanpa ada jejak yang membekas. Kondisi seperti ini bisa jadi terjadi di sebagian besar kehidupan mahasiswa. Namun, kondisi ini bukanlah suatu penyakit yang sulit untuk diatasi. Disini manajemen keuangan perlu di aplikasikan oleh seorang mahasiswa, utamanya dalam membuat Rencana Anggaran (Cashflow Management) untuk anggaran sehari, seminggu, ataupun sebulan kedepan. Akan tetapi langkah secara umum, kita dapat mulai menyisihkan uang (menabung) 10-30% dari uang saku perbulan kita untuk memulai gaya hidup yang tidak konsumtif lagi.

Mengutip dari buku “Ladies, Belanjakan Saja Semua Uangmu!” yang ditulis oleh Ai Nur Bayinah, SEI, MM. (Perencana Keuangan & Dosen Akuntansi Syariah), ada 2 dari 3 model manajemen keuangan keluarga yang tertulis dalam buku tersebut yang dapat di aplikasikan. Khususnya dalam manajemen keuangan pribadi mahasiswa.

Manajemen Amplop

Model yang pertama ini dirasa bisa menjadi salah satu cara dalam mengatasi persoalan keuangan mahasiswa. Manajemen keuangan ini dipopulerkan oleh Aidil Akbar, seorang perencana keuangan muda yang canggih dan telah berpengalaman membantu banyak orang menyelasaikan persoalan keuangan dengan efektif.

Kita hanya perlu membagi amplop ini menjadi tiga amplop. Yang pertama amplop merah diisi dengan nominal uang bulanan kita 10-20%. Amplop ini ditujukan untuk invetasi jangka panjang, seperti untuk persiapan melanjutkan studi kita. Selanjutnya amplop kuning diisi dengan 20-30% uang saku yang kita miliki. Tujuannya adalah untuk tabungan dana darurat, seperti saat sakit (jika jauh dari orang tua), dana untuk wisuda dan kebutuhan sifat lainnya yang bersifat jangka pendek. Terakhir, amplop warna hijau digunakan untuk kebutuhan bulanan mahasiswa, seperti makan, minum, transportasi, kost, dan lainnya.

Metode amplop ini diyakini mampu mendisiplinkan pengeluaran kita, apalagi pengeluaran yang sifatnya bulanan. Namun, menurut perencana keuangan lain memberikan saran ada cara yang lebih mutakhir dalam menjaga keuangan bulanan kita. Yaitu mengganti amplop tersebut dengan rekening-rekening di bank karena rentan rusak dan hilangnya amplop yang kita gunakan. Tetapi, semua ini kembali lagi pada pilihan kita dalam mengelola keuangan pribadi kita sebagai mahasiswa.

Manajemen “Beda Dompet”

Model manajemen ini dirasa cocok untuk mereka yang menekuni usaha nya di bangku kuliah. Tak sedikit dari mahasiswa saat ini yang melakukan usaha ia sedang pada masa kuliah. Jiwa-jiwa entrepreneurship muda mulai memasuki dunia para mahasiswa. Namun, adakalanya mereka masih selalu menggabungkan antara uang bulanan mereka dengan uang hasil usaha yang mereka dapat setiap bulannya. Tidak sedikit yang pada akhirnya berhenti menjalankan usaha mereka yang jalani karena berpikir tidak balik modal.

Beberapa faktor yang membuat bisnis yang kita jalani tidak balik modal adalah karena kita masih menyatukan pendapatan bisnis dengan uang bulanan yang dimiliki dalam satu dompet. Akhirnya, kita tidak mampu membedakan mana uang untuk modal bisnis yang harusnya diputar dan mana uang untuk membeli kebutuhan pribadi.

Ada beberapa tips untuk mengatur keuangan kita, utamanya untuk kalian yang memiliki usaha.

  • Pisahkan dompet usaha dengan dompet pribadi
    Jika bentuknya rekening, gunakan rekening yang berbeda dengan rekening pemasukan dari penghasilan lainnya. Buatlah rekening usaha sendiri.
  • Buat pencatatan
    Setiap transaksi dan kegiatan keuangan lainnyan yang terjadi dalam kegiatan usaha, baiknya dilakukan pencatatan terpisah dengan transaksi dan kegiatan keuangan pribadi. Gunakan buku catatan yang berbeda atau membuat catatan file tersendiri untuk mencatat keuangan usaha kalian.
  • Hindari mencampur belanja pribadi dengan belanja bisnis
    Jika tidak dapat dihindari untuk melakukan kegiatan belanja bersamaan karena di anggap lebih efisien, maka baiknya kita segera lakukan pencatatan terpisah saat di rumah. Jangan menunda untuk melakukan pencatatan ini, karena khawatir kita malah lupa dengan pengeluaran kita.
  • Kembali ke posisi
    Jika terlanjur tercampur uang bulanan pribadi kita dengan uang usaha secara tidak sengaja, maka segera kembalikan uang pada posisi semula. Kondisi ini bisa terjadi misalnya, jika uang bulanan kita tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kita menggunakan uang usaha sebagai talangan. Setelah dapat ganti uang bulanan, segera masukkan kembali uang usaha yang terpakai sebelumnya.
  • Disiplin
    Disiplinlah melakukan hal ini karena dengan melakukan pemisahan ini secara konsisten kita dapat mengelola antara keuangan bisnis dengan keuangan pribadi kita. Tidak lupa juga untuk mengevaluasi setiap bulannya terhadap pencapaian bisnis dan keuangan pribadi, sehingga menjadi teratur.

Itulah beberapa metode manajemen keuangan yang telah dipaparkan diatas kiranya dapat membantu sehatkan kembali keuangan kalian sebagai mahasiswa. Semua bisa kita atasi jika kita ada kemauan untuk merubah pola hidup konsumtif menjadi lebih teratur dalam pengeluaran keuangan.

(Ditulis oleh : Nailah/Mahasiswa STEI SEBI semester 5, Penerima Beasiswa SDM Ekspad 100%)

Comments

comments